Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Kala Pohon Terlarang Membuat Hati Terluka

0
100 views
Adam dan Hawa by Ist

Kej 3:9-15.20

ORANG bijak berkata, “semua barang yang dilarang oleh Tuhan untuk dipegang, diraba, dimakan, diambil dan dibawa pulang tanpa sepengetahuan-Nya, dibuat di tempat yang sembunyi dan semuanya terhidar dari mata-Nya adalah barang nikmat.

Namun menariknya, semua barang-barang yang nikmat ini, tersandera banyak pasal larangan. Kendati dijerat oleh banyak pasal larangan, manusia tetap melanggar”.

Dan hampir semua barang-barang kenikmatan ini, disembunyikan dan ditempatkan di tengah-tengah kehidupan manusia.

Mengapa Tuhan Allah membuat dan memberi kemasan yang menarik dan menggoda kepada barang-barang “terlarang” ini?

Apa maksud Dia, menempatkan barang-barang “terlarang” ini “di tengah-tengah taman” kehidupan manusia? Apakah itu, dirmaksudkan untuk menguji iman dan ketaatan manusia?

Sangat mungkin.

Kadang bagi manusia, sikap menahan diri terhadap keinginan untuk memiliki barang-barang “terlarang” ini, bisa menjadi tekanan di satu sisi, tetapi di lain sisi tidak menghilangkan rasa penasaran dan rasa untuk mencicipi.

Semakin barang-barang larangan ini, diberi fatwa larangan oleh Tuhan, semakin orang berupaya mencari celah untuk melanggar.

Kisah Adam dan Hawa di ornamen ukiran Gereja Katedral St. Gema Galgani di Ketapang, Kalbar. (Mathias Hariyadi)

Tidak sedikit orang mengatakan, “aturan dibuat supaya ada yang melanggar lalu ditilang”. Delik dan pengaduan itu, hanya bisa diuji dari apa yang dilanggar sehingga dia bisa ditilang.

Dalam hal ini, Adam dan Hawa adalah bukti konkrit dari manusia yang tidak bisa menahan diri terhadap godaan kenikmataan duniawi. Akibat dari sikap ketidaksabarannya itu, mereka menjadi orang pertama yang ditilang oleh Allah.

Mengapa mereka “ditilang” oleh Allah? Karena mereka melanggar rambu-rambu lalu lintas dari Allah. Mereka tidak bisa sabar menahan diri untuk menyantap buah dari pohon terlarang. Mereka mencuri buah pohon terlarang.

Sikap instan keduanya untuk segera menyantap buah terlarang ini, malah menoreh luka di dalam diri Allah.

Anehnya, ketika Allah meminta pengakuan, keduanya malah sibuk mencari “kambing hitam”.

Yang satu bilang karena si B dan yang si B bilang karena si C….tidak ada yang bilang aku salah.

Semua tidak mau disalahkan. Sedihnya, semua kesalahan mereka dilemparkan kembali kepada Allah.

Inilah tragedi pembelaan paling krusial sepanjang peradaban hidup manusia.

Leluhur kita ini, telah mendeklarasikan diri mereka pada-publik sebagai seorang rasionalis sejati. Mereka adalah perintis pertama yang bisa mengadili dan menyalahkan Allah sebagai pihak yang melanggar penciptaan.

Mereka mau menghukum Allah. Sesuatu yang ironi bukan?

Betul kata orang bijak, “bila dalam kehidupan manusia itu tidak ada waktu dan ruang untuk berdiam diri, maka dia tidak bakal bisa mengenal dan memahami siapa dirinya? Dia pelupa atau amnesia”.

Untuk menangkal lupa dan pikun tersebut, kita mesti merawat ingatan dengan berdiam diri, berdoa, membaca, berefleksi dan menulis.

Renungan: Apakah larangan untuk makan buah dari pohon terlarang ini, turut menggoda imanku?

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here