Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Mat 20:17-28 Ayo, Kita ke Yerusalem

0
87 views
Yerusalem dengan pemandangan Dome of the Rock. (Mathias Hariyadi)

TUJUAN utama Tuhan Yesus ke Yerusalem adalah memberikan dan menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi umat manusia. Dan untuk itu, Dia mengajak para murid-murid-Nya, untuk bersama-sama pergi ke sana.

Melalui ajakan tersebut, Dia ingin memperlihatkan sisi utama dari kehidupan-Nya kepada murid-murid-Nya yaitu, menjadi teladan bagi orang-orang yang belum bisa menjadi teladan dan yang kehilangan keteladanan.

Keteladanan dalam hal apa yang mau diperlihatkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya di kota Yerusalem?

  • Keteladanan berupa memikul kehendak Allah seperti, menebus dan mengorbankan diri bagi umat manusia.
  • Keteladanan berupa membagi berkat bagi orang-orang susah.
  • Keteladanan berupa pelayanan dengan semangat cinta kasih kepada siapa pun.
  • Keteladanan dalam kesetiaan menjaga sikap dan lidah.
  • Keteladanan dalam hal merasa cukup dan tahu bersyukur kepada Tuhan, dll.

Dalam upaya-Nya untuk memenuhi hal tersebut di kota Yerusalem, Dia mendapat halangan di tengah jalan. Seorang ibu yang lama menyimpan kesadaran lain, menaruh harapan besar kepada-Nya.

Ibu yang kedua orang anaknya sudah dijadikan murid oleh Tuhan Yesus, keburu-bur datang kepada-Nya meminta jatah menteri buat kedua anaknya supaya bisa duduk di ring satu bersama dengan Yesus. Yang gini-ginan, sama dengan yang dilakukan oleh partai politik di negeri ini.

Lagi-lagi atas permitaan ibu, terjadi kegaduhan di komunitas Tuhan Yesus. Rupa-rupanya, mereka yang hidup di dalam bersama dengan Tuhan Yesus tidak memiliki tujuan yang sama dengan-Nya. Para murid-Nya, masih gagal paham dengan tujuan Guru-Nya.

Betul kata orang, “godaan terhadap politik kekuasaan duniawi sangat kuat sekali dan kenikmatannya bisa menyeret siapa pun”.

Sekali lagi, dalam suasana kegaduhan itu, Dia tidak kehilangan keteladanan hidup di depan mereka. Dia tetap tampil sebagai Bapa yang sabar, tidak menghakimi dan bisa memahami nafsu duniawi anak-anak-Nya. Dia tetap tampil sebagai pemberi solusi yang terbaik dan pendamai bagi mereka.

Di sana pula, Dia berkatakese dan berupaya membelokkan tujuan murid-murid-Nya dari yang duniawi kepada yang surgawi. Orang menjadi besar tidak perlu menguras tenaga dan energi demi duduk di kursi kekuasaan duniawi.

Cukup menjadi hamba untuk semua orang, itu lebih bernilai dan lebih besar. Penilaian siapa yang terbesar di dunia manusia akan dia peroleh dari Allah yang menilai. Bukan dari dunia Dia dinilai.

Dengan kata lain, orang besar adalah hamba yang melakukan kehendak Allah.

Renungan: Apakah aku dalam setiap membuat tujuan program kerja, sudah selaras dengan kehendak Tuhan Yesus?

Tuhan memberkati

Apau Kayan, 20.03.2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here