Ignatius Loyola Bicara tentang Allah (1)

0
2,750 views
ignatius loyola

[media-credit name=”google” align=”alignleft” width=”240″][/media-credit]
ignatius loyola
BICARA tentang Santo Ignatius Loyola –terutama kisah pertobatannya hingga akhirnya meninggalkan cara hidup lama dan memeluk cara bertidak baru—sungguh tak lengkap tanpa melihat kisah peziarahan batinnya. Kisah Seorang Peziarah adalah catatan-catatan pribadi Ignatius tentang perjalanan spiritualnya. Romo Ignatius L. Madya Utama SJ –pastor Yesuit yang pernah menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat peziarahan Ignatius Loyola—menulis catatan-catatan pertobatan itu dalam 14 tulisan serial untuk Sesawi.net.

TERNYATA saya sudah 40 tahun menjadi katolik, terhitung sejak saya dipermandikan di Gereja Paroki Klepu, DIY. Waktu itu, ada dua kegiatan yang mesti saya ikuti dalam rangka persiapan pembabtisan.  Pertama, saya diwajibkan mengikuti pelajaran agama selama setahun. Kedua, sebagai anak-anak saya suka membaca buku-buku mengenai kisah para santo untuk memilih nama permandian. Nah, salah satu buku yang saya tekuni membaca adalah riwayat hidup Santo Inigo dari Loyola.  Usai membaca kisahnya, saya memilih nama santo ini sebagai nama babtis.

Kenapa saya tertarik mengadopsi nama Santo Inigo de Loyola sebagai pelindung permandian? Saya punya alasan tersendiri. Pertama, saya terkesan akan keberanian Inigo yang membiarkan dirinya ”dibentuk” oleh Allah. Dari yang semula pendosa yang senantiasa dihantui  rasa salah begitu besar, oleh rahmat Allah dan kesediaannya diolah oleh Roh Kudus, Inigo akhirnya ”bermetamorfose” menjadi orang yang begitu dekat dengan Allah.

Allah macam apa?

Saat saya mulai menulis catatan pribadi ini, ada beberapa pertanyaan yang terus-menerus menghantui saya. Pertama, apakah yang sebenarnya terjadi di dalam hidup Inigo hingga yang dulunya selalu dihinggapi rasa skrupel (perasaan bersalah dan ragu-ragu yang berkepanjangan) hingga akhirnya bisa menjadi seorang ”pribadi baru” yang begitu pasrah-sumarah di tangan Allah? Kedua, siapakah Allah yang diimani oleh Inigo? Allah macam apakah yang menjadi pusat dan tujuan dari seluruh hidupnya? Ketiga, apa sajakah yang telah Inigo lakukan sehingga Allah sungguh menjadi pusat bagi seluruh hidupnya? Keempat, apakah yang dapat kita teladani dari pengalamannya tersebut?

Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas.

Pada bagian pertama, secara ringkas saya paparkan kehidupan Inigo saat masih muda. Ambruknya impian di masa mudanya ternyata sampai membawa Inigo ke dalam sebuah awal peziarahan hidup yang baru akan saya bahas di bagian kedua. Di bagian ketiga saya menyajikan sebuah perjalanan panjang melintasi padang gurun yang harus ditempuh oleh Inigo untuk mengamali sebuah pembebasan. Bukan sekedar bebas ”dari” segala kungkungan, melainkan sebuah peziarahan rohani yang dialami Inigo hingga  membawanya pada sebuah ”tatanan” hidup batin dan semangat yang baru. Topik ini saya bahas di bagian empat. Sedangkan, bagian lima dan enam saya isi dengan deskripsi tentang jalan hidup baru yang ditapaki oleh Inigo hingga membuatnya semakin mencintai dirinya dan sekaligus membantu dia memperoleh gambaran tentang Allah yang baru pula.

Inigo tidak ingin menyimpan pengalamannya imannya bagi dirinya sendiri. Ia ingin membagikannya kepada orang lain. Untuk itulah, Inigo lalu mengenalkan sebuah metode untuk mengenal Allah agar kita dibuat semakin mampu mengikuti kehendak-Nya. Tentang ini akan saya ulas di bagian tujuh dan sebagai penutup saya akan menyajikan beberapa tantangan yang ditawarkan kepada kita semua. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here