Kalpataru Lokal untuk Romo Kristo Tara OFM di Atambua, Timor, NTT

0
151 views
Kalpataru Lokal untuk Romo Christo Tara OFM by JPIC OFM Indonesia

IMAM Ordo Fransikan bernama Romo Christo Tara OFM menerima penghargaan dari Pemda Kabupaten Belu di Timor, Provins NTT, atas karyanya di bidang pelestarian lingkungan hidup. “Kalpataru Lokal” ini diterima Romo Yohanes Kristoforus Tara OFM, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus-Laktutus, Selasa (27/11/2018.)

Demikian berita ringkas tulisan Charles OFM yang muncul di situs resmi JPIC Fransiskan Indonesia.

Penghargaan “Kalpataru Lokal” untuk wilayah Kabupaten Belu itu  diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Belu JT Ose Luan di Kantor Bank Sampah Ai’ Kamelin, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu.

Menurut penilaian Pemda Kabupaten Belu, demikian tulisan JPIC Fransiskan Indonesia, Romo Kristodinilai berhasil menghijaukan bukit Laktutus dengan beragam pepohonan baik untuk bahan bangunan maupun pohon buah-buahan.

Penghijauan itu terjadi di sekitar kompleks pastoran dan gereja serta beberapa tempat lain yang dipercayakan kepada Gereja oleh masyarakat.

Selain penghijauan bukit, imam Fransiskan ini juga dianggap berhasil mengajak masyarakat untuk mengolah kebun yang selama ini dibiarkan begitu saja. Umat diajak pastor agar  menanam sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija secara organik untuk kebutuhan rumah tangga dan juga untuk dipasarkan.

Romo Kristo OFM lahir di Wangka, Ende, Flores, NTT.

Menerima “Kalpataru Lokal” bukanlah target kegiatannya menghijaukan lingkungan. Ini lebih sebagai tanggungjawab moral sekaligus penghayatan spiritualitas Fransiskan atas kewajiban memelihara kehidupan dan sumber kehidupan itu sendiri: lingkungan hidup.

“Yang pertama kesadaran genesis, di mana sejak awal mula manusia hidup bersama dan tergantung pada entitas hidup yang lain. Karena itu, kita mesti bertanggungjawab menjaga dan memelihara setiap entitas hidup, agar kehidupan terus berkelanjutan,” ungkapnya sebagamana ditulis Charles OFM.

Yang kedua, kepeduliannya  itu berangkat dari situasi dunia sekarang yang sedang menghadapi kerusakan massif lantaran efek  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tak terkendalikan yang terjadi secara global.

“Secara global kita melihat, bahwa seluruh dunia sedang menghadapi kerusakan lingkungan hidup yang massif. Bencana ekologis ini persis menusuk jantung kehidupan. Rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi, alih-alih memajukan dunia, justru semakin merusak kehidupan. Kesadaran etis global ini telah menggerakan banyak pribadi dan kelompok untuk bertanggung jawab menyelamatkan dunia dari laju kerusakan masif lingkungan hidup. Kualitas hidup yang baik dengan segala prasyaratnya tidak boleh berhenti pada generasi kita, tetapi harus diwariskan kepada generasi yang akan datang,” paparnya sebagaimana ditulis situs JPIC Fransiskan Indonesia.

Lebih lanjut, Romo Kristo juga menjelaskan alasan spiritual di balik aktivitasnya adalah kesadaran akan peran agama untuk menjaga keberlangsungan hidup alam semesta ini. “Agama-agama tidak boleh menyerahkan begitu saja alam semesta ini pada cara kerja ilmu pengetahuan dan teknologi. Justru agama-agama memiliki peran dan tanggung jawab spiritual dan etis bekerja secara serius untuk menyelamatkan kehidupan,” harapnya.

Terakhir, sebagai seorang Fransiskan, imam yang ditahbiskan tahun 2008 yang lalu merasa bahwa apa yang dia lakukan adalah amanat dari St. Fransiskus.

“Sebagai seorang Fransiskan, saya mendapatkan amanat khusus dari St. Fransiskus Asisi, Pelindung Ekologi untuk selalu peduli, berpihak pada mereka yg miskin dan terpinggirkan, termasuk alam ciptaaan. Spiritulitas Fransiskan mendorong saya dan setiap saudara dina agar terus bekerja keras menyelamatkan alam semesta, terus bergerak dan mengabdi bagi lingkungan hidup,” tegasnya.

Bagi Romo Kristo, “Kalpataru” adalah sebuah tanggungjawab atas kehidupan yang lahir dari aneka kesadaran bahwa hidup yang baik, hidup bersama dengan seluruh entitas kehidupan tidak boleh berakhir di tangan kita yang hidup sekarang ini. “Hidup ini akan terus berlanjut, maka yang harus kita lakukan adalah memperjuangkan hidup yang berkelanjutan,” ucapnya dengan optimis.

Sumber: “Pastor Kristo OFM Terima Kalpataru “Pengabdi Lingkungan Hidup”, JPIC Fransiskan Indonesia(http://jpicofmindonesia.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here