Konsekuensi

0
56 views
Ilustrasi: Toleransi kepada minoritas Tionghoa (Sr. Maria Seba SFIC)

RASA tidak senang bisa menghinggapi setiap orang. Itu wajar dan manusiawi. Adalah tanggung-jawab manusia mewaspadai rasa negatif ini.

Dicampur dengan sentimen suku, agama, ras dan etnis, rasa ini bisa bermetamorfosa menjadi diskriminasi. Tatkala dibiarkan akan mengeras, berubah bentuk seperti intoleransi yang tidak peduli terhadap hak azasi.

“Segala bentuk diskriminasi merupakan penghinaan terhadap martabat manusia dan pelecehan terhadap hidup manusia” (St. Yohanes Paukus II).

Dihinggapi api marah, dendam, iri hati dan sikap benci, rasa tidak senang dapat berkembang sebagai perilaku garang. Menyusup ke dalam pembunuhan terencana.

Itulah rasa tidak senang dan dendam Herodias terhadap Yohanes Pembaptis.

Rasa tidak senang bisa tampak dalam pelbagai manifestasi. Misalnya, berbuat tidak baik.

“Jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip engkau di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”(Kej 4:7b)

Sejak awal Tuhan Allah sudah mengingatkan bahwa manusia perlu mewaspadai diri dan nafsu yang kerap membujuk dan menjebaknya. Rasa tidak senang yang semula wajar-wajar saja tiba-tiba jadi sikap benci dan intoleransi yang berpotensi memecah-belah dan menghancurkan kehidupan bersama dari suatu negeri.

Barangsiapa lengah dalam mengolah rasa tidak senang bisa terperangkap dalam perilaku yang merugikan diri sendiri dan rakyat seluruh negeri. Itu semua hanyalah buah atau konsekuensi dari rasa tidak senang yang dibiarkan.

Betapa pentingnya mengambil langkah prevensi sebelum orang kerepotan menghadapi segala konsekuensi.

Malang, 8 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here