Lentera Keluarga – Menghidupi Indentitas

0
198 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXV. PW. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam 
Senin, 23 September 2019.
Bacaan: Ezr 1:1-6; Mzm 126:1-6; Luk 8:16-18.

Renungan:

“TIDAK ada orang yang menyalakan petila lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki kita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahanyanya.“ Pernyataan Tuhan Yesus yang sederhana dan diambil dari hidup harian ini kaya makna. Jika pelita itu adalah kebenaran hidup kristiani maka Tuhan Yesus menekankan pengikutNya untuk tidak menyembunyikan diri tetapi hiduplah sesuai dengan identitas.  Sikap menutupi dan menyembunyikan itu dilakukan orang jika melakukan keburukan ataupun dosa. Namun jika yang dilakukan adalah kebaikan dan kebenaran tidak perlu  ditutupi entah karena malu atau karena takut. 

Menjadi dan hidup sebagai orang kristen adalah sebuah kebaikan. Tidak ada yang memalukan. Membuat tanda salib, berdoa rosario, membaca alkitab, memasang salib adalah sebuah cara hidup kristen. Kita ingat akan sabda Tuhan  dalam Lukas 9:26 ”Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat  kudus. atau dalam Lukas 12:9 “ Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Kita sebagai orang kristen seharusnyalah bersyukur dan bangga. Kita bangga karena kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita; Kita bangga akan Guru kita yang luar biasa dalam keutamaan hidup; Kita bangga bagaimana Allah dan karyaNya begitu nyata dalam sejarah sebagaimana dalam Kitab Suci; Kita bangga karena Gereja tumbuh dan berkembang serta menjadi berkat bagi kemanusiaan pada jamannya. Hidup kristen tanpa kesaksian bukan kristiani; karena kesaksian yang paling dasar adalah menjadi kristen itu sendiri.  

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana kata-kata Tuhan Yesus bergema bagi para pendengarNya. 

Refleksi:

Apakah aku bangga menjadi orang kristen?

Doa: 

Ya Bapa, syukur dan terima kasih kami boleh menyebut Engkau sebagai Bapa, dan mengikuti Yesus Guru kami yang begitu luar biasa dalam keutamaan hidup serta ada bersama dengan Gereja yang menjunjung tinggi kehidupan dan kebaikan masyarakat tanpa  memandang perbedaan. Amin. 

Perutusan:

Jadilah orang kristen yang dapat dibanggakan oleh Tuhan. 

(Morist MSF)- www.misafajava.org

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here