Lentera Keluarga – Tuhan Sayang Kepada Semua Orang

0
220 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXVI. 
Rabu, 9 Oktober 2019.
Bacaan: Yun 4:1-11; Mzm 86:3-6.9-10; Luk 11:1-4.

Renungan:

BAGI seorang nabi, pertobatan Ninive adalah sebuah kebehasilan besar yang dapat dikisahkan turun temurun. Namun bagi Yunus, pertobatan Ninive justru membuat ia kesal dan marah-marah. Ia marah dan kesal karena kebaikan Tuhan. Yunus justru yang sulit diajak untuk bertobat dan gelap hati. Tuhan menunjukkan kepada Yusuf “..mana mungkin Aku tidak sayang akan kota Ninive yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, dengan ternaknya yang begitu banyak? Padahal mereka itu tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri!”.

Kita kadang tidak terima atas kebaikan dan kemurahan Tuhan bagi orang lain, terutama mereka yang kita anggap telah hidup tidak benar. Kisah ini mengingatkan kita  sikap Bapa terhadap anak bungsu yang datang. Ia membuat pesta dan diprotes oleh anak sulungnya (Luk 15).

Dalam bisnis, rasa tidak senang, iri dan marah, ketika orang-orang yang dulu kita dampingi dan bantu, sekarang jauh melesat daripada kita. Atau anak didik kita, yang kita didik tidak paham-paham, sekarang tahu-tahu ia menjadi seorang motivator atau bisnisman yang tenar. Dalam hidup keluarga juga sama. Kesuksesan pasangan kita dalam usaha, pelayanan atau pendidikan kadang tidak membuat kita bangga dan kadang mencibir atau merendahkan.  Sikap memposisikan diri sebagai rival muncul karena rasa tinggi hati, merasa lebih berhak dan pantas. 

Hendaknya kita mengenakan sikap Allah, yang mengasihi siapapun dan berbahagia atas pertobatan dan kebaikan saudara-saudara kita. Kebaikan mereka adalah kebaikan kita. Kesuksesan mereka adalah kesuksesan kita. Kita bersyukur boleh ikut ambil bagian untuk kebaikan hidup orang lain. Tidak perlu menonjolkan diri; cukup mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan dengan tekun, setia dan sukacita. 

Kontemplasi:

Gambarkanlah suasana hati Yunus dan hati Allah melihat bertobatan bangsa Ninive.

Refleksi:

Bagaimana sikapku terhadap pertobatan dan keberhasilan orang lain? Apakah aku turut berbahagia bersama mereka?

Doa: 

Ya Bapa, semoga kami senantiasa bersukacita dan penuh syukur atas pertobatan dan kebaikan saudara-saudara kami. 

Perutusan:

Bersukacitalah bersama Allah atas pertobatan saudara kita dan kebaikan hidupnya. 

(Morist MSF)- www.misafajava.org

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here