Maria dan Kuasa Pemberian Berkat

0
240 views
Ilustrasi (Ist)

SETELAH Bunda Maria memperoleh panggilan berat Allah, ia bergegas berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

Sebagai perempuan Yahudi yg hamil tanpa kewajaran, ia banyak bergulat. Ia merasa takut, was was bukan hanya dengan Yosef namun dengan laki-laki perempuan sekampungnya. Hatinya diombang-ambingkan antara risau dan bahagia, takut dan percaya.

Namun begitu sampai rumah Zakharia, ia memberi salam kepada Elisabet. Ia tidak datang untuk berkeluh kesah, menyalahkan orang lain, curhat ketegangannya dengan Yosef atau ketakutan akan hukum rajam orang sekampungnya.

Ia adalah berkat, maka kemanapun berada ia menjadi berkat. Seperti Abraham dalam Perjanjian Lama yg diberkati Allah, Maria adalah pemberi berkat:

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yg besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yg memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yg mengutuk engkau dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 12 : 1-3).

Dan ketika Elisabet mendengar salam penuh berkah Maria itu, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. la berseru dengan suara nyaring:

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1: 39-45)

Sebuah perjumpaan penuh berkah. Suasana penuh Roh Kudus, suasana penuh iman. Dari berkah lahirlah berkah, dari manusia pemberi berkat lahirlah kehidupan. Dari berkah bersemilah kehabagiaan, kegirangan, sukacita, penerimaan penuh syukur atas kenyataan hidup yang penuh tanggungjawab sekaligus berat penuh tantangan.

Maria dan Elisabeth hidup dalam tradisi suci Perjanjian Lama, di mana memberi berkat dan mencari berkat adalah kebiasaan yg amat diharapkan. Ucapan berkat pada situasi tertentu dipercaya membawa buah atau mengubah keadaan.

Kita ingat kisah persaingan Yakub dan Esau memperebutkan berkat yang diucapkan Ishak. Mereka percaya ucapan berkat dari mulut orang pilihan Allah sungguh membawa hasil nyata. Seperti kita baca, dengan trik Yakub akhirnya menerima semua berkat yg menjadi milik anak sulung. Dia mewarisi semua berkat Abraham dan Ishak.

Dengan demikian ia menjadi ahli waris nenek moyangnya. Inilah sebabnya Allah seringkali disebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Orang berhati-hati tatkala mengucapkan berkat atau kutuk pd orang lain karna Allah memperhatikan perkataan pemberi berkat dan Allah sering menggenapi dengan tepat apa yg dikatakan mulut orang pilihannya.

Tradisi biblis ini memberi kita kepastian bahwa kuasa di balik berkat itu sungguh luar biasa. Pemberi berkat itu pilihan Allah.

Kita bisa mengartikan berkat dengan beberapa arti.

  • Memberkati itu membuat kudus, membuat utuh. Dengan kata-kata yg diucapkan, kita membuat utuh. Hati yg terpecah utuh kembali, hidup yang tercoreng luka dosa sembuh, masalah yang super berat diletakkan dalam posisi yang tepat. Tentu saja tidak ada yang instan. Ucapan berkat yang penuh mesti sering diingkapkanmenjadi sebuah habitus.
  • Memberkati juga berarti memohon kemurahan Allah untuk situasi tertentu atau keadaan tertentu. Ada salib namun juga ada berkat. Ada penderitaan namun ada kebahagiaan.
  • Memberkati juga berarti mengharapkan sesuatu yang baik atas seseorang atau situasi tertentu.
  • Memberkati berarti membahagiakan serta memakmurkan.
  • Dan memberkati juga berarti menggembirakan, memuliakan dan memuji.

Dengan pengartian ini, amat baiklah kita mengembangkan tradisi memberkati. Kita memberkati orang yang kita kasihi, keluarga, sahabat, teman yang menjengkelkan bahkan musuh yang berniat buruk kepada kita.

Kita memberkati pekerjaan kita, tugas kita, perjalanan kita, studi, bahkan kesulitan dan tantangan kita. Orang Indonesia umumnya kurang terbiasa memberi berkat. Namun perlu ditegaskan, berkat yang terus menerus kita lakukan secara tulus dan percaya pasti akan memberikan berkat pada kita.

Saat pekerjaan kita kurang berhasil, saat kesehatan menurun, kita baiknya jangan mengeluh namun memberi berkat. Saat hendak mengadakan perjalanan, saat hendak membuat perjanjian penting kita memberkati.

Saat seorang istri mengetahui sang suami dalam masalah kesetiaan, ia selalu marah, benci. Suatu kali ia memutuskan untuk memberkati, mendoakan dengan sungguh. Hasilnya suami berubah. Saat pedagang tahu dagangan tertentu lama lakunya, ia memberkati dagangan itu. Tak lama kemudian dagangan itu laku terjual.

Memberkati seseorang, sesuatu atau situasi berarti menjadi berkat kita sendiri. Mengutuki berarti membawa kutuk bagi diri kita sendiri. Bila kita mengutuk sesuatu atau seseorang dalam kehidupan ini, kutuk itu akan berbalik, menyakiti dan menjadi kutuk bagi diri sendiri. Bila kita memberkati, tak ada kuasa yang menyakiti diri kita.

Meski terdengar sederhana, memberkati bukan hal yang mudah. Manusia punya kecenderungan mengutuki termasuk mereka yang makmur dan berhasil. Orang mudah iri hati dan sukses memberkati mereka yg sukses dalam kehidupan.

Orang cenderung mengkritik, mengeluh, bicara jahat mengenai orang lain. Jika kita mengutuki orang yg diberkati Allah, kutuk justru akan berbalik kpd kt.

Bila kita memberkati, kita berhak akan berkat. “Berkatilah siapa yg menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk” (Rom 12 : 14).

“Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati karena untuk itulah kamu dipanggil yaitu untuk memperoleh berkah” (2 Pet 3:9).

Bulan Mei mengingatkan akan Bunda Maria yang memberkati, bahkan memberkati kesulitan dan salib hidup dalam keluarga kudusnya. Di mana pun ia berada ia membawa berkat dan pemberi berkat.

Bulan Maria adalah bulan saling memberi berkat.

Jb Haryo
4 Mei 19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here