Mempertanggungjawabkan Pemberian Tuhan

0
137 views
Uskup KAJ Mgr. Ignatius Suharyo memimpin seremoni acara serah terima tugas dan tanggungjawab sebagai Vikep Kategorial KAJ dari Romo Andang Listya Binawan SJ kepada penggantinya Romo Edi Mulyono SJ.

SEORANG bijaksana berkata, “Berkat yang besar mengandung tanggung jawab yang besar pula.”

Suatu hari seorang bijak yang hidup di sebuah desa didatangi oleh tiga prang bersaudara. Ayah mereka baru saja meninggal dunia. Mereka bertiga bingung terhadap harta warisan yang ditinggalkan oleh ayah mereka.

Karena itu, mereka ingin meminta bantuan orang bijaksana itu untuk membagi harta warisan dengan adil. Sebelum membagi, orang bijaksana itu bertanya, “Kalian ingin saya membagi dengan adil sesuai dengan keadilan manusia, atau keadilan Tuhan?”

Secara serempak, tiga pemuda itu menjawab, “Tentu saja sesuai keadilan Tuhan.”

Orang bijaksana itu membagi harta warisan itu dengan jumlah yang tidak sama. Ada yang mendapat banyak, ada yang mendapat sedikit. Tiga bersaudara itu tidak setuju atas pembagian yang dibuat oleh orang bijaksana itu. Mereka pun protes.

Menurut mereka, pembagian seperti itu tidak adil.

Tetapi orang bijaksana itu berkata, “Bukankah itu yang kita lihat di dunia, ada yang mendapat banyak, ada yang mendapat sedikit? Ada yang jenius, ada yang cukup pandai? Ada yang kaya raya, ada yang sederhana bahkan miskin hidupnya?”

Butuh kebijaksaan

Banyak orang merasa bahwa keadilan itu menurut apa yang mereka inginkan. Keadilan itu diberikan sesuai dengan keinginan hati mereka.

Kalau tidak sesuai dengan keinginan hati, mereka akan memberontak. Mereka tidak mau diperlakukan tidak adil.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk menyadari bahwa keadilan itu bukan sekedar sama rata sama rasa. Tiga orang pemuda itu telah menyerahkan pembagian kepada orang bijaksana itu. Namun mereka tidak mau menerimanya.

Mereka ingin dibagi sesuai dengan keinginan hati mereka. Keadilan itu sebenarnya bukan soal diberi banyak sesuai dengan keinginan hati.

Keadilan itu terjadi, ketika orang mampu mempertanggungjawabkan pemberian yang mereka terima. Orang yang diberi banyak, akan dituntut banyak pula pertanggungjawabannya.

Apa yang kita lakukan dengan apa yang Tuhan berikan menjadi dasar penilaian dari Tuhan. Karena itu, keadilan bukan mengenai jumlah, melainkan manfaat yang didapat dari jumlah tersebut untuk kesejahteraan diri dan sesama.

Orang beriman tentu berani mempertanggungjawabkan pemberian Tuhan untuk menumbuhkembangkan dirinya. Orang tidak mengubur pemberian Tuhan itu ke dalam tanah, karena takut gagal dalam berusaha.

Orang beriman mengembangkan pemberian Tuhan secara maksimal demi kesejahteraan diri dan sesama.

Mari kita terus-menerus menumbuhkembangkan pemberian-pemberian Tuhan bagi diri kita.

Dengan demikian, hidup kita menjadi kesempatan untuk memperjuangkan keadilan bagi diri dan sesama. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here