Mukjizat di Balik Longsor Ziarah Bunda Segala Bangsa Bukit Pena, Mamasa, Sulbar (2)

0
739 views
Umat berziarah ke Bunda Segala Bangsa Bukit Pena, Mamasa, Sulbar (2)

TANGGAL 17 Desember 1987, tahun yang sama dengan peresmian tempat ziarah ini, terjadi bencana alam besar berupa banjir dan longsor di Mamasa.

Lokasi gua Maria juga mengalami longsor. Namun, terjadi mukjizat. Longsor yang terjadi tepat di atas gua hanya mengenai dan menimbun tiang-tiang rumah patung yang terbuat dari pune (batang pakis) dan bola-bola plastik yang menjadi Rosario.

Patung Bunda Maria masih tetap utuh, berdiri di tengah reruntuhan longsor. Ini menjadi kesaksian mukjizat awal dari tempat ziarah ini.

Mukjizat lain adalah kesaksian dari tiga orang anak, ketika gua baru diresmikan. Ketiga anak tersebut tengah melakukan tugas dari Pastor Alex untuk menaruh bunga dan lilin setiap sore kepada Bunda, agar tempat ziarah tersebut selalu dikunjungi.

Ketika ketiga anak ini naik ke gua, tiba-tiba mereka melihat sinar dari arah bagian selatan Bunda.

Anak-anak tersebut ketakutan. Mereka turun dan bertanya kepada orang tua lampu apa yang membuat sinar di gua. Para orang tua heran dan mengatakan tidak mungkin ada sinar, karena saat itu belum ada listrik.

Para peziarah lain juga mengungkapkan mukjizat yang mereka alami setelah berziarah. Ada juga orang sakit dan lumpuh yang datang untuk memohon doa bunda di tempat ini.

kerja bakti segenap umat untuk menyiapkan akses jalan dan lokasi peziarahan.

Pembangunan tahap dua

Januari 1988, mulailah pembenahan gua yang kedua.

Lokasi gua dibersihkan dari sisa-sisa reruntuhan tanah longsor dan untuk bisa diratakan kembali. Pada tahun 1989 mulailah pembangunan gua kedua dari tiang pakis, dinding kaca, dan pada bagian depan ada ukiran dan berbentuk rumah Mamasa.

Tahun berikutnya patung Bunda Maria diganti. Patung kedua ini kemudian mulai diusung dari gereja ke gua pada saat ziarah. Patung tersebut digunakan sampai tahun 1993.

Kemudian pada tahun 1994 dibangunlah gua Maria yang ada di belakang patung besar saat ini oleh Pastor Frans Nipa Pr dengan patung yang baru.

Pembangunan kemudian dilanjutkan secara bertahap oleh para pastor pengganti di Paroki Mamasa.  

Menariknya pada zaman Pastor Frans Nipa berkarya di Mamasa, salah satu fokus perhatiannya dan umat pada masa itu adalah mencari visi dasar Ziarah Bunda Maria. Ini untuk bisa ditempatkan di dalam kerangka utuh dan menyeluruh berkenaan penggembalaan umat Katolik dalam wilayah Paroki St. Petrus Mamasa.

Akhirnya ditemukan permenungan bahwa bagi paroki ini, tempat ziarah di Pena sesungguhnya  merupakan sebuah potensi yang penting dan urgen digarap dalam rangka memberdayakan umat setempat membangun semangat communio (persekutuan).

Menyiapkan segala sesuatunya usai terjadi tanah longsor.

Untuk mewujudkan visi ini dan bersama pengurus Depas, Pastor mulai menyusun  program-program kerja dalam rapat rutin dwi-bulanan. Rapat ini juga sekaligus menjadi “alat bersama” khususnya untuk pembangunan motivasi communio

Beberapa program kegiatan yang diagendakan antara lain: 

  • persiapan ziarah tahunan.
  • pembenahan dan pembangunan ziarah Pena.
  • pembinaan untuk memberikan suntikan “energi baru” bagi para pemimpin, pengantar,  kelompok Orang Muda Katolik (OMK), Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI), Kaum Ibu Katolik (KIK).

Pada masa ini, beberapa perubahan dan pembenahan terjadi di tempat ziarah Pena. 

Pertama, perubahan jadwal ziarah dari bulan Mei ke bulan Oktober. 

Dalam tulisannya Berziarah ke Bunda Maria dan Bersama Dia Menapaki Jalan Salib Puteranya, Menuju Kebangkitan, pada pesta 25 tahun tempat ziarah Pena, Mgr. John Liku Ada’ menulis  latar belakang perubahan jadwal itu. Pada ziarah 9-10 Mei 1992, telah terjadi hujan lebat pada Sabtu malam sehingga pawai lilin batal dilaksanakan. Para peziarah lalu diminta untuk berdoa Rosario di penginapan masing-masing.

Menurut informasi, bulan Mei memang biasanya masih musim hujan di Mamasa sementara bulan Oktober sudah musim kering.

Mempertimbangkan hal ini, dan juga mengingat bahwa pada bulan Mei umat  sudah  terbiasa  berziarah ke  Soppeng, maka beliau mengusulkan agar jadwal  ziarah Pena dipindahkan ke  bulan Oktober. 

Tahun berikutnya usulan itu diwujudkan dan ziarah diadakan pada tangggal 23-24 Oktober 1993.

Kedua, tulisan di bawah kaki patung Bunda Maria tertulis kutipan dari Injil Yohanes: “Inilah Ibumu! (Yoh 19:27) yang sebelumnya tertulis dalam bahasa Spanyol lalu diubah ke dalam bahasa Toraja-Mamasa.

Pada tahun 1993, Mgr. John Liku Ada’ juga pernah mempertanyakan mengapa kutipan ayat tersebut ditulis dalam bahasa asing (Spanyol). Bila benar Maria adalah bunda iman kita, maka bagi kita ia bukan orang asing. Ia salah satu dari kita.

Atas dasar itu, beliau mengajak umat agar pada  ziarah berikutnya agar kutipan dalam  bahasa Spanyol diubah ke dalam bahasa Toraja-Mamasa. Rupanya  ajakan itu ditanggapi secara positif oleh umat Paroki Mamasa.

Ketiga, pembenahan lokasi tempat ziarah Pena.

Memasuki tahun1994 panitia ziarah di bawah pendampingan Bagian Pembangunan Keuskupan (sekarang bernama BP3KAMS) merancang master plan pengembangan lokasi ziarah Pena.

Atas hibah dan pembelian tanah untuk pengembangan lokasi ziarah Pena (pelataran), maka  mulailah diurus sejumlah administrasi dokumen tanah. Kemudian dibeli juga tanah di pinggir jalan raya untuk dijadikan sebagai pelataran dan parkir. 

Di samping gua dibuat panti imam dengan altar permanen. Jalur jalan salib diperlebar, stasi-stasi perhentian dibenahi. Gereja yang menjadi “stasi kebangkitan” dan merupakan akhir dari peziarahan para peziarah bersama Bunda Maria juga dibangun permanen. 

Di sejumlah titik di lokasi ziarah dipasang patung Orang Kudus, sehingga terasa semakin sakral. Selain pelataran gua Maria, berbagai fasilitas pendukung juga dibenahi secara  serius. Sejumlah unit penginapan, lengkap dengan toilet dan kamar mandi dibangun permanen. Halaman parkiran juga terus dibenahi.

Menjelang perayaan 25 tahun tempat ziarah ini, tahun 2012, Pastor Vius Oktavianus Pr mengajak umat untuk menjadikan tempat ziarah ini semakin dikenal masyarakat luas, khususnya di wilayah Kabupaten Mamasa.

Prosesi ziarah zaman dulu.

Maka mulailah pembenahan besar-besaran:

  • alat berat dikerahkan untuk memperluas dan meratakan pelataran gua;
  • jalan dari parkiran menuju gua serta pada jalur jalan salib dibeton,
  • hingga dibangunnya patung bunda setinggi 12 meter, seperti yang ada saat ini
  • selain itu dibangun juga patung-patung perhentian Jalan Salib berukuran skala 1:1.

Perubahan nama

Namun, patung Maria raksasa tersebut merupakan Maria Bunda Segala Bangsa yang berdiri di atas bola dunia. Meskipun bentuk patung Maria berubah, namun Pastor Vius tidak mengganti nama tempat ziarah ini.

Menurut beliau, patung ini mengungkapkan semboyan tempat ziarah ini yang dalam bahasa Mamasa, “itari iamote Indomu” (lihatlah inilah ibumu), dengan bentuk Maria yang mengulurkan tangannya.

Umat juga tidak tahu bagaimana membedakan jenis-jenis patung Maria yang ada dalam tradisi Gereja, sehingga meski patung besar berubah, nama tempat ziarah ini tetap Maria Ratu Pencinta Damai.

Pada perayaan ziarah tahun 2018 barulah ada keputusan dari Bapak Uskup Mgr. John Liku Ada’ bahwa spiritualitas tempat ziarah ini adalah Maria Bunda Segala Bangsa.

Selain sebagai salah satu tempat pengungkapan iman umat, Ziarah Bunda Maria di Bukit Pena juga bisa menjadi salah satu tempat alternatif untuk berwisata rohani di  wilayah Mamasa, Sulawesi Barat. 

Oleh karena itu, pengembangan dan pemeliharaan  tempat  ziarah ini ke depan perlu mendapat perhatian khusus agar menjadi tempat yang representatif bagi para pengunjung  untuk mengungkapkan iman mereka ziarah rohani serta menemukan kesegaran rohani dalam wisata rohani.  (Berlanjut)

PS: Bahan penulisan artikel ini disiapkan oleh Tim Pengembangan Ziarah yakni Pastor Otto Pr, Pastor Antonius Pabendon Pr, dan Pastor Faranskuo Edynto Midun Pr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here