Mukjizat Kekuatan Doa Rosario dan Litani Para Kudus: Kemoterapi Berhasil, Leukemia AML Bablas (3)

1
2,674 views
Ilustrasi: Santo-Santa Orang-orang Kudus dalam Gereja Katolik -- by ist


DI sebuah ruangan perawatan privat di National University Hospital (NUH) Singapore beberapa tahun lalu, Santos –bukan nama sebenarnya– hanya bisa tertunduk lesu.

Bersama isterinya asal Slanden –tidak jauh dari akses jalan masuk ke Sendang Sono–, karyawan sebuah perusahaan besar produksi aneka jenis makanan dan minuman ini hanya bisa berpasrah diri.

Saat itu, bersama isterinya, ia harus menghadapi kenyataan pahit yang tengah menimpa anggota keluarganya. Yakni, anak lelakinya yang nomor dua resmi sudah kena vonis dokter. Ia positif telah mengidap penyakit serius yang berbahaya dan berpotensi mematikan: leukemia ganas alias kanker darah.

Leukemia AML

Santos hanya punya dua anak. Sang sulung sehat-sehat saja. Namun yang bungsu kini harus menjalani perawatan dan pengobatan guna bisa mengikis habis sel-sel kanker dalam darahnya di NUH Singapore.

“Kata profesor di NUH Singapore saat itu, leukemia yang telah mendera anak lelaki nomor dua kami adalah tipe yang jarang terjadi. Jenisnya disebut sebagai leukemia AML (Acute Myelogenous Leukemia) –salah satu jenis kanker darah dan sumsum tulang,” ungkapnya saat ditemui Sesawi.Net di kantornya dalam sebuah sesi perbincangan antar sahabat.

Kisah riil tentang penderitaan anak lelaki keduanya yang terkena sakit kanker leukemia AML itu dia utarakan penuh dengan gejolak jiwa.

Walaupun tidak sampai meletup-letup seperti menit-menit sebelumnya ketika berdiskusi tentang birokrasi gerejani yang kadang ruwet dan lamban, kisah “sejarah manusia” itu rupanya ikut menyedot emosi dan perasaannya sebagai seorang ayah.

“Ingat ya Dik, semangatmu adalah semangat Papa. Dan semangat Papa harus juga menjadi semangatmu …  Semangat juang ini harus kamu hidupi selama menjalani proses pengobatan leukemia dengan menjalani kemoterapi,” ungkapnya dengan pandangan mata sedikit nanar.

Singkat cerita, proses penyembuhan kanker darah jenis leukemia AML itu berlangsung selama enam bulan di NUH Singapore.

Suhu badan tidak panas

Setiap kali menjalani kemoterapi itu, jelas Santos, profesor dokter spesialis ahli kanker darah di NUH Singapore itu selalu saja dibuat “heran” sembari hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ia heran, kenapa proses kemoterapi itu tidak pernah menimbulkan dampak fisik yang biasanya “harus terjadi” pada tubuh pasien, yakni suhu badannya akan panas.

“Lah… suhu badan panas  ini tidak pernah terjadi pada anak lelaki saya nomor dua … Setiap kali usai menjalani kemoterapi, suhu badan dia tetap normal-normal saja,” kata Santos menggambarkan “kebingungan ilmiah” yang harus menerjang benak profesor dokter ahli kanker darah tersebut.

“Profesor itu lalu bertanya kepada saya …’He…, anakmu itu kalian pernah kasih makan atau minum apa? … Kok bisa-bisanya suhu badannya tidak panas usai kemoterapi? … Begitu profesor dokter spesialis ahli kanker darah itu selalu ‘menginterogasi’ kami berdua setiap kali kemoterapi usai dilakukan terhadap anak saya,” papar Santos.

Doa Rosario dan Litani Para Kudus

Semula, Santos tidak ingin bicara tentang kebiasaannya keluarganya sebagai penganut iman Kristiani yang cukup keukeuh memelihara nyala api iman mereka kepada Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Santo-Santa dalam Gereja Katolik.

Namun karena didesak terus oleh profesor dokter ahli spesialis kanker darah di NUH Singapore itu, akhirnya bapak dua anak lelaki yang keduanya kini sudah menginjak usia dewasa ini mulai berani “buka kartu”.

Ilustrasi: Doa Rosario bersama di Plaza Pieta samping Wisma Keuskupan Pontianak.

“Begini Prof …  Kami biasa mengajak isteri dan anak untuk selalu berdoa Rosario plus mendaraskan Doa Litani Para Kudus …,” ungkap Santos penuh keyakinan saat menjawab “kecurigaan” sang profesor dokter ahli spesialis penyakit kanker darah.

Sayang, saya yang mendengar kisah “sejarah manusia” ini di hari Jumat siang tanggal 29 Maret 2019 ini tidak segera bertanya lebih lanjut apakah dokter itu Katolik atau tidak.

Namun, Santos lalu menjelaskan bahwa mendaraskan Doa Rosario plus kemudian Doa Litani Para Kudus itu –kata dia dengan mantap jiwa— “telah ikut menyelamatkan nyawa anak lelaki nomor dua saya.”

Doa “sekampung”

Secara khusus, Santos mulai bicara tentang Doa Litani Para Kudus.

Setiap kali terjadi prosesi penumpangan tangan dalam liturgi misa tahbisan diakon, tahbisan imam, dan tentu saja juga tahbisan uskup, kata Santos, maka Gereja Katolik selalu mendaraskan rumus Doa Litani Para Kudus.

“Sungguh benar hal itu,” kata saya dalam hati.

Tentu harus ditanyakan lebih lanjut: “Mengapa justru mendaraskan rumus Doa Litani Para Kudus? Lalu apa relevansinya Doa Litani Para Kudus itu dengan liturgi misa tahbisan diakon, tahbisan imam, dan tahbisan uskup itu?,” demikian gugat Santos mengajak penulis berpikir lebih lanjut tentang “esensi” iman Kristiani khas Katolik tentang fungsi dan peran “Santo-Santa” dalam reksa iman kita kepada Yesus Kristus.

Santo-Santa itu adalah orang-orang khusus yang terberkati. Dan karena kekudusan hidupnya, mereka itu menjadi “perantara-perantara” kita kepada Tuhan.

“Jadi, ketika kita mendaraskan rumus Doa Litani Para Kudus itu,” kata Santos mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan juga penulis, “maka yang ikut menyokong permohonan kita kepada Tuhan adalah rentetan Santo-Santo yang jumlahnya berjibun …”

Ibarat kata, demikian Santos mencoba ingin membuat ilustrasi, Doa Litani Para Kudus itu bak serombongan supporter yang jumlahnya puluhan atau bahkan ratusan yang secara bersama-sama “membantu kita dari dalam” untuk menghantarkan permohonan-permohonan kita kepada Tuhan.

“Jadi selain melalui Bunda Maria dengan Doa Rosario,” tandas Santos kemudian, “maka melalui rumus Doa Litani Para Kudus itu, para pendukung doa permohonan kami sekeluarga demi kesembuhan anak kedua saya telah  dilakukan oleh serombongan Santo-Santa yang jumlahnya sekampung …”

Tiga tahun “selamat”

Kini, anak keduanya sudah lebih dari tiga tahun telah dinyatakan “sembuh” dari risiko penyakit leukemia AML yang menakutkan dan bisa mencabut nyawa.

Profesor dokter spesialis ahli kanker darah dari NUH Singapore itu sudah sedari awal memberi ancer-ancer “sangat mencerahkan” kepada Santos sebagai berikut.

“Leukemia AML bisa kambuh sewaktu-waktu dalam kurun masa selama dua tahun paska proses kemoterapi,” ujar Santos menirukan omongan dokter.

Kini tiga tahun sudah, anaknya dinyatakan “sembuh” dari serangan sel-sel kanker leukemia AML.

Penyelenggaraan ilahi by Ist

Tapi oleh siapa dan dengan cara apa sel-sel kanker darah itu telah berhasil “dilenyapkan” –entah untuk waktu sementara atau seterusnya—Santos dan isterinya tidak mampu menemukan kata pasti untuk menjawab pertanyaan ini.

“Yang pasti,” ujarnya menirukan petunjuk dokter, “meski dinyatakan sudah oke, namun tetap harus waspada dan hati-hati menjaga makan-minum, istirahat cukup, dan pola hidup sehat.”

Sebagai ayah yang baik dan bertanggungjawab, ia amat tertib mematuhi hal itu.

Namun, jauh dari ketertiban diri mengikuti “aturan medis” yang selalu dia taati untuk dipraktikkan, Santos merasa yakin bahwa di sana telah terjadi “campur tangan” yang tidak bisa dia jelaskan dengan perspektif ilmiah.

“Saya hanya yakin, berkat Doa Rosario itu, Bunda Maria telah menghantarkan doa permohonan kami akan kesembuhan anak saya. Lalu, ikut pula menghantar permohonan akan kesembuhan itu adalah para Santo-Santo yang jumlahnya sekampung itu sebagaimana sering kita daraskan dalam rumus Doa Litani Para Kudus …,” ungkapnya mantap. (Berlanjut)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here