Pasar Ekspresi “Sanggar Anak Alam” di Bantul, DIY

0
321 views
Sekolahnya sederhana dan alami berada di tengah sawah di kawasan Bantul, DIY. (Br. Flavianus Ngardi MTB)

SANGGAR  Anak Alam (SALAM) merupakan salah satu satu sekolah  alternatif  di Bantul Yogyakarta. Sekolah yang berada di tengah sawah ini, tidak jauh dari kota Yogyakarta; hanya berjarak 7,5 km.

Sekolah yang beralamat di Kampung Nitipraya Kasihan Bantul Yogyakarta ini, sangat diminati oleh masyarakat yang memahami pentingnya kolaborasi dalam mendidik anaknya tiap hari. Sabtu tepatnya 21 April 2016,  saya bersama tiga bruder dari Belanda mengunjungi sekolah tersebut.

Kami disambut oleh Bu Wahya, pendiri sekolah tersebut dengan penuh ramah. Kami sangat senang karena para peserta didik sedang mengadakan event yang memikat hati  dan mempesona bagi pengunjung dihari tersebut. 

Para Bruder MTB dari Negeri Belanda sedang mendengar penjelasan dari Bu Wahya, pendiri SALAM.

Pasar Ekspresi

Menurut Bu Wahya, ide-ide untuk pasar ekspresi dimulai sejak 9 September 2016. “Jadi ada dua pasar yang kerap digelar di SALAM Pasar Senin Legi dan Pasar Ekspresi,” tutur mantan murid  alm. Romo Mangun Wijaya ini dengan mantap.

Pasar Senin Legi adalah pasar yang digelar sekitar sebulan sekali, setiap hari Senin Legi dan berproses jual beli dengan mata uang SALAM.”

Di pasar ini para murid berbagi dalam beberapa kelompok, seperti sebagai penjual, petugas kebersihan, petugas keamanan dan pegawai bank. Setiap anak yang ingin menjadi penjual akan mendapat meja dan kursi sebagai lapak tempat mereka memajang dagangan, seperti craft buatan sendiri atau makanan sehat hasil olahan ibu/neneknya.

Sementara Pasar Ekpresi adalah  pasar hasil gagasan orangtua murid beberapa waktu silam. Konsep awal penyelenggaraannya lebih sebagai kegiatan fundraising untuk mendukung kegiatan di SALAM.

Br. Jos MTB dari Negeri Belanda senang melihat kegembiraan siswa-siswa dalam kegiatan di Alam tanpa merasa tertekan.

Berbeda dengan Pasar Senin Legi, Pasar Ekpresi tidak menggunakan mata kuang SALAM dan tidak memiliki jadwal yang pasti. Dalam satu tahun bisa satu sampai tiga  kali diselenggarakan, tergantung kebutuhan.

Di Pasar Ekspresi selain pasar pangan sehat dan produk kreatif, umumnya juga terdapat panggung ekspresi tempat anak-anak berpentas. 

Orangtua menjadi guru

Yudis salah satu staf di sekolah tersebut menceritakan bahwa sekolah ini tidak ada guru seperti sekolah formal lainnya. Kurikulumnya mengikuti fenomena yang terjadi di masyarakat.

Anak-anak diberi ruang kebebasan untuk belajar sesuai dengan skill mereka masing-masing.

Di situ dua kurikulum yaitu: kurikulum alam dan kurikulum elaborasi dari pemerintah, tetapi disesuaikan dengan keadaan atau kebutuhan peserta didik. Guru yang mengajar adalah para orangtua dari berbagai keahlian atau profesinya masing-masing dan juga dibantu oleh tenaga volunteer dari mahasiswa dan dosen di Yogyakarta.

Sekolah yang berdiri sejak tahun 2000 ini untuk menentukan kemajuan belajarnya bukan lewat angka, tetapi melalui hasil karya penelitian mereka di lapangan sesuai tingkat kelasnya masing-masing. Dengan kata lain membicarakan standar  serba-serbi sekolah di Indonesia  di tengah-tengah persaingan nasional dan iming-iming untuk pasar dan global tidak berlaku di lembaga tersebut. 

Anak-anak bermain apa adanya dan penuh ekspresif.

Opsi alternatif atau lainnya?

Lembaga ini sarana pembelajarannya ada di alam sekitar mereka. Sekolah yang berwawasan ekologis ini,  hanya boleh menangani 15 orang anak dalam satu kelas.

Menurut Yudis,  di sini tidak ada patokan harga. Semua orangtua mereka dengan sukarela menentukan  sesuai dengan kemampuan ekonominya masing-masing. “Keluarga yang memilih sekolah ini rata-rata ekonomi kelas ke atas,” ungkap Yudis.

Saatnya unjuk diri dan kebolehan berekspresi.

Di tengah perbincangan kami menikmati sajian dari ruang ekspresi mereka sambil melihat langsung hasil karya orisinil murid-muri tersebut.

Sekolah ini semacam opsi alternatif terhadap standar nasional di mana ukuran kesuksesan seseorang selalu ditentukan oleh pemegang otoritas kurikulum. Ataukah, ini  sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme pendidikan saat ini antara kebutuhan pasar global, kompetisi atau bisnis untuk kepentingan pemilik modal/berkuasa?

Nah mungkin ada  pemerhati pendikan ingin belajar, pastinya di sini  bukan hanya kognitif yang ditekankan tetapi “hati dan spritualitas pendidik” menjadi unggul untuk bersama ekspresi dengan murid-murid dengan lepas bebas.

Singkatnya belajar di alam dengan penuh ekspresi.

Kredit foto: Br. Flavianus Ngardi MTB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here