“Pay the Ghost”, Ingatlah Kematian

0
2,201 views

ANDA percaya adanya roh gentayangan? Anda pernah melihat orang kesurupan? Anda memiliki pengalaman berhadapan dengan jiwa-jiwa yang belum damai dari alam kematian?

Bagi dunia Timur seperti negara-negara di Asia, hal itu umum dan bahkan memiliki penjelasan yang dapat diterima. Jawaban ini diberikan untuk memahami fenomena tersebut, “Beberapa jiwa yang masih gentayangan karena masih memiliki urusan di dunia orang hidup entah perihal keluarganya atau soal relasi.” Lainnya mungkin memberi penjelasan, “ Ya itu ada karena jiwanya tidak tahu harus pergi ke mana setelah mati.”

Misteri penculikan anak-anak
Di film baru berjudul Pay the Ghost yang dibintangi oleh Nicolas Cage, sebuah jiwa masih gentayangan karena hendak menuntut balas.

Alkisah pada tahun 1671, sebuah keluarga Irlandia yang hijrah ke Benua Amerika, tinggal di New York, mendapat musibah karena dianggap mempraktikkan ritual yang dianggap warga menyebabkan kemalangan bagi warga setempat.

Pada malam Halloween, semua anggota keluarga itu dibantai. Tiga anak dari keluarga itu dibakar di hadapan ibunya. Ibunya dengan penuh kemarahan dan kepedihan menyaksikan tragedi tersebut. Ia bersumpah akan membalas dengan setiap malam Halloween menculik anak-anak di New York yang seusia anaknya.

Sejak peristiwa pembantaian itu, setiap malam perayaan Halloween, tiga anak selalu hilang. Hingga Charlie (Jack Fulton), bocah yang telah lama diincar oleh arwah wanita di atas pun hilang.

Rasio dan arwah
Dalam alam pikir dunia Timur, juga tradisi Kristiani di Barat, kasus berhadapan dengan dunia arwah diselesaikan dengan jalan ritual tertentu. Beberapa kelompok menggunakan kekuatan dari keyakinan religius.

Tetapi dalam film ini, urusan dengan arwah cukup diselesaikan dengan rasio. Mike Lawford (Nicolas Cage) menelaah latar belakang hilangnya sang anak. Ia menemukan kaitan antara hilangnya Charlie dengan simbol Dewi Keltik dari tradisi pagan, ritual Halloween dan sejarah kota New York.

Film ini mendekati dunia arwah dengan pendekatan ilmu sejarah dan simbol. Dengan gampang, ini yang sepertinya agak sulit diterima, Mike melawan arwah gentayangan yang menculik anaknya dengan melewati “Jembatan dunia dunia”. Ia menerobos dari dunia riil ke dunia arwah.

Ia bermodalkan kecintaanya kepada Charlie, anak tunggalnya.

Film kurang peduli apakah Mike sukses karena dibantu oleh jiwa-jiwa anak yang telah diculik. Yang penting anaknya selamat.

Film Pay the Ghost sebagai film berkategori drama horor terhitung bagus. Latar belakang horor tidak begitu menguasai film. Namun perhatikan saja akting para aktor dan aktris yang menawan.

Permainan Nicolas Cage yang tidak seperti film-film sebelumnya sarat dengan tembak menembak dan aksi, dalam film ini Cage murni bermain drama. Ia menjadi ayah yang sangat terpukul oleh kehilangan Charlie. Ditambah oleh rasa bersalah kepada Kristen (Sarah Wayne Callies), istrinya. Dunia runtuh karena peristiwa anaknya. Dan dikisahkan rumah tangga mereka nyaris hancur karena itu.

Hidup baik tak cukup
Pay the Ghost sebagai film komersial mengangkat alam horror dan menjual rasa takut dan kematian. Setting alam sekular begitu kental sampai menertawakan eksistensi arwah, menganggap penampakan itu hanya imajinasi,dan obrolan dunia orang mati sebagai hal yang aneh. Film ini jelas tidak mau dikaitan dengan daya iman atau keyakinan religius tertentu. Secara simbolis, kisah keluarga Mike mengundang ahli supranatural ke rumahnya memiliki makna bahwa dunia supranatural itu absurd.

Namun semua itu tidak mampu menutupi adanya fakta tentang mereka yang telah meninggal juga memiliki dunia yang tak terpisahkan dari kehidupan sebelumnya.

Sekedar menggarisbawahi bahwa jiwa yang sudah meninggal jangan dianggap musnah. Mitch Albom, seorang pengarang novel dari Amerika banyak menuliskan tema seputar ini. Bagi Albom, perjalanan hidupdi dunia ini akan sangat menentukan perjalanan manusia setelah kematian. Ia menuliskan banyak hal tentang perjalanan jiwa seseorang yang tidak berhenti setelah kematian terjadi. Seolah-olah semua selesai setelah masuk kubur.

Ternyata, jiwa seseorang senantiasa bergulat dengan kebenaran dan bagaimana menjadi pribadi yang utuh. Gambaran tentang pribadi yang mampu menyelesaikan persoalan, tidak membawa bibit negatif seperti kemarahan, kekecewaan, kebencian dan sebagainya ditampilkan oleh Albom. Hal ini yang juga dapat kita saksikan dalam film Pay the Ghost selama 94 menit.

Pay the Ghost mengungkapkan kehidupan tidak berhenti dalam kematian. Tetapi ini sekaligus mengingatkan pentingnya seseorang “mengingat kematian”. Semoga dengan mengingat kematian, orang semakin sadar untuk berpijak pada kebenaran dan berjuang untuk menjadi semakin luhur. Hidup baik perlu dikuatkan dengan visi yang lebih transenden, melampaui bumi tempat berpijak. Demikian iman kristiani menegaskan, dengan kematian hidup bukan dihancurkan tetapi hanya diubah.

Semoga kelak arwah kita bahagia karena Terang Abadi sang Ilahi.

Kredit foto: Ilustrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here