Pelita Hati: 08.10.2018 – Melintas Batas Pelayanan

0
847 views

Bacaan Lukas 10:25-37

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. (Luk.10:33-35)

SAHABAT pelita hati,

Kisah tentang “Orang Samaria yang Murah Hati” merupakan salah satu perumpamaan terindah yang diceritakan oleh penginjil Lukas. Kisah ini memuat pesan keutamaan yang mendasar, yakni beriman yang benar harus mewujud dalam tindakan kasih yang nyata, peduli kepada sesama terutama yang menderita. Kisah ini juga mendorong kita untuk berani menerobos sekat-sekat ras, suku, budaya dan agama jika demi pelayanan kasih kepada sesama.

Sahabat terkasih,

Orang pertama dan kedua (imam dan orang Lewi) yang dikisahkan dalam pelita sabda tergolong orang yang memiliki kedudukan penting dalam jajaran agama Yahudi. Mereka adalah pemimpin upacara kurban dan petugas ibadah di bait Allah. Namun mereka tak peduli kepada sesamanya warga Yahudi yang mengalami korban perampokan dengan sejumlah alasan. Sementara seorang Samaria yang selalu direndahkan oleh bangsa Yahudi karena disebut keturunan pendosa dan tak layak menerima penyelamatan, justru  menunjukkan empati kasihnya kepada sang korban. Ia tidak hanya menolong tetapi rela mengeluarkan biaya demi pengobatan si kurban. Sebuah paradoks hidup yang pantas menjadi permenungan kita. Yang menganggap diri sebagai pewaris tunggal diselamatkan justru tak peduli kepada sesamanya, sementara yang dinilai pendosa justru menyatakan tindakan belas kasihnya. Kisah orang Samaria yang murah hati ini kini menjadi inspirasi bagi karya pelayanan lintas batas alias tak terbatasi oleh sekat-sekat ras, suku dan agama. Inilah persaudaraan sejati.

Sahabat terkasih

Semoga pelita sabda hari ini mendorong kita untuk semakin giat melakukan pelayanan dan kebaikan. Kita bangun persaudaraan sejati dengan merajut kebersamaan dalam bingkai persaudaraan.

Hati-hati berkendaraan,
agar selamat sampai tujuan,
Hiduplah dalam kasih persaudaraan,
tanpa membeda-bedakan.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here