Percik Firman : Bersukacitalah Senantiasa

0
161 views

Minggu Adven III, 15 Desember 2019
Bacaan Injil : Mat 11:2-11

Saudari/a ku ytk.,

SAAT ini kita sudah memasuki Minggu Adven ke-3, di mana Hari Raya Natal semakin mendekat dengan ditandai 3 lilin Adven yang sudah menyala. Minggu Adven ke-3 disebut juga Minggu Gaudete (Minggu Sukacita) ditandai dengan bernyalanya lilin berwarna merah muda. Lilin ini mulai dinyalakan sebagai ungkapan sukacita, karena masa penantiaan telah berjalan setengah dan akan segera berakhir. Suasananya bukan pertobatan, tetapi lebih mengajak kita untuk bergembira dan penuh pengharapan. 

Pada Minggu Adven ke-3 ini, Sabda Tuhan mengajak kita untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan secara khusus. Ada 3 sikap yang perlu dibangun untuk menantikan kedatangan Kristus, yaitu dengan pengharapan, dengan sorak-sorai (Yesaya), serta dengan sabar (Yakobus). 

Lantas siapa Kristus yang kita nantikan itu? Pertanyaan ini pula yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis mengutus para muridnya kepada Yesus untuk memastikan (bukan karena tidak percaya) apakah Dia itu sungguh-sungguh sosok penyelamat yang akan datang. 

Yesus tidak menjawab, Ya atau Bukan, melainkan mengajak para murid Yohanes untuk menyimpulkan sendiri dengan melihat dan mendengar sendiri apa yang telah terjadi: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin dibawakan berita gembira. Kesaksian hidup itulah yang penting, bukan sekedar omongan. Kristus datang membawa keselamatan dan pengharapan, yaitu kasih yang total kepada Bapa.

Pada akhir jawaban kepada para murid Yohanes, Yesus menyebut ”Berbahagia orang yang tidak sangsi dan tidak menolak Aku”. Orang yang bisa menerima warta Yesus tanpa merasa tersinggung dan menyambutnya dengan merdeka boleh merasa bahagia. Mereka ini menerima Kerajaan Surga. 

Begitulah kebahagiaan tercapai dengan mencari tahu bagaimana dan dengan cara apa kedatangannya menjadi semakin bermakna dan semakin bisa dinikmati orang zaman ini. Artinya, apa? Artinya, kita diajak untuk tidak hanya puas dengan sudah dibaptis dan menjadi Katolik. Tetapi bagaimana kita mengusahakan sesuatu yang lebih dengan makin mendalami dan makin menggali iman kita, mengobarkan kembali iman kita, marenungkan kembali siapa Yesus bagi saya. 

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus,

Pribadi Yohanes Pembaptis sangat inspiratif bagi kita. Kita bisa belajar dari sosok Yohanes Pembaptis. Yesus memuji pribadinya. Dikatakannya bahwa orang-orang datang kepada tokoh itu karena ia tidak seperti “buluh digoyang angin”, sebuah ibarat yang mirip ungkapan Indonesia “seperti air di daun talas”. 

Mereka datang untuk berguru kepada orang yang wataknya kuat, kepada orang yang berprinsip, berkepribadian. 

Dalam Injil dikatakan: Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Untuk melihat buluh yang digoyang angin? Untuk menemui orang yang berpakaian halus? Untuk melihat nabi? Ya, untuk melihat nabi, bahkan lebih dari nabi. 

Sekarang kita pun bisa bertanya: Untuk apakah kita pergi ikut misa di gereja? Tentu ada banyak jawaban. Karena Kewajiban, Kebutuhan, atau Kerinduan? Anda sendirilah yang bisa menjawabnya. 

Moga-moga, kita datang ke gereja karena kita memiliki kerinduan ingin bersyukur-memuji Tuhan bersama umat yang lain, menimba sabda Tuhan, dan sungguh ingin bersatu dengan Kristus dalam rupa TubuhNya, supaya kita diberi kekuatan dan semangat baru ketika kembali dalam kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, kita bisa memberikan kesaksian hidup yang berkualitas. Orang bisa niteni, menilai diri kita dari perbuatan/tindakan kita, bukan sekedar omongan kita. Hidup kita sungguh menjadi saksi kabar gembira yang hidup sebagaimana Yesus kepada para murid Yohanes tadi. 

Selamat Minggu Gaudete, Minggu Sukacita…

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan.

(Y. Gunawan, Pr)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here