Perjumpaan yang Membawa Perubahan

0
2,731 views

Suatu ketika ada seorang Guru Agung yang sedang berjalan-jalan sambil mengajar. Ia dikelilingi banyak muridnya. Begitu banyak muridnya sehingga orang akan kesulitan untuk mendekati Sang Guru Agung itu.

Tiba-tiba datang seorang ibu tua yang sakit bungkuk dan sudah menderita bungkuk itu selama bertahun-tahun. Ia sudah mencoba ke berbagai dukun, tetapi tidak juga disembuhkan penyakitnya.

Dengan sangat yakin, ia mendekati Sang Guru Agung itu dan berkata dalam hati bahwa seandainya ia dapat menjamah jubahnya saja, pasti akan sembuh. Lalu dia pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendekati Sang Guru dan menjamah jubahnya.

Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya, yakni bahwa dia dapat menjadi tegak kembali, tapi dia merasa takut kalau-kalau Sang Guru tahu apa yang dilakukannya dan marah padanya.

Sementara itu Sang Guru Agung itu merasakan ada sesuatu yang keluar dari dirinya, yakni sebentuk energi. Sang Guru itu tahu bahwa wanita tua itu telah menjamahnya. Lalu Sang Guru mendekati wanita tua itu dan berkata bahwa iman yang dimiliki wanita itulah yang menyelamatkan dirinya sendiri. Dia sembuh berkat imannya sendiri.

Arti perjumpaan
Sepenggal kisah Guru Agung yang sering dipanggil dengan nama Yesus ini memberikan sebuah inspirasi yang mendalam kepada kita mengenai arti sebuah perjumpaan. Perjumpaan yang dialami wanita itu memberikan arti sangat mendalam karena dia yang tadinya sakit sekarang menjadi sembuh.

Perjumpaan yang dia alami dengan Sang Guru Agung itu mengubah segala-galanya dalam hidupnya. Namun yang paling mengagumkan adalah bahwa keberadaan Yesus sendirilah yang sanggup membuat wanita tua itu menjadi yakin sepenuhnya dengan dirinya sehingga dia menjadi sembuh.

Jadi apa yang dikatakan Sang Guru Agung itu sendiri benar adanya bahwa iman wanita itulah yang menyelamatkannya. Berkat keyakinannya akan Sang Guru sendiri, dia menjadi sembuh. Sang Guru sendiri hanya menjadi perantara, memberi energi, memberi keyakinan, membangkitkan daya yang sebenarnya ada dalam diri wanita itu sehingga dengan daya yang dimilikinya sendiri, wanita itu sembuh.

Yesus sanggup membuat wanita tua yakin dengan dirinya sendiri. Yesus sanggup membuat wanita tua itu bangkit dari segala kesakitannya. Itulah yang disebut dengan perjumpaan membawa perubahan.

Dalam seluruh pengalaman hidup kita, ada banyak orang kita temui dan sering kita tidak menyadari bahwa kehadiran diri kita sungguh berarti bagi orang lain. Relasi yang kita jalani bersama orang lain sering kita anggap sebagai sesuatu yang wajar dan normal saja, tetapi ternyata ada sesuatu yang lebih dahsyat yang terjadi di balik sebentuk relasi yang terjadi itu.

Mungkin ada perubahan, mungkin ada inspirasi, mungkin ada dorongan (tentu semua ke arah yang baik) atau mungkin ada gairah dan kegembiraan.

Bagaimana diriku?
Pengalaman yang dialami Yesus dan wanita tua itu membuat kita merenungi diri kita sendiri; apakah perjumpaanku dengan orang lain sanggup membawa sesuatu yang berarti bagi orang yang kita jumpai atau membuat orang lain menjadi lebih sengsara?

Apakah kehadiranku di antara banyak orang dapat memunculkan inpirasi dan mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi sesamanya? Ataukah kehadiranku memunculkan perpecahan di antara teman-temanku?

Kehadiran yang berarti adalah kehadiran yang sanggup membuat orang lain menjadi bersemangat, memunculkan inspirasi, memberi kegairahan, memberi kegembiraan. Kehadiran yang berarti adalah kehadiran yang sanggup membuat perubahan dalam diri sendiri dan orang lain ke arah yang lebih baik. Saling memberi inspirasi adalah inti dari relasi yang baik.

Kehadiran, dalam khasanah filsafat timur menjadi sebuah tindakan yang sangat penting dalam hidup ini. Khasanah pemikiran filsafat barat yang lebih cenderung menekankan tindakan daripada kehadiran dalam arti tertentu bisa keliru, bisa juga tidak.

Dalam beberapa hal, orang sering merasa hanya butuh didengarkan, dilihat, ditemani, atau sekedar disapa. Itulah bentuk-bentuk kehadiran. Sering terjadi bahwa orang yang sakit dan berbaring terus di rumah sakit merasa sangat puas kalau ada teman-teman yang hadir menemaninya tanpa perlu banyak bicara dan bertindak.

Ada juga orang yang sudah sungguh bahagia ketika ada orang lain yang berkenan mendengarkan segala keluh kesahnya tanpa perlu memberi solusi. Dalam arti tertentu kehadiran sudah merupakan tindakan.

Namun tidak bisa disangkal bahwa tindakan dalam setiap perjumpaan, dibutuhkn juga oleh kita. Justru dalam tindakan itulah inspirasi muncul dan orang lain terdorong oleh tindakan itu.

Misalnya, suatu ketika seseorang (si B) merasa bersalah terhadap si A dan si A dengan tenang saja mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan itu wajar dan mengharapkan supaya si B melupakannya. Si B lalu dengan segenap hati terdorong oleh energi yang terpancar dari si A juga ikut mengusahakan hal yang sama ketika ada kasus yang sama terjadi pada dirinya, yakni ketika orang lain bersalah padanya.

Aku menjumpai engkau
Hidup kita tidak lepas dari perjumpaan kita dengan orang lain. Apakah perjumpaan yang setiap kali kita alami hanyalah sekedar perjumpaan yang kita anggap biasa-biasa saja dan dengan demikian kita merusaknya dengan berbuat atau memancarkan energi negatif kepada orang lain entah dengan sikap yang tidak simpatik, tiada empati, tiada keramahan, tiada kegembiraan yang dibawa serta dan sebagainya.

Akankah hidup kita akan membahagiakan kita bila kegembiraan-kegembiraan yang kita alami hanya akan menjadi milik kita sendiri dan berpikir bahwa aku tidak memiliki urusan dengan orang lain? Kalau demikian yang terjadi apakah jadinya dunia ini? dan apakah Anda sendiri akan tahan mengalami hal ini? Saya jamin, Anda tidak akan tahan.

Ketenteraman batin, kedamaian, keadilan, kerukunan dan sebagainya adalah nilai-nilai universal. Semua orang meyakini bahwa dirinya juga mengharapkan hal yang sama (kebaikan-kebaikan itu/nilai-nilai itu) terjadi pada dirinya. Semua orang membenarkan bahwa nilai-nilai itu juga menjadi nilai-nilai yang dipegangnya juga sebagai suatu kebenaran.

Kalau kita menyadari dan mengamini bahwa perjumpaanku dengan orang lain sungguh berarti maka biarlah sabda sang filsuf Martin Buber menjadi hidup kembali; relasi Aku-Engkau menandai dunia dari Beziehung (hubungan, Buber mengkhususkan bagi persona-persona), berarti dunia dimana Aku menyapa Engkau dan Engkau menyapa Aku sehingga terjadi dialog yang sejati.

Dalam dunia ini Aku tidak menggunakan Engkau, tetapi Aku menjumpai Engkau. Perjumpaan merupakan salah satu kategori yang khas bagi dunia ini, seperti juga kategori-kategori cinta dan kebebasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here