Pijar Vatikan II: JB Sumarlin dan LB Moerdani, Katolik Benar, Katolik Bener (34C)

0
388 views
JB Sumarlin dan isteri bersama Presiden Suharto by Ist

DARI lima Menteri dan Menteri Muda Katolik pada Kabinet Pembangunan 5, Kabinet yang paling “Katolik” sepanjang sejarah, sekarang ini tinggal Prof. Dr. Soedradjad Djiwandono yang masih hidup.

Pak Sumarlin, Pak Benny Moerdani, Pak Cosmas Batubara, dan Pak BS Muljana sudah meninggal.

  • Pak Sumarlin yang lahir di Nglegok, Blitar, Jawa Timur, pada 7 Desember 1932, dipanggil Tuhan sepekan lalu 6 Februari 2020 pada usia 87 tahun.
  • Pak Leonardus Benyamin Moerdani lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1932 dan meninggal di Jakarta 29 Agustus 2004 pada usia 71 tahun.
  • Pak Cosmas Batubara, yang lahir di Purba Saribu, Haranggaol Horison, Simalungun, Sumatera Utara, pada 19 September 1938, meninggal di Jakarta 8 Agustus 2019 pada usia 80 tahun.
  • Pak Bernardus Sugiharta Muljana, yang lahir di Yogyakarta 3 Maret 1931, meninggal di Jakarta 15 September 2014 pada usia 83 tahun.

Almarhum Pak Marlin dan Pak Benny Moerdani sama-sama lahir tahun 1932. Ibu saya Theresia Sunartrini, juga lahir pada tahun yang sama dengan mereka, yaitu 3 Oktober 1932, sehari sesudah Pak Benny Moerdani lahir.

Puji Tuhan, ibu saya badannya masih sehat walafiat. Yang sangat tidak sehat adalah pikiran dan “kepala”-nya. Sudah 10 tahun terakhir ini, ibu menderita dementia parah.

Beda generasi, beda alam pikir

Saya sedang membayangkan, apa yang bisa diceritakan kepada cucu-cucu bapak-ibu saya tentang hebatnya generasi eyang mereka yang lahir pada tahun 1932 seperti Pak Marlin dan Pak Benny Moerdani itu?

Apakah anak-anak muda generasi milenial itu masih “dhong, nyandhak, nangkep” kiprah opa-oma eyang mereka yang lahir pada tahun 1932-an itu?

“Hebatnya” generasi 1932 seperti Pak Sumarlin dan Pak Benny Moerdani itu apakah masih “bicara” kepada generasi milenial sekarang ini?

William Shakespeare pernah mengatakan: “Some are born great, some achieve greatness, and some have greatness thrust upon them.

Bahwa Pak Marlin dan Pak Benny Moerdani, pada zamannya pernah berkiprah dengan begitu “spektakuler” dan menjadi bagian dari sedikit elite pejabat negara yang pantas menyandang gelar “salah satu putera terbaik bangsa” sudah menjelaskan dengan sendirinya “their greatness”.

Kiranya, terhadap tokoh bangsa dan tokoh Gereja sebesar Sumarlin dan Benny Moerdani, “narasi” yang bisa diterima generasi penerus macam generasi milenial kita ini adalah “narasi keteladanan”.

Contoh hidup ini pasti lebih nges dan “bicara” dari “narasi verbal” kendatipun yang terakhir ini mungkin lebih lengkap, lebih detil, lebih didasari data, lebih luas dan tebal bak buku biografi tokoh dunia.

Seangkatan dengan Frans Seda

Saya ingat, pada tahun 2016 ayah saya meninggal pada usia 93 tahun, 3 bulan setelah merayakan Pesta 60 Tahun Perkawinan bersama Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja SJ.

Almarhum Henricus Soekandar, ayah saya itu, adalah teman sekelas  Frans Seda waktu sekolah di HIS Kolese Xaverius Muntilan.

Apakah yang kemudian dikenang oleh anak-anak dan para cucu ayah saya adalah perkenalan ayah dengan orang-orang penting seperti Frans Seda dan Mgr. Soegijapranata SJ itu?

Bukan. Ternyata anak-anak dan para cucu lebih mengingat dan terkesan dengan contoh hidup ayah dan eyang mereka yang sederhana, yang kecil namun bernilai.

Pada buku kecil yang ditulis bertepatan dengan Pesta 60 Tahun Perkawinan Bapak-Ibu kami, adik-adik, para cucu, para romo, para suster dan para sahabat keluarga kami kebanyakan terkesan dengan bapak-ibu kami yang ramah, suka tersenyum, hobi mendatangi pelayatan, ke mana-mana berdua, rukun setia sampai maut memisahkan, menjadi Katoliknya sungguhan.

Untuk kami, anak-anak, ayah dan ibu yang kami kenang adalah sosok orangtua yang hanya memberi.

Sampai sekarang, mereka sekalipun belum pernah minta bantuan, minta sumbangan, apalagi minta uang dari anak-anak mereka. Sampai usia tua mereka cukup hidup dari uang pensiun.

Mereka tidak pernah menganggap anak adalah tabungan hari tua.

Integritas diri

Dari pengalaman terbatas dengan ayah-ibu saya ini, menurut pendapat saya, generasi sekarang ini tidak terlalu menyambut “narasi pekerjaan dan jabatan” tokoh sehebat Sumarlin dan Benny Moerdani sekalipun.

Yang lebih akan abadi berbicara kepada anak-anak lintas generasi adalah “narasi integritas dan keteladanan” para tokoh kita ini.

Seperti kita tahu, integritas itu berasal dari kata Latin  “integer” yang artinya bulat, utuh, nyambung tidak ada putusnya seperti bulatnya lingkaran.

JB Sumarlin dan LB Moerdani, yang sama-sama “sepantaran” lahir tahun 1932 seusia ibu saya ini, dalam hal integritas kiranya tidak perlu diragukan lagi. Perilaku mereka, di dalam dan di luar rumah sama, utuh, nyambung.

Tidak ada cerita Pak Sumarlin dan Pak Benny Moerdani korupsi, kena operasi tangkap tangan KPK atau dibui karena menyalahgunakan wewenang.

Yang ada malah sebaliknya.Pak Marlin sampai sekarang terkenal dengan nama samarannya Sidik, ketika ia membongkar pungli di RSCM dan Kantor Pajak. Tidak ada juga cerita Pak Sumarlin dan Pak Benny Moerdani murtad, pindah agama demi jabatan.

Janji perkawinan yang mereka ucapkan di depan altar, juga sangat jelas dilaksanakan dengan baik. Tidak asal omong demi sahnya sebuah perkawinan.

Mereka setia pada pasangannya sampai akhir hayat. Sedikit pun tidak pernah ada cerita Pak Marlin atau Pak Benny menceraikan isteri mereka.

Tidak ada cerita mereka menelantarkan anak-anak dan keluarga mereka demi jabatan. Mereka adalah sosok yang berintegritas tinggi, orang Katolik yang baik dalam menghidupi janji perkawinan mereka.

Integritas JB Sumarlin

Rekan-rekan Pak Marlin di kampus atau di departemen yang dia pimpin, mengenal Pak Marlin sebagai pekerja keras dan sangat disiplin. Ia berangkat ke kantor pagi-pagi benar dan pulang ke rumah larut malam. Ia sosok pribadi yang baik dan santun. Tidak doyan dugem (dunia gemerlapan).

Menurut Rizal Mallarangeng, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, di kalangan kaum teknokrat Orde Baru, JB Sumarlin termasuk sosok yang pendiam.

Mohamad Sadli dan Emil Salim lebih outspoken, lebih pandai mengemukakan gagasan secara lugas dan menarik. Tapi dalam soal kebijakan, Sumarlin mungkin sosok yang paling lincah. Dan, bersama Radius Prawiro juga paling berani.

Hal itu terlihat, misalnya, dalam Gebrakan Sumarlin dan berbagai Paket Deregulasi 1988, khususnya di sektor finansial.

Waktu itu Sumarlin menjabat sebagai Ketua Bappenas dan Menkeu ad interim. Gebrakan dan berbagai paket ini berhasil menyelamatkan nilai tukar rupiah dan, lebih penting lagi, menggairahkan dunia perbankan dan Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Khusus tentang BEJ, bisa dikatakan bahwa sejak saat itulah lembaga ini mulai memainkan peran penting dalam dunia perekonomian kita.

Gebrakan dan Paket kebijakan ini adalah bagian dari the era of deregulation yang berlangsung dalam kurun 1983-1993. Hasilnya adalah transformasi ekonomi Indonesia: ketergantungan pada minyak bumi berkurang drastis, sektor manufaktur dan finansial tumbuh pesat, kaum swasta lebih bergairah.

Sumarlin, tentu saja, tidak bergerak sendiri. Ia adalah bagian dari Mafia Berkeley, julukan yang diberikan oleh David Ranson, wartawan “kiri”, pada awal tahun 1970-an.

Entah kenapa, julukan ini menjadi populer dan melekat pada kaum teknokrat Orde Baru di bawah pimpinan Prof Widjojo Nitisastro.

Sebagai tokoh dalam dunia kebijakan, Mafia Berkeley dianggap berhasil. Dalam literatur pembangunan, mereka kerap dijadikan sebagai contoh positif peranan kaum teknokrat di negara-negara sedang berkembang.

Integritas Sumarlin, tidak hanya tercermin pada profesionalitasnya dan “kejelian”nya menyelesaikan masalah besar seperti peliknya persoalan ekonomi bangsa.

Benar, banyak kalangan berpendapat bahwa Pak Sumarlin dan rekan-rekannya para teknokrat Orde Baru seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Sadli, Emil Salim, Subroto, Radius Prawiro dan kaum teknokrat lainnya jasanya terhadap negara ini besar sekali.

Gebrakan dan Paket Deregulasi itu adalah salah satu “karya” mereka.

Sebelumnya, sejak lahirnya Orde Baru, mereka juga telah membantu berbagai kebijakan yang sampai hari ini masih dirasakan manfaatnya.

Sumarlin cs memberi pelajaran berharga bagi para pengelola negara ini, antara lain dalam soal konsistensi dan langkah kreatif serta keberanian untuk melakukan terobosan kebijakan.

Menolak permintaan Cendana

Namun, yang akan terus dikenang dari seorang sosok Sumarlin adalah sikapnya yang tidak kenal kompromi terhadap hal-hal yang prinsip.

Kalau menurut suara hatinya itu adalah hal yang baik dan benar, lebih-lebih dalam pertimbangan “bonum commune”, Sumarlin tidak segan-segan mengatakan tidak.

Integritas dan keberanian Sumarlin terungkap dalam kisahnya yang tersohor ketika menolak permintaan Tommy Soeharto.

Ini terjadi ketika Pak Marlin menjadi Menteri Keuangan periode 1988-1993. Tugas sebagai menteri membuat Pak Marlin dekat dengan Presiden Soeharto.

Tapi kedekatan itu tak berarti dia mesti selalu menurut kepada lingkaran keluarga Presiden.

“Sumarlin tidak bisa didikte untuk memuluskan bisnis keluarga Cendana,” kata Fikri Jufri, wartawan senior, dalam tulisannya “Sumarlin, Sidik, Harun al-Rasyid” yang termuat dalam memoar JB Sumarlin di Antara Sahabat.

Pernah suatu hari Tommy Soeharto bersama Direktur Jenderal Koperasi mendatangi Pak Marlin. Tujuannya minta pinjaman Rp 800 miliar bagi kebutuhan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC).

Menurut Tommy, dana itu buat stabilisasi harga cengkeh dan kebaikan petani.

Tapi Pak Marlin tidak berpikir seperti itu. Ia menolaknya. Tommy pulang ke rumah dan melapor ke ayahnya.

Soeharto memanggil Pak Marlin. Dia menjelaskan BPPC sangat penting untuk kehidupan petani dan stabilisasi harga cengkeh. Tapi Pak Marlin balik menerangkan bahwa pengajuan kredit Tommy terlalu berisiko dan akan mengakibatkan inflasi.

Soeharto agak sulit menerima penerangan itu. Tapi akhirnya dia bisa memahaminya.

Kisah Sumarlin memberantas pungli (pungutan liar) di zaman Soeharto juga sudah melegenda.

Ini diungkapkan sendiri oleh Sumarlin dalam buku Pak Harto the Untold Stories.

“Dalam tugas penertiban, saya mendapati banyak penyimpangan, di antaranya dalam bentuk pungutan liar. Sejak itu kata pungli (pungutan liar) akrab di telinga publik. Untuk menyelidikinya, saya sampai harus menyamar ke tempat-tempat yang dikabarkan banyak terjadi pungli.”

“Nama saya menjadi Achmad Sidik, nama yang saya gunakan ketika menjadi kurir di masa perjuangan tahun 1948. Saya sering menangkap basah pelaku penyunatan gaji pegawai negeri,” tulis Sumarlin dalam buku yang terbit tahun 2011 itu.

Tak hanya menyamar saja. Sumarlin bahkan sampai membawa sepasukan Brimob untuk menangkap basah pelaku pungli itu.

“Suatu ketika saya keder juga. Oleh karena itu, saya ajak (Mensesneg) Sa’adilah Mursid yang memimpin sepasukan regu Brimob untuk menangkap basah pungli di Kantor Pajak Batu Tulis, Jakarta Pusat.

Konon di situ ada aparatnya yang sering menggertak dengan pistol. Dibantu Irjen Keuangan Brigjen TNI Atang Yoga Swara yang waktu itu berpakaian sipil, kami inspeksi mendadak ke Kantor Pajak. Hari itu juga empat belas pegawai pajak ditahan dan dibawa ke Jalan Gresik,” ungkap Sumarlin.

Jenderal TNI LB Moerdani dilantik menjadi Panglima ABRI di Istana Negara oleh Presiden Suharto. (Ist)

Integritas LB Moerdani

Kalau Anda generasi yang lahir tahun 1940-an, 50an dan 60an, pasti Anda mengenal nama Benny Moerdani.

Sebagian dari Anda pembaca Sesawi.Net, apalagi yang beragama Katolik, mungkin akan menyebut nama itu dengan penuh kekaguman. Hanya L.B.Moerdani, satu-satunya orang Katolik yang pernah menjadi Panglima Angkatan Bersenjata di negeri ini.

Mungkin hanya Benny Moerdani pula sosok Katolik yang paling “heboh” dan mendapat banyak julukan dalam sejarah negeri ini.

Di mesin pencari Google yang sakti itu, ketiklah ”Benny Moerdani”. Maka seketika akan muncul pelbagai kisah seorang Leonardus Benyamin Moerdani (LBM) dari yang informatif, sekedar cerita riwayat hidup dan karir kemiliteran, sampai yang mengagumkan, yang penuh pujian, yang hebat, yang heboh, yang seram, yang misterius, yang sinis, yang mengecam, yang penuh kebencian dan yang “gado-gado” campuran semua itu.

Misalnya saja, saking setianya kepada Pak Harto, Benny Moerdani pernah mendapat julukan “Herder Soeharto”.

Mungkin beberapa sahabat dekat yang sungguh mengenal  LBM seperti Pak Harry Tjan Silalahi hanya akan tersenyum kalau membaca semua temuan Google tentang Benny Moerdani.

Bahwa LBM sering disebut sebagai “Herder Soeharto”, pasti karena memang  semua kalangan mengakui LBM adalah “pengawal setia” Soeharto.

LBM mendapatkan karir sampai “mentok” sebagai Jenderal Bintang Empat dan Panglima ABRI, pasti karena memang dipromosikan Pak Harto. 

Ketika diwawancara oleh jurnalis Far Eastern Economic Review David Jenkins, Benny mengaku hubungannya dengan Soeharto layaknya hubungan antara anak dan ayah.

Sang jenderal sendiri mengenal Soeharto secara akrab saat mereka berdua terlibat dalam Operasi Trikora dan Operasi Naga, dua aksi militer Indonesia untuk menguasai Irian Barat pada awal 1960-an.

Pengamat militer Salim Said menyebut, sejak awal Benny sudah “cocok” dengan Soeharto, begitu juga sebaliknya.

Ketika Soeharto sudah menjadi Presiden, Benny menjadi intel di Kuala Lumpur dan kemudian Seoul. Namun setiap Sang Presiden melawat ke luar negeri, Benny selalu didatangkan secara khusus untuk menjaga keselamatan Soeharto.                                       

Muhammad Ilham Fadli, pada situs covesia.com menulis Benny Moerdani sebagai “Unsmiling General”. Tentu ini untuk membandingkan dengan sosok Soeharto yang dikenal sebagai “The Smiling General”.

 Ilham menulis, pada era Orde Baru (tahun 1980-an), nama Jenderal LB Moerdani selalu menjadi buah bibir publik. Bahkan di kampungnya, Air Bangis, seorang sahabat ayahnya, memberi nama anaknya Benni Murdani (tidak dengan huruf “y”), tanpa Leonardus. Benny Moerdani tipikal militer “murni”.

Nama dan fotonya sering menghiasi media massa. Bisa dicatat, setelah periode Jenderal Andi M. Yusuf (salah seorang tokoh Supersemar) asal Bugis, Sulawesi Selatan, mungkin Jenderal Benny Murdani yang dianggap sebagai pemimpin militer berkarakter di tubuh TNI.

Nama LBM melejit ketika memimpin langsung pembebasan pembajakan Pesawat Garuda Woyla di Lapangan Terbang Don Muang, Thailand. Proses pembebasan tersebut membuat namanya menjadi perbincangan dunia karena proses pembebasan pembajakan dari Kelompok Imran dan Salman Hafidz cs sangat terukur, tanpa korban penumpang, tanpa pertumpahan darah.

Menurut Ilham, sejak LBM purna tugas, belum ada jenderal-jenderal di tubuh TNI sampai sekarang yang “sekuat” dan memiliki karakter militer murni seperti Jenderal Andi M. Yusuf dan Benny Moerdani.

Tidak banyak cerita yang terekspose tentang “ranah hidup pribadi” LBM terutama tentang keluarganya. Tak banyak cerita bagaimana dia berlibur bersama isteri dan Ria, puteri semata wayangnya.

Sebagian besar hidup LBM hanya untuk bekerja. Kegiatan dinasnya pun serba rahasia. Bagi dia, pekerjaan bukanlah urusan keluarga. Namun ia tetap suami dan ayah pengayom.

Ria, puteri tunggal LBM pernah menyampaikan cerita kepada Julius Pour dari Kompas, penulis buku Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan.  

Jenderal TNI LB Moerdani saat masih muda belia dan saat menjabat Panglima ABRI -Ist

Suatu hari, di jalanan Jakarta, Ria menemukan selebaran dan surat kaleng yang isinya mendiskreditkan Benny Moerdani, ayahnya. Segera ia membawa selebaran-selebaran itu ke rumahnya.

Maksud hati ingin memberitahu sang ayah, namun sampai di rumah Ria justru mendapatkan Benny tengah membaca selebaran-selebaran yang sama.

Ria menyatakan rasa khawatirnya terhadap isi selebaran-selebaran tersebut. Namun sejak awal sang ayah memang kerap mengingatkan dia dan ibunya untuk selalu siap menghadapi kenyataan terburuk.

“Pekerjaan saya ini banyak risikonya, Jadi kamu sama Mama harus selalu bersiap-siap…,”,kata LBM.

Ria tak pernah melupakan kejadian itu.

Benny Moerdani dikenal sebagai perwira TNI yang banyak berkecimpung di dunia intelijen, sehingga sosoknya banyak dianggap misterius. Ke-Katolik-annya juga memberi kesan “ikut misterius”, tak diekspresikan secara gamblang dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, jangan meremehkan keteguhan iman seorang Leonardus Benyamin Moerdani.

Dalam buku memoarnya Menyibak Tabir Orde Baru. Memoar Politik Indonesia 1965-1998, Jusuf Wanandi mencatat kisah yang mengesankan tentang keteguhan iman Benny Moerdani.

Pada halaman 335-336 memoirnya itu, Jusuf Wanandi menulis begini:

“Benny mempunyai banyak musuh. Namun, pada tahun 1987, ia masih dalam posisi yang sangat kuat sebagai Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib, yang ketika itu masih merupakan lembaga yang kuat, dan orang-orang Benny mendominasi intelijen sipil dan militer.

Ia adalah king maker Indonesia. Bahkan ada yang berpikir dia adalah raja – mungkin termasuk Benny sendiri – betapa pun tidak realistisnya itu.”

“Selain itu, ada beberapa kendala yang harus diatasi Benny. Salah satunya adalah agama yang dianutnya. Memang pencalonan itu bisa terjadi. Tetapi sebagai umat Katolik, tidak mungkin ia menjadi Presiden. Benny tak akan mengubah kepercayaannya. Benny sangat jelas pendiriannya mengenai keimanannya.”

“Saya ingat, dalam suatu acara makan malam Bersama Benny, hadir Harry Tjan, saya dan sejumlah redaktur senior yang berkawan dekat dengan Benny, seperti Jakob Oetama dari Kompas dan Fikri Jufri dari Tempo. Fikri, mungkin sudah terpengaruh oleh anggur merah, sambil menangis berkata kepada Benny: ‘Mengapa Pak Benny tidak menjadi Muslim? Kami akan bisa memilih bapak sebagai Presiden Republik ini’.”

“Yang lain terdiam mendengar ucapan Fikri. Kami sudah mengenal Benny dengan baik. Dia temperamental dan tidak bisa ditebak. Benny memandang Fikri dan berkata: Memangnya saya semurah itu, melepas kepercayaan saya hanya untuk mengejar jabatan? Tidak akan pernah.

Demikian kesaksian Jusuf Wanandi.

JB Sumarlin dan LB Moerdani, 100% Katolik 100% Indonesia

Biasanya, dalam merefleksikan panggilan menjadi orang Katolik yang baik dan ideal di Indonesia ini, para pengkotbah, penceramah, pengarah atau penulis, hampir selalu mengacu pada pandangan “klasik” Mgr. Albertus Soegijapranata: 100% Katolik, 100% Indonesia.

Kadang, “acuan” dari Mgr. Soegija yang sudah jadi baku dan “klise” ini, ditambahkan sedikit “bumbu” semboyan pro ecclesia et patria.

 Dari beberapa kisah keteguhan iman Sumarlin dan Benny Moerdani di atas, tentu dengan mudah kita bisa mengatakan bahwa Pak Marlin dan Pak Benny sudah menghayati iman kepercayaannya dengan baik.

Mereka “100% Katolik dan 100% Indonesia”, mereka “100% Indonesia dan 100% Katolik.”

Tentang kekatolikan dan keindonesiaan ini, Mgr. Ignatius Suharyo sudah pernah mengupasnya dengan mendalam.  

Dalam buku Catholic Way terbitan Kanisius (2010) yang ditulis sebelum menjadi Kardinal, Mgr.Suharyo dengan gamblang menerangkan arti menjadi “Katolik 100% dan Indonesia 100%” itu.

Menurut Kardinal Suharyo, seorang Warga Negara Indonesia yang beragama Katolik, justru  karena imannya, idealnya bergerak melibatkan diri dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia khususnya yang kecil lemah miskin, tersingkir dan difabel. (Bdk GS 1, Mat 25: 40).

Sikap yang ideal itu harus kita usahakan secara pribadi maupun bersama pada segala jenjang.

Kita mesti bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat manusia yang makin bermartabat, adil dan sejahtera bersama.

Dalam arah ini, kiranya kita bersyukur pernah memiliki tokoh tokoh Katolik yang benar dan “bener”, yang 100% Indonesia dan 100 Katolik seperti JB Sumarlin dan LB Moerdani. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here