Puncta 14.02.20 PW St. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup: SLB Dena Upakara

0
192 views
Susteran PMY SLB Dena Upakara Wonosobo gelar acara buka puasa bersama. (Sr. Alfonsa PMY)

Markus 7:31-37

SEKOLAH Luar Biasa Dena Upakara di Wonosobo adalah tempat mendidik anak-anak berkebutuhan khusus yakni tunarungu. Mereka diajari supaya bisa berkomunikasi dengan orang lain secara oral.

Mereka mempunyai talenta dan kemampuan yang besar. Cuma mereka tidak mampu mengungkapkan dengan bahasa. Maka para pendamping mengajari mereka berbahasa. Seperti seorang ibu yang sangat bahagia jika anaknya bisa mengucapkan kata “mama atau papa”, begitu juga para pendamping itu merasakan sebuah mukjizat Yesus jika anak-anak didiknya bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka.

Sekolah yang dikelola oleh para suster PMY di Wonosobo ini mendampingi Play Group. TKLB, SDLB dan SMPLB.

Ada juga kelas latihan kerja, supaya mereka bisa bekerja di tengah masyarakat umum. Banyak mutiara terpendam yang dapat digali di tempat ini.

Pengalaman itu adalah pengalaman mukjijat sebagaimana Yesus menyembuhkan orang sakit bisu tuli.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap di daerah Dekapolis. Yesus mengajak orang itu sendirian.

Lalu Yesus melakukan ritus penyembuhan dengan memasukkan jari ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah si sakit, menengadah ke langit dan berkata, ”Efata”, maka terbukalah. Terbukalah telinga orang itu dan terlepas pula pengikat lidahnya.

Peserta didik di SLB Dena Upakara itu juga disendirikan, diasramakan, supaya mereka bisa didampingi dalam proses pendidikan, sehingga mereka mampu berbicara. Ketika mereka melihat dan mendengar anak-anak bisu tuli bisa berbicara.

Mereka takjub dan tercengang. Allah menjadikan semuanya baik. Tuhan itu sungguh maha murah dan mahakuasa.

Seperti orang-orang Dekapolis itu memuji Allah, “Ia menjadikan segala-galanya baik. Yang tuli dijadikannya mendengar, yang bisu dijadikannya berbicara.”

Sukacita yang besar itu tak mampu dibendung. Kendati Yesus melarang untuk diberitakan, tetapi mereka menceritakannya kemana-mana dan kepada siapa pun juga.

Kebahagiaan itu tak bisa ditutupi, harus dibagikan kepada banyak orang. Banyak kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Itu harus dibagikan sehingga makin banyak orang mengalami sukacita.

Anak kodok namanya precil
Dijala dengan memakai sarung kain
Hidup ini terdiri dari mukjijat-mukjijat kecil
Kita bisa menularkan kepada orang lain.

Cawas, menunggu hari cerah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here