Puncta 18.02.20: Ragi Kemunafikan

0
300 views
Ilustrasi: Antrian panjang anak-anak SD di Katedral Atambua untuk menerima Sakramen Tobat jelang komuni pertama. (Romo Kris Fallo)

Markus 8:14-21

KALAU kita berhenti di palang rel kereta api. Kita akan melihat pemandangan semrawut di kedua sisi rel.

Pertama beberapa orang memenuhi badan jalan. Yang di belakang kemudian mengikutinya, sampai seluruh badan jalan itu penuh berdesakan kendaraan. Tidak hanya di sisi sebelah sini, tetapi di sisi sebelah sana juga tidak kalah penuhnya.

Ketika palang rel dibuka, semua kendaraan berdesak-desakan di tengah jalan membikin kemacetan yang panjang. Mereka saling berebut menjadi terdepan yang paling cepat.

Tidak ada yang mau mengalah. Tak masalah walau melanggar aturan.

Betapa hal buruk itu mudah sekali menular. Keburukan lebih mudah ditiru daripada hal-hal yang baik.

Betapa sulitnya mengajari budaya antri.

Yesus memperingatkan kepada murid-muridNya, “Berjaga-jaga dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”

Ragi membuat adonan roti menjadi besar mengembang. Ragi mempengaruhi adonan. Ragi itu adalah pengaruh, dampak yang menghasilkan sesuatu. Ragi orang Farisi yang dimaksud Yesus adalah kemunafikan.

Ragi Herodes adalah kekuasaan atau kesewenangan. Yesus memperingatkan murid-muridNya agar waspada terhadap kemunafikan dan kesewenang-wenangan.

Namun para murid tidak memahami apa yang disampaikan Yesus. Mereka berpikir lain. Mereka tidak menangkap apa maksud Yesus. Para murid hanya melihat dan mendengar yang lahiriah saja. Mereka salah mengerti maksud Yesus.

Murid-murid mengira Yesus menegur mereka karena tidak membawa roti. Kesalah-pahaman ini dipakai oleh Yesus untuk lebih menekankan agar tidak perlu kawatir tentang makanan.

Para murid diingatkan tentang pergandaan lima dan tujuh roti untuk ribuan orang. mengapa harus kawatir tentang makanan.

Yang dikawatirkan Yesus justru ragi orang Farisi yakni sikap munafik dan ragi orang-orang Herodian yakni sikap “adigang, adigung, adiguna.”

Sikap adigang itu diumpamakan dengan kijang yang sombong karena bisa lari kencang. Adigung itu seperti gajah yang sombong karena badannya besar.

Adiguna itu seperti ular yang bisanya mematikan. Kendati kijang larinya kencang, gajah badannya besar dan ular bisanya beracun, namun mereka tetap punya kelemahan. Maka jangan sombong.

Ragi atau pengaruh nilai-nilai buruk itulah yang dikawatirkan Yesus, hal-hal buruk itu lebih mudah menular daripada hal-hal yang baik.

Menanam kebaikan itu butuh waktu lama, sementara menabur hal buruk itu sangat cepat dan mudah. Maka kita mesti waspada dan berjaga-jaga senantiasa.

Naik tangga menikmati lorong
Dalam gelap hanya dapat melihat mata
Janganlah kita menjadi sombong
di hadapanNya kita bukan siapa-siapa

Cawas, levelnya masih tak tertandingi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here