Puncta 20.06.19 Mt 6:7-15: “Ceritane Den Baguse Ngarso”

0
413 views
Ilustrasi: Den Baguse Ngarso by Ist

DALAM sebuah pentas ketoprak, Den Baguse Ngarso bercerita pada Wisben,

“Ben, ngerti ora nek romo-romo kae sembahyang arep dhahar. Aku ngerti wong aku kerep diajak dhahar bareng kok. Dongane romo kuwi miturut sikon. Yen caosan dhahare durung teka, dongane dawa-dawa. Ben cepet dikirim. Yen lawuhe tahu tempe, dongane cekak aos. Nanging yen lawuhe ingkung iwak pitik, cepet-cepet gawe tanda salib, wes wes wes kaya nggusah laler kae. Wis rampung.”

Wisben bertanya, “lha kok tanda salibe cepet-cepet ngapa?”.

Mengko ndak ndhase pitik selak disaut kancane,” jawab Den Baguse Ngarso.

Den Baguse Ngarso cerita pada Wisben, “Ben, tahu gak kalau romo-romo itu doa sebelum makan. Aku tahu karena sering diajak makan bersama. Doanya itu melihat sikon. Kalau kiriman dari umat belum datang, doanya panjang-panjang. Biar cepat dikirim. Kalau lauknya tahu tempe, doanya singkat saja. Tapi kalau lauknya ayam goreng utuh, doanya cuma tanda salib wes wes wes selesai.”

Wisben bertanya, “kok cuma bikin tanda salib saja kenapa?”

“Biar kepala ayamnya tidak diambil orang lain,” jawab Den Baguse Ngarso

Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya, “Bila kalian berdoa, janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.

Mereka menyangka doanya akan dikabulkan karena banyaknya kata-kata.” Yesus mengajarkan doa wasiat yakni Doa Bapa Kami.

Yang pertama harus dilakukan dalam doa adalah memuji Allah dan memuliakan namaNya.

Biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Dengan membiarkan kehendak Allah terjadi berarti kita menghadirkan KerajaanNya.

Kedua, membangun relasi baik dengan sesama yakni dengan berani mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Itulah inti doa yang diajarkan Yesus.

Kalau kita mengalami kesulitan berdoa, ucapkanlan doa Bapa kami. Doa itu adalah doa wasiat dan sangat bagus. Tidak perlu banyak kata-kata yang bertele-tele. Tuhan Allah Maha mengetahui.

Tentu saja tidak seperti ceritanya Den Baguse Ngarso, doa singkat hanya karena takut lauknya disambar orang. Doa Yesus itu mendorong kita berbuat secara vertikal dan horisontal. Vertikal yakni memuji Allah.

Horisontal yakni berani mengampuni kesalahan orang lain. Kalau hidup kita dengan Allah baik, maka juga akan nampak kebaikannya kepada sesama. Jika kita mau mengampuni sesama, Bapa di surga juga akan mengampuni kita.

Ke Cawas lewat Karangwuni
Tujuan utama ke Surakarta
Kalau kita mau mengampuni
Bapa di surga akan mengganjar kita

Berkah Dalem,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here