Puncta 23.08.19 Mat 22: 34-40: Segenap Jiwa Raga

0
388 views
Melayani sepenuh hati by Ist.

SUATU kali saya memimpin misa di salah satu stasi. Tengah misa berlangsung, tiba-tiba ada penjual ikan berhenti di depan gereja. Dia tahu ada banyak kerumunan orang di gereja.

Ini peluang berjualan. Tengah saya berhomili, seorang ibu keluar. Lalu ia masuk lagi sudah membawa satu ikat berisi 5 ekor ikan segar.

Ia bisik-bisik dengan ibu di sebelahnya. Temannya juga keluar. Masuk lagi sudah membawa serenteng ikan segar.

Saya bilang sambil berkelakar. “Ibu-ibu gak usah beli ikan, nanti Tuhan Yesus akan mempergandakan 5 roti dan 2 ikan.”

Di tempat lain. Ketika misa sedang berlangsung, bunyi HP memanggil dengan keras. Saya diam tanpa bicara.

Semua mata tertuju dan memalingkan muka mencari asal suara HP. Seorang ibu dengan gegap gempita merogoh ke dalam tasnya. Mukanya merah padam ketakutan, karena bunyi HP berasal dari dalam tasnya.

Hari ini Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat tentang hukum yang utama. Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu.”

Kalau kita ke gereja sebagai tanda kasih kita kepada Tuhan, apakah kita melakukannya dengan segenap jiwa raga?

Badan kita di gereja, tetapi pikiran ada di mana-mana. Ada suara WA atau SMS sudah gelisah. Bahkan sedang ikut misa, diselingi terima panggilan telpon.

Tuhan bersabda tidak diperhatikan.

Kalau mengasihi Tuhan sebagai hukum yang utama, mengapa kita tidak fokus ikut perayaan ekaristi? Bagaimana kita bisa konsentrasi, memberi waktu kepada Tuhan secara khusus ikut terlibat dalam ekaristi.

Bagaimana kita menggunakan jiwa, raga, hati dan akal budi untuk mengasihi Tuhan? Ada tata gerak dalam liturgi, ada nyanyian yang melibatkan hati dan perasaan. Apakah kita mengikutinya dengan sungguh-sungguh?

Kadang saya bertanya, apakah orang yang ikut misa itu bisu ya? Untuk menjawab amin sewaktu menerima komuni saja kok susah.

Malah sering ada anggota “SMKN” (Sesudah Menerima Komuni Ngaciiiirr).

Mengikuti ekaristi hanya salah satu bagian untuk mengasihi Tuhan. Tetapi kalau kita bisa mengkonsentrasikan diri dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, pasti kita pulang akan membawa berkat.

Setelah diberkati, kita diutus membagi kepada sesama. Kasih kepada Tuhan lalu diwujudkan dengan mengasihi sesama.

Membeli sepatu di pasar klithikan
Ternyata ukurannya berbeda
Tidak ada gunanya mengasihi Tuhan
Kalau tidak bisa mengasihi sesamanya.

Cawas, suatu senja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here