Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara Maneges Kersaning Allah (5)

0
3,107 views

BARU sekaranglah, justru setelah kaul kekal di Sendangsono, saya pun menyadari bahwa sikap para pemimpin dan pembimbing SJ terhadap saya, ketegasan mengenai keharusan memilih atau eremit atau Yesuit, pada akhirnya bukanlah mengenai kesesuaian atau ketidaksesuaian antara pola hidup eremit dan Yesuit; bukan pula mengenai bentuk-bentuk hidup religius tertentu; melainkan pada dasarnya mengenai apakah yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dari saya pribadi, lepas dari segala macam peristilahan dan pengkotak-kotakan!  (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1)

Dalam ucapan dukungan doa bagi saya menghadapi kaul kekal sebagai eremit ini tampaknya para Yesuit ingin menghibur kesedihan saya akibat meninggalkan SJ.

Rm Putranta menulis: “Kehendak Tuhan tidak selalu bisa tertampung dalam ‘box-box’ yang kini tersedia. Perjalanan mencari bentuk panggilan kini telah tiba di suatu perhentian yang kiranya tidak akan menghentikan pencarian itu sendiri. Selamat menempuh hidup sebagai hermit, Martin. Oremus pro invice.”

Dari Thailand, Pater Alfonso de Juan menulis, “Whether a Hermit or a Jesuit we ARE sons of GOD and brother of Jesus Christ. In union of prayers and love in Christ, your brother Pho So.”

Pater Pollock menulis di kartu ucapan selamatnya, “Congratulations! You are in the right place at last!” dan dari Malaysia ia masih mengirimkan SMS: “I thought the whole ceremony and atmosphere was wonderful. How many hermits in the history of the Church took their vows before 10,000 people?”

Terlepas apakah Father Paul agak lebay dalam menyebut jumlah 10.000 orang itu (masak sih sampai segitu) namun memang peristiwa di Sendangsono ini sungguh ironis bagi seorang eremit yang sebenarnya dipanggil untuk hidup tersembunyi dalam Kristus (Kol 3:3)!

Mantan Magister Karthusian saya, Dom Cyril, menulis: “One thing only is necessary and his name is Christ, and his nature love. I will orchestrate the prayer support of us all here, so if you feel someone is pushing you from behind, that is us.”

Sesudah kaul, saya menginap semalam di Sendangsono dan keesokan harinya berziarah ke makam Pater Prenthaler SJ di Boro dan makam Pater Van Lith SJ dan para Yesuit lain, juga makam Kardinal Darmoyuwono dan Romo Sandjojo, di Muntilan. Sebenarnya saya masih ingin berziarah ke makam SJ di Girisonta, namun panggilan keheningan memaksa saya segera balik ke Triniji. Saya merasa bahwa bukan hanya yang masih hidup, melainkan yang sudah meninggal pun ikut mendorong saya dari belakang.

Mengembara meraba-raba

Hanya satu Yesuit memberi catatan kritis melihat saya yang selalu kebingungan ini. Waktu saya pulang dari biara Karthusian, Rm Bernhard ‘Teddy’ Kieser SJ , dengan ketegasan yang khas bilang pada saya, “Martin, kamu ini musti punya suatu projek dalam hidup. Entah apa pun!”

Ia bercerita tentang seorang Yesuit Jerman yang setelah lima tahun di biara Karthusian kemudian kembali sebagai Yesuit dan hidup sebagai pastor paroki di suatu tempat sepi di pegunungan. Membaca Program of Living saya, bikin ia mangkel dan mengomel.

Rm Kieser mengomel demikian: “Apakah dia (mulai dari Giri Sonta dan selama sekian tahun sejak itu) tidak belajar sesuatu yang lebih menarik? Lebih baik tinggal di Parkminster, kalau tokh hanya adaptasi Kartusian! Mengapa the program of living pun harus mulai dengan Triniji Suci?”

Mungkin maksud Rm Kieser, karena saya menulis di halaman depan Program of Living saya sebagai “Adapted from the Statutes of the Carthusian Order”, dan terutama karena saya copy and paste kalimat pembukaan Statuta Ordo Karthusian, yang seperti pada Perayaan Ekaristi dimulai dengan “May the grace of our Lord Jesus Christ, and the love of God, and the fellowship of the Holy Spirit be with us all. Amen” untuk membuka Program of Living saya.

Beliau meneruskan “Hatiku mangkel dan berkata: waktu menyusun itu, dia tidak belajar dari gaya SJ – formulanya mulai dengan menyebut apa yang akan mereka buat. Bukankan program hidupnya juga seharusnya mulai dengan tanah di pinggiran kampung itu? Jelas bukan di tengah hutan rimba Kalimantan (kalau masih ada!) Kok, yang mau ‘eremit’ memilih di Jawa Tengah (yang ramai turis domestik, pariwisata suci dan kurang suci); di suatu daerah paling padat penduduk di seluruh dunia!”

Kata beliau lagi, “Mau buat apa dia di situ? Mau membuat apa bersama dengan orang- orang yang sudah lama di situ? Pokoknya ada projek, ada program, ada acara harian, ada rencana ber’rumah-tangga’ lengkap dengan keuangan … dan semuanya itu bukan kesimpulan dari panggilan Allah Bapa melalui Yesus Kristus Putra-Nya dalam Roh Kudus, melainkan suatu pilihan praksis dan program hidup mulai ‘dari bawah’.”

Beliau bertanya mengapa saya memilih tanah di KS?, “Hanya karena ada tanah di situ atau karena melihat di lingkungan itu suatu panggilan sebagai ‘saksi’? Tentu saja – semuanya itu dapat menjadi ‘penugasan’. Namun mengapa tidak pilih di lereng Gunung Papandayan atau Gunung Gede – di tengah umat Muslim (yang sedikit sekularistik Jawa Barat), seperti Charles de Foucault di Maghrib? Dan baru setelah semuanya itu, ada liturgi dan doa dan silence dan baru setelah itu lagi, ada iman dan kerohanian dalam kebersamaan begitu banyak saksi yang bagaikan awan mengelilingi kita – bukan?”

Terus terang waktu membaca komentar kritis Rm Kieser dulu itu saya langsung menjadi minder dan down. Ternyata bukan saja saya memang tak pantas menjadi Yesuit, tapi patut disangsikan pula bila saya mau jadi eremit yang tepat guna seperti Charles de Foucault yang saya kagumi pula.

Saya ingat, di tahun pengembaraan 1977 saya pernah mohon informasi mengenai panggilan ke kantor pusat tarekat yang didirikan dengan semangat Charles de Foucault, Little Brothers of Jesus, di Roma; tapi karena musti ke Manila bila mau jadi postulan, akhirnya saya batalkan niat untuk mengenal mereka.

Di Kolsani sebelum ke Sendangsono, sehabis berdoa bersama dari Mazmur 131, sesudah memberikan berkat dan pelukan hangat untuk saudara yang tengah pergi dari SJ ini, Rm Kieser masih mengejar: “Pertanyaan saya masih sama: Mengapa kamu memilih menjadi eremit di situ?”

Saya terperangah dan cuma bisa ngeles dengan bercerita bahwa ada pepatah dalam tradisi padang gurun, “Bukan pertapa yang memilih kesunyian, tetapi kesunyianlah yang memilih pertapa”, dan dalam tradisi Karthusian, “Bila selmu tak menghendakimu, ia akan memuntahkan kamu keluar” seperti terjadi pada saya di Parkminster.

Saya simpulkan bahwa bukan sayalah yang memilih tempat, tapi memang tempat itulah yang telah memilih saya. Rm Kieser pun tetap bertanya dengan penuh senyum, “Ya tapi pertanyaan saya tetap sama: apakah kamu tak pernah bertanya, mengapa kamu dipilih untuk hidup di tempat itu?”

Yah, saya mengaku bahwa saya memang tak pernah menanyakan hal itu. Saya katakan bahwa selama 40 tahun ini saya hidup dalam ketegangan emosional ingin tetap hidup sebagai Yesuit meski menyadari di lubuk hati bahwa saya terpanggil ke arah pertapaan. Jadi sampai sekarang pun saya tak tahu mengapa saya dipanggil ke tempat itu.

Saya teringat bahwa sesudah beberapa bulan menetap di Triniji Suci, ada tetangga yang bercerita bahwa penduduk dukuh sudah lama tahu bahwa saya akan tinggal di situ. Seseorang waskita dukuh itu, alm. Mbah Rono, selagi masih hidup tigapuluhan tahun y.l. pernah berujar “Di suatu waktu di masa depan, entah kapan, tapi saya tak akan mengalami, ada seseorang, pandhita, yang sudah berkeliling ke mana-mana, akhirnya membangun rumah dan menetap di pojok barat daya dukuh ini”, sambil menunjuk arah tanah yang sekarang saya tempati ini.

Versi lain ujaran itu mengatakan “seseorang dari Kraton Ngayojakartahadiningrat”. Kehadiran saya dianggap menepati ujaran itu karena saya seorang pandhita, meski Katolik, dan sebelum ke dukuh ini memang datang dari Yogyakarta.

Rm Koentara Wiryamartana SJ di akhir-akhir hidupnya berpesan pada seorang saudara saya bahwa beliau ingin sekali mengunjungi saya di kaki Lawu ini. Memang saya pernah bercerita pada beliau bahwa sesudah saya pindah ke Triniji Suci, baru saya teringat bahwa sebenarnya almarhum ayah beliau pernah menyuruh saya ke Lawu.

Waktu itu dalam perjalanan kaki ke Jawa Timur 1977, saya mampir Kolsani dan Rm Koentara menyuruh saya menghadap ayahnya untuk minta petunjuk. Saya pun mengikuti nasehat Rm Koentara dan sowan ayahnya, seorang Lurah di Delanggu.

Ayah Rm Koentara, mendengar kisah saya lalu tafakur sejenak, dan kemudian mewejang: “Nak Martin pergilah ke Gunung Lawu!” Hanya saja saya malas berjalan menanjak ke tempat dingin, dan dari Solo saya lewat Wonogiri untuk ke Jawa Timur lewat Ponorogo, justru sengaja menghindari Lawu. Mendengar kisah itu, Rm Koentara terkekeh-kekeh, “O begitu ya? Bapak sudah tahu ya?”

Tapi dalam semua penangkapan batin para waskita itu tak disebutkan apa fungsi saya, apa tugas saya, di tempat yang seakan memang memilih saya ini. Banyak kebetulan seakan memang menuntun saya ke kaki Lawu, dan saya cuma mengalir saja dengan segala peristiwa kebetulan itu tanpa banyak bertanya, bagaikan lembu yang dicocok hidungnya dan digeret ke mana saja, atau bagaikan sapi yang digiring ke pembantaian!

Apakah saya memang tak pernah merencanakan atau menginginkan tempat lain untuk bertapa? Ada satu tempat yang selama ini saya kesampingkan. Semasa masih menjadi rahib Karthusian, dalam kegelisahan karena merasa krasan di sel Karthusian namun juga merasa bahwa bukan itulah tempat saya, pernah bergema keras dalam batin suara: “Go to China!” Baru kali ini saya menceritakan hal ini.

Saya pun saat itu teringat bahwa di akhir tugas saya di Thailand, sebelum ke Manila, saya pernah tinggal beberapa minggu melayani para penderita kusta di Pulau Tai Kam (ditulis juga Taikam, Tai-Kam), Laut Cina Selatan. Para suster India dari tarekat St. Yosef suatu hari menunjukkan sebuah gua dekat kompleks penampungan orang kusta. Mendengar akan kerinduan saya menjadi pertapa, mereka mengundang saya hidup di gua itu kelak bila saya selesai tugas di Manila.

Selama di sana saya sempat mengunjungi tempat St. Fransiskus Xaverius wafat sebelum sempat masuk ke Cina, yaitu Pulau Shangchuan, hanya satu jam naik perahu dari Pulau Tai Kam bila tak ada badai. Di kapel di Shangchuan itu saya pernah memohon supaya boleh berkarya di China.

Berkarya di China itu keinginan lama sejak novisiat dulu. Dan ketika permohonan seperti itu pernah saya ajukan ke Pater Jendral Kolvenbach selagi saya tugas di Thailand, beliau cuma menjawab, “Ah, your blood is calling you!” menunjuk pada asal usul Cina saya.

Saya pun berpikir waktu mendengar gema suara dalam batin yang menyuruh saya ke Cina, alangkah indahnya hidup di gua sebagai pertapa. Sungguh tepat seperti “penglihatan” yang saya alami ketika dulu membaca Ratapan 3:28 (bukan seperti sekarang ini dalam pondok Triniji Suci yang bagaikan “villa” terindah di seluruh wilayah dukuh!).

Ketika hal itu saya sampaikan ke Prior Karthusian, Father John Babeau, beliau menjawab bahwa malam itu pun kalau saya mau berangkat, ia akan mempersilahkan, tetapi apakah jelas itu dari Tuhan atau bukan. Orang harus membedakan, mana yang datang dari Tuhan, mana yang dari bawah sadar kita sendiri, dan mana yang dari setan. Orang harus hati-hati terhadap “inner locutions, dreams, visions etc.”

Father John berkata, “Carthusian monks no less than every Christian, live by faith, a faith that is not often supported by interior or exterior manifestations. Blessed are those who have not seen but believe and are poor in spirit. Road of the humble and the poor.” Ia melanjutkan, “We have to listen to God’s voice which speaks silently in the depths of our soul rather than externally, however true the latter may be. In other words, we hear God in a sure way when we read his message written in our souls and in our lives.”

Karena itulah saya akhirnya mengesampingkan pilihan untuk hidup bertapa di China. Serba tidak jelas, meski dengan niat luhur demi pertobatan China, begitu kata hati saya. Sudah saya katakan di awal bahwa sejak ayat Ratapan 3:28 itu muncul dalam hidup saya, hidup saya memang menjadi serba tidak jelas, merupakan kegelapan saja, dan saya hanya bisa berjalan tertatih-tatih sambil meraba-raba.

Ada seorang saudara sepupu yang menceritakan bahwa menurut seorang Yesuit yang ia kenal, selama ini discernment saya itu keliru; saya hanya membuang-buang tenaga, waktu, biaya dll karena di tahun 1977 itu seharusnya saya tetap maju menapaki jalan menjadi pertapa, meski tak jelas, dan bukannya malah kembali ke SJ. Bisa jadi begitu; mungkin akan lebih heroik seandainya waktu itu saya maju terus, ber-rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Tapi kenyataannya tidak semudah itu bagi saya yang mengalami sendiri. Saya bagaikan istri Lot yang menengok ke belakang, untung saja saya tak menjadi tiang garam (Kej. 19:26). (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara di Bawah Payung Kanonik (6)

Kredit foto: Romo Antonius Dadang Hermawan (Keuskupan Agung Semarang)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here