Suster OSA dalam Tantangan Zaman: Pil Pahit di Tumbang Titi, Menutup Karya Kesehatan Tahun 1968 (5)

0
131 views
Sr. Joanita Dekker OSA "Bidang Kampung" di Tumbang Titi era tahun 1962-an. (Dok. OSA/Repro MH)


RINTISAN karya kesehatan untuk ibu-ibu hamil dan anak melalui BKIA-RSB asuhan para suster St. Augustinessen (OSA) di Tumbang Titi rupanya tidak bisa berlangsung lama.  

Dirintis awal oleh Sr. Joanita Dekker OSA –Suster Bidan Kampung—di awal tahun 1962, namun catatan sejarah menulis bahwa karya ini tiba-tiba saja harus berakhir pada tahun 1968.

Karya monumental di Tumbang Titi ini praktis hanya “hidup” selama kurun waktu enam tahun saja. Sesudah itu, langsung tutup dan selesai purna waktu dalam sekejap.

Sungguh, sebuah pil pahit terpaksa dialami oleh para suster misionaris asing OSA yang merintis karya kesehatan di Tumbang Titi. Mereka adalah Sr. Euphrasia Laan OSA, Sr. Desideria OSA, dan juga Sr. Joanita Dekker OSA.

Pemicu tutupnya karya kesehatan yang diampu oleh para suster OSA di Tumbang Titi ini tidak jelas. Dokumen yang tersedia tidak mengisahkan latar belakang mengapa karya penting ini sampai harus “gulung tikar”.

Karya lain di bidang kursus keterampilan khas perempuan dan asrama tetap berlangsung dengan lancar.

Kecemburuan sosial

Namun sebuah kesaksian dirilis tahun 2005 oleh Sr. Maria Goretti OSA.

Suster OSA pribumi generasi kedua ini “angkat bicara” sembari mengutip paparan diskusi yang terjadi dalam forum Kapitel OSA pertama yang digelar di Ketapang mulai tanggal 12 Desember 1972.

Dalam rapat internal para suster OSA dan juga dihadiri sejumlah imam Passionis (CP) itu, demikian tutur Sr. Maria Goretti OSA, sempat dibahas beberapa “masalah sosial” yang sempat membebati karya kesehatan para suster OSA.

Tidak jelas apakah komentar Sr. Maria Goretti OSA itu punya relasi historis dengan keputusan OSA harus menutup karya kesehatan di Tumbang Titi atau tidak.

Sr. Maria Goretti OSA, suster St. Augustinessen pribumi generasi kedua. (Dok OSA/Repro MH)

Namun, di situ dengan sangat jelas disebutkan bahwa telah pernah terjadi riak-riak kecil berupa “kecemburuan sosial” yang menyeruak di antara para tenaga medik, utamanya dokter.

Mereka ini tidak senang bahwa para suster biarawati OSA ini bisa mengemban karya layanan kesehatan menangani kesehatan ibu-ibu hamil dan bayi mereka melalui BKIA-RSB –hal yang mestinya menjadi ranah kerja dan fungsi para dokter ahli kandungan dan kebidanan (obstetri dan ginekologi)

Lagi-lagi tidak disebutkan dengan jelas apakah kecemburuan sosial itu terjadi di Tumbang Titi atau di tempat berbeda.

Bagaimana pun juga, akhirnya “pil pahit” itu harus berani mereka telan.

Namun kemudian, pengalaman yang sangat tidak mengenakkan itu juga telah membuka perspektif baru untuk memulai karya baru di tempat lain. Dan pembukaan karya baru di bidang kesehatan yang sama itu di kemudian hari sungguh terjadi di Menyumbung dan Tumpang, Malang.

Sr. Joanita Dekker OSA menyapa seorang ibu sembari menggendong anaknya dalam sebuah kunjunngan ke pedalaman Tumbang Titi. (Dok OSA/Repro MH)

Yang terakhir –membuka karya baru di luar Ketapang– itu sungguh merupakan sesuatu yang mungkin tidak pernah direncanakan. Namun tiba-tiba saja, gagasan akan membuka karya kesehatan di Malang itu datang menyapa mereka seakan-akan seperti bintang yang mendadak “jatuh dari langit”.

Itulah mengapa orang sering mengatakan, “Kadang-kadang, segala sesuatu itu datang tepat dan indah pada waktunya.” (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here