Workshop Guru Zaman Now MNPK-KAP, Jadilah Guru Kreatif dan Inovatif

0
947 views
Dua suster biarawati SFIC Pontianak rela ngejogrok mengerjakan projek latihan berinovasi dengan bahan-bahan peraga untuk pengajaran.

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara global dewasa ini telah menyentuh semua aspek kehidupan maupun pekerjaan. Begitu juga dunia pendidikan tidak luput dari rembesan pengaruh pesatnya kemajuan itu. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan mesti gencar melakukan perubahan, pembaruan terus-menerus untuk para gurunya dengan cara mengikuti berbagai pelatihan dan seminar.

Mengapa guru yang pertama-tama harus dibekali?

Itu karena mereka adalah garda terdepan yang bertanggungjawab mengedapankan kualitas pendidikan peserta didik. Guru sebagai figur sentral di dunia pendidikan dewasa ini kerap menjadi sorotan dan penentu  sukses-tidaknya peserta didik. Maka, guru dituntut profesional agar tidak ‘salah asuh’. Artinya, mereka harus benar-benar berkompeten di bidangnya masing-masing.

Tuntutan profesional dan kompeten guru zaman now sebenarnya tidaklah muluk-muluk misalnya harus bisa menguasai materi ajar dengan baik, menguasai IT, menggunakan berbagai metode/model pembelajaran variatif, memiliki perangkat pembelajaran (silbus, RPP), mampu berkomunikasi dengan baik, proses KBM. Juga diharapkan mampu menggunakan ‘PAIKEM GEMBROT’ alias Pembelajaran Aktif Inovatif/Interaktif Kreatif Efektif Menyenangkan Gembira Berbobot. Lalu punya watak disiplin, penampilan menarik.

Oleh karena, guru dituntut untuk benar-benar menjadi profesional dan kompeten dalam lingkup yang paling kecil  sesuai bidangnya masing-masing. Jika tidak, maka beberapa penyakit berikut siap mengerogoti mentalitas para guru seperti:

  • ‘ASMA’ (ASal Masuk Kelas).
  • ‘ASAM URAT’ (Asal Sampai materi kurang akurat).
  • ‘MUA’L (Muatan Amat Lemah).
  • ‘KUDIS’ ( Kurang Disipilin).

Agar terhindar dari beberapa penyakit akut ini, maka seorang guru harus kreatif, inovati dan produktif.

Para suster lintas tarekat belajar bersama untuk meningkatkan kompetensi masing-masing sebagai guru di tempat di mana mereka berkarya sebagai tenaga guru di TK.

Pemberdayaan kompetensi guru

Menanggapi permasalahan yang cukup genting ini, lembaga atau forum pemerhati pendidikan sekolah-sekolah katolik di Pontianak yang bernama Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Pontianak (MPK-KAP), menggelar workshop Penguat Pendidikan Karakter (PPK) Terintegrasi PAUD, dengan tema “Guru Kreatif dan Inovatif”.

Seminar ini mengambil tema “Guru Kreatif dan Inovatif”. Demikian ungkap Ketua MPK-KAP, Br. Bernardinus Sukata MTB.

Tercatat 80 peserta yang terdiri dari para pengurus MNPK-KAP dan guru PAUD/TK katolik se-Kota Pontianak berkumpul di Rumah Retret Wisma Immaculata mengikuti workshop selama tiga hari, 16-18 April 2018 yang lalu.

Hadir sebagai nara sumber yaitu Widyaningtyas Sistyaningrum dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jakarta (LPMP DKI), Theo Wargito (Sekretaris MNPK), dan Roy Yusuf (pengurus MNPK jenjang PAUD).

Selama tiga hari guru-guru PAUD/TK ini dibimbing bagaimana menjadi guru yang kreatif, inovatif sekaligus produktif.

Sambutan dan pengutusan.

Menurut Roy Yusuf, pendidikan anak usia dini sangat penting. Anak-anak ini adalah aset bangsa yang harus dibina sejak awal. “Mereka perlu dipersiapkan untuk menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya. Salah satu investasi yang bisa kita berikan untuk anak-anak adalah memberikan pendidikan usia dini kepada mereka,” ungkapnya.

Para guru ini disuguhkan aneka metode-metode pembelajaran yang kreatif dan langsung dipraktekkan dalam kelompok masing-masing. Selain itu ada ruang sesi tanya jawab, diskusi dan presentasi. Mereka juga dihimbau untuk ‘jangan malas’ artinya jangan menganggap remeh materi pembelajaran yang akan diberikan kepada anak-anak didik.

Belajar bersama dalam kelompok untuk saling memperkarya pengetahuan dan keterampilan.

“Guru itu perlu belajar terus-menerus (lifelong learning) agar bisa mengikuti perkembangan zaman.  Belajar atau membaca materi yang akan diajarkan sambil mengeksplorkan materi tersebut sangat penting sebelum dia mengajar siswa/peserta didik di kelas,”ungkap Widyaningtyas.

Pembekalan bagi para guru PAUD/TK ini mendapat respon yang positif bagi peserta workshop, salah satunya adalah  Sr. Romana SFIC.

“Metode-metode ini sangat membantu saya untuk lebih kreatif lagi ketika berada di kelas. Selama ini saya kerap kehabisan ide untuk menyiapkan bahan ajar,” ungkap suster biarawati yang sehari-harinya bertugas di TK asuhan para suster SFIC di Pontianak.

Kredit foto: Sr. Romana SFIC dan Oliva.

Senyum merekah usai pelatihan.
Usai belajar bersama mengasah pengetahuan dan menambah kapasitas kompetensi, para suster dan awam yang berprofesi sebagai guru diutus mempraktikkan perolehannya di sekolah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here