WOW Paroki Cilincing, Jakut: Menuju Sukses dengan Menghargai Diri Sendiri

0
280 views
Romo Canisisus Sigit Tridrianto CM memberi sertifikat dan kenang-kenangan kepada Deddy Corbuzier. (Karyn/Sie Komsos Paroki Cilincing)

“GO out and try. You’ll never know who you inspire along the way.” — Nick Vujicic.

Kata-kata ini menjadi penyemangat para peserta Seminar WOW Day hari kedua yang diadakan di Gereja Salib Suci Paroki Cilincing di bawah Bidang Keadilan dan Perdamaian, Minggu 28 Mei 2019 yang lalu.

Meski dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan dan usia yang beragam, isi seminar dengan tema “Gw Cuma Lulusan SMA/SMK, So What Gitu?” tersebut dapat diterima dengan baik oleh peserta.

Pastor Kepala Paroki Cilincing Romo Canisius Sigit Tridrianto CM membuka acara tersebut dengan menegaskan bahwa keberhasilan atau kesuksesan tidak selalu ditentukan dari pendidikan formal yang ditempuh.

Menurutnya, pribadi yang tekun serta bersungguh-sungguh lah yang dibutuhkan. Namun, Romo Sigit juga menekankan untuk tetap mensyukuri jalur pendidikan yang sudah atau sedang ditempuh dan tidak menyepelekannya

Escalating confidence

Erwin Parengkuan, Founder Talk Inc yang menjadi pembicara dalam sesi pertama mengatakan bahwa kepercayaan diri adalah pintu utama menuju sukses. Kepercayaan diri terbentuk dari citra diri yang baik.

Citra diri ini diperoleh dari kemampuan menghargai dan mengevaluasi diri sendiri. Setelah mengenali diri, kita pun menjadi lebih fokus dalam meraih apa yang diinginkan.

Selain percaya diri, motivasi, skill, serta wawasan yang luas juga berperan penting dalam menggapai impian dan menuju sukses.

Tentunya, semua usaha itu perlu dilakukan secara konsisten.

Menurutnya, tiga bulan adalah waktu yang tepat untuk mengukur seberapa konsisten usaha yang dilakukan.

Dalam berusaha, terkadang kita terhalang oleh mental block yang bersumber dari diri sendiri dan orang lain. Pikiran negatif muncul, apalagi saat kita berada di lingkungan yang toxic.

Hal itu membuat kita percaya, kalau kita tidak mampu. Dalam hal ini, Deddy Corbuzier, pembicara kedua dalam seminar ini menambahkan, sukses adalah sebuah kemampuan untuk tidak terganggu hal-hal negatif.

Sukses adalah pengorbanan

Deddy mengatakan, kita seringkali berusaha terlalu keras untuk memuaskan keinginan orang lain. Padahal, kita memiliki hak atas diri kita sendiri.

Kita pun jatuh pada ‘perangkap’ yang membuat kita tidak bisa keluar dari lingkungan tersebut, dan menjauhkan kita dari kesuksesan.

Itulah sebabnya, Deddy mengatakan bahwa sukses adalah sebuah pengorbanan. Kita harus rela mengorbankan hubungan yang tidak sehat, waktu lebih, bahkan kenyamanan, untuk meraih apa yang kita impikan.

Tentunya, pengorbanan itu pelru didorong oleh passion yang luar biasa, dan tekad untuk membuktikan bahwa kita dapat meraih kesuksesan itu suatu saat nanti.

Sekolah, masih perlukah?

Lalu, apakah jalur pendidikan formal masih perlu ditempuh, jika kunci menuju sukses bukan terletak di situ? Era teknologi yang semakin berkembang, membuat zaman menjadi lebih mudah. Informasi dan pengetahuan yang dulu hanya didapat di sekolah, kini dapat diakses dengan begitu mudah.

Bagi Deddy, sekolah atau kuliah menjadi perlu, jika keinginan atau cita-cita kita membutuhkan pendidikan yang lebih dalam, serta ijazah ataupun sertifikat tertentu. Penting atau tidaknya pendidikan formal tergantung dari bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan dan mimpi kita. 

Erwin menambahkan, era teknologi juga membawa perubahan dalam dunia pekerjaan. Banyak pekerjaan yang hilang dan digantikan oleh mesin atau AI (artificial intelligence, kecerdasan buatan).

Menurutnya, ada tiga kemampuan yang masih belum bisa dilakukan mesin, yaitu kemampuan problem solving, kerjasama, dan kreativitas.

Dengan mengasah hal tersebut, jalan menuju sukses menjadi lebih dekat.

Para pembicara serta MC Desmona Chandra mengapresiasi para peserta yang begitu antusias terhadap acara seminar tersebut. Mereka datang dengan sudah dengan persiapan dan tujuan, sehingga acara seminar pun penuh berisi pertanyaan dan diskusi menarik.

Menurut Desmona Chandra, acara serupa sangat baik jika sering diadakan, khususnya untuk para Generasi Z dan Millenial.

Lewat acara ini, mereka bisa memperolah motivasi dan tekad yang kuat untuk terus mengembangkan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here