Home BERITA Lectio Divina 26.7.2025 – Buka Telinga dan Mata

Lectio Divina 26.7.2025 – Buka Telinga dan Mata

0
197 views
Mata terbuka, by Mihai Denis

Sabtu. Perayaan Wajib Santo Yoakim dan Santa Anna, Orangtua Santa Perawan Maria (P)

  • Sir. 44:1,10-15
  • Mzm. 132:11.13-14.17-18
  • Mat. 13:16-17

Lectio

16 “Namun, berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 17 Sebab, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Meditatio-Exegese

Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya

Setiap pribadi bukanlah individu yang terpisah satu dengan yang lain. Masing-masing hadir, tumbuh, berkembang di dunia dalam kesaling tergantungan.

Akar dari keberadaan masing-masing adalah kasih yang selalu menanti dan menyambut di rumah. Di tempat itulah masing-masing menjadi bagian sejarah unik yang menghidupkan. Maka, Putera Sirakh mengingatkan akan keberadaan sebagai ‘keturunan’ dan ‘pewaris’ dari mereka yang terdahulu (Sir. 44:11).

Paus Fransiskus mengajar, “Untuk menerima siapa diri kita dan betapa berharga kita, kita perlu menerima diri sendiri sebagai bagian dari pria dan wanita yang melahirkan kita.  Mereka tidak pernah memikirkan diri mereka sendiri, tetapi selalu menyalurkan kekayaan hidup mereka.

Maka, kita tak hanya harus berterima kasih pada orang tua kita,  tetapi juga pada kakek-nenek kita, yang membantu kita untuk merasa nyaman di terima di dunia. Mereka selalu mengasihi kita tanpa syarat dan tidak pernah mengharapkan imbalan.

Mereka selalu menggandeng tangan kita saat kita ketakutan. Mereka menggugah keberanian kita di kegelapan malam dan menyemangati saat kita harus mengambil keputusan penting dalam hidup. […]

Terima kasih, kakek-nenek, karena kita mebelajar akan kebaikan hati, kasih yang lembut dan kebijaksanaan, yang menjadi landasan kokoh hidup tiap manusia. Di rumah kakek-nenek, kebanyakan dari kita menghirup keharuman Injil, yang membuat kita betah.

Atas jasa mereka, kita menemukan keyakinan iman yang ‘dekat di hati’, yakni iman yang dihayati di rumah. Dengan cara itulah iman diwariskan, di rumah, melalui bahasa ibu, kasih sayang dan dorongan, perhatian dan kedekatan. […]

Dari kakek-nenek kita belajar bahwa cinta kasih tidak pernah dipaksakan. Ia tidak pernah merampas kebebasan batin orang lain. Begitulah cara Santo Yoakim dan Santa Anna mengasihi Maria dan Yesus.

Begitulah pula cara Maria mengasihi Yesus. Dengan kasih yang tidak pernah membungkam atau menghambat-Nya, sang ibu menemani-Nya melaksanakan tugas pengutusan-Nya di dunia.

Kitab Sirakh juga meminta kita untuk melestarikan sejarah yang memberi kita hidup, tanpa menghapus ‘kemuliaan’ para leluhur kita. Kita juga tidak boleh menghilangkan kenangan, melupakan sejarah yang melahirkan hidup kita.

Kita harus selalu mengingat tangan-tangan lembut yang menggandeng tangan kita. Karena dari sejarah ini kita menemukan penghiburan di saat dilanda keputus asaan, terang yang membimbing kita dan keberaniaan saat  tantangan hidup menghadang.” (Homily, Perayaan Wajib Santo Yoakim dan Santa Anna di Commonwealth Stadium di Edmonton, Kanada, 26 Juli 2022).

Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar

Dalam perumpamaan tentang penabur, penulis Injil menggunakakan kata μακαριοι, makarioi, yang berakar dari kata μακαριος, makarios untuk menyatakan pujian Yesus kepada para murid-Nya. Mereka disebut bahagia karena dianugerahi tentang rahasia Kerajaan Surga (Mat. 13:11); sedangkan para ahli Taurat, kaum Farisi, pemuka agama Yahudi dan sebagian besar orang menolaknya.

Para penolak disebut juga sebagai orang luar. Mereka tidak mempunyai disposisi/sikap batin percaya pada Yesus. Mereka tidak mempunyai ‘mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar’, ungkapan yang semakna dengan: mengimani.

Mereka, para orang luar, menolak Kabar Baik yang diwartakan Yesus. Mereka tidak mendengarkan dan mempercayai rencana keselamatan Allah, misteri Kerajaan Allah, yang dilaksanakan-Nya.

Mereka berpegang pada paham bahwa keselamatan diupayakan melalui usaha sendiri setiap rincian Hukum Taurat, seperti kisah pemuda yang bertanya pada-Nya tentang jalan untuk meraih hidup kekal (Mat. 19:16-26; Mrk. 10:17-27; Luk. 18:18-27).

Orang luar lain yang menolak rencana keselamatan Allah, seperti kaum Zelot, memegang dan memaksakan paham bahwa Mesias, Sang Kristus, Yang Diurapi haruslah seorang raja atau hakim perkasa dan mulia. Ia harus menang perang dalam membebaskan umat dari penjajah dan mendatangkan kemakmuran.

Sebaliknya, para murid-Nya mempersiapkan telinga dan hati untuk mendengarkan misteri Kerajaan-Nya dan disebut sebagai orang dalam. Tiap pribadi membuka telinga dan mata hati untuk melihat dan mendengarkan-Nya.

Mereka tidak melihat dan mendengarkan apa yang dilihat dan didengar orang-orang luar. Tetapi, mengimani Yesus datang untuk menggenapi rencana keselamatan Allah sebagai Hamba Yahwe yang sengsara, wafat dan dibangkitkan dari mati, seperti dinubuatkan, misalnya, oleh Nabi Yesaya.  

Pada mereka, Yesus menguatkan (Mat. 13:16), “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.”, Beati oculi, quia vident, et aures vestrae, quia audiunt.

Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat

Orang-orang benar, termasuk para nabi dari masa Perjanjian Lama, merindukan, menubuatkan, mewartakan dan mempersiapkan kedatangan Sang Mesias. Para patriak, bapa bangsa, seperti Yakub, merindukan keselamatan dari Sang Mesias, “Aku menantikan keselamatan dari-Mu, ya Tuhan.” (Kej. 49:18).

Kerinduan yang sama dari para leluhur iman membubung tinggi hingga menembus langit, seperti diungkapkan Nabi Yesaya (Yes. 45:8), “Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya.”, Rorate, caeli, desuper, et nubes pluant iustitiam.

Yesus pun menyatakan, “Banyak nabi dan raja dahulu ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk. 10:23). Selanjutnya, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku.” (Yoh. 8:56).

Mereka tidak seberuntung Nabiah Hana dan Nabi Simeon yang melihat dan mendengarkan tangis Sang Bayi, yang mereka peluk di Bait Allah di penghujung usia. Saat menatang-Nya, Simeon bersukacita dan memuliakan Allah, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari-Mu.”  (Luk 2:28-30).

Sedangkan para Rasul dan murid-murid Yesus dikarunia keistimewaan untuk mendengar dan melihat-Nya, bukan karena hikmat, kedudukan tinggi, keadilan, kekayaan, atau segala macam atribut manusiawi.

Pernyataan Yesus bahwa para murid berbahagia atau diberkati tidak bertentangan dengan sabda-Nya, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20:29). Dalam sabda ini, Yesus membandingkan antara mereka yang percaya tanpa melihat dengan mereka, yang mengukur iman dengan sudut pandang sendiri dan hanya percaya dengan apa yang mereka lihat.

Abraham, bapa semua orang beriman, dan orang-orang benar terdahulu diberkati karena mempercayai apa yang tidak ia lihat dan dipenuhi saat berjumpa dengan Yesus.

Sedangkan para Rasul dan murid-murid-Nya diberkati, karena mereka tak hanya melihat dan mendengar dengan mata rohani, tetapi juga dengan jelas melihat dan mendengar dengan mata jasmani apa yang didengar dan dilihat secara samar-samar, dari kejauhan, dan hanya dengan iman (bdk. Ibr. 11:13; 1 Ptr. 1:10-12).

Anugerah itu membuat mereka diberkati dan dinyatakan berbahagia, karena mereka tidak hanya melihat secara rohani, tetapi juga mengalami secara jasmani apa peristiwa Yesus, hidup, karya, sabda, sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga (bdk. 1Yoh. 1:1-4).

Dari mereka peristiwa itu diwariskan dari generasi ke generasi tanpa putus dalam tradisi apostolik. Santo Yohanes menegaskan, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun mempunyai persekutuan dengan kami.

Persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sempurnalah sukacita kita.” (1Yoh. 1:1-4).

Maka, sebagai orang dalam, tiap pribadi yang menjadikan Yesus sebagai pusat hidup harus memiliki sikap batin yang benar sebagai murid-Nya. Masing-masing wajib menghancurkan kecenderungan untuk tidak mau melihat dan mendengarkan-Nya, setia mengikuti jejak langkah-Nya dan memanggul salibnya setiap hari.

Melalui Nabi Yesaya, Allah bersabda (Yes 50:4), “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat kepada orang yang letih lesu. Pagi demi pagi, Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”, Dominus Deus dedit mihi linguam eruditam, ut sciam sustentare eum, qui lassus est, verbo; excitat mane, mane excitat mihi aurem, ut audiam quasi discipulus.

Katekese

Dipanggil terlibat dalam pembaharuan. Paus Fransiskus, 1936-2-25:

Saudara-saudari, mereka yang mendahului kita telah mewariskan kepada kita semangat, kekuatan, dan kerinduan, sebuah api yang harus kita nyalakan kembali. Kita tidak membicarakan penyimpanan abu, tetapi menyalakan kembali api yang telah mereka nyalakan.

Kakek-nenek dan para tetua kita ingin melihat dunia yang lebih adil, bersaudara, dan berbela rasa. Mereka berjuang untuk memberi kita masa depan.

Sekarang, tugas kita adalah untuk tidak mengecewakan mereka. Kita perlu meneruskan tradisi yang telah diterima, karena dari orang-orang yang telah meninggal kita mewarisi iman yang hidup.

Janganlah kita mengubahnya menjadi “tradisionalisme”, suatu bentuk iman yang mati dari orang-orang yang masih hidup, seperti yang pernah dikatakan seorang penulis. Ditopang oleh mereka yang menjadi akar kita, kini giliran kita untuk berbuah.

Kita adalah ranting-ranting yang harus bersemi dan menyebarkan benih-benih sejarah yang baru. Marilah kita bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan konkret. Sebagai bagian dari sejarah keselamatan, mengingat mereka yang telah mendahuluiku dan mengasihiku, apa yang harus kulakukan sekarang?

Aku memiliki peran yang unik dan tak tergantikan dalam sejarah, tetapi jejak apa yang akan kutinggalkan? Apa yang kuwariskan kepada mereka yang akan datang setelahku? Apa yang kuberikan dari diriku?

Sering kali kita mengukur hidup kita berdasarkan penghasilan, jenis karier, tingkat kesuksesan, dan bagaimana orang lain memandang kita. Namun, ini bukanlah kriteria yang memberi hidup.

Pertanyaan sebenarnya adalah: apakah aku memberi hidup? Apakah aku mengantarkan ke dalam sejarah kasih yang baru dan diperbarui yang sebelumnya tidak ada?

Apakah aku mewartakan Injil di lingkunganku? Apakah aku melayani sesama dengan cuma-cuma, sebagaimana mereka yang mendahuluiku telah melakukannya untukku? Apa yang kulakukan untuk Gereja kita, kota kita, masyarakat kita?

Saudara-saudari, mengkritik memang mudah, tetapi Tuhan tidak menghendaki kita hanya menjadi pengkritik sistem, atau menjadi tertutup dan ‘berpandangan ke belakang’, seperti yang dikatakan penulis Surat kepada Jemaat Ibrani (bdk. Ibr. 10:39). Sebaliknya, Ia menghendaki kita menjadi pencipta sejarah baru, penenun harapan, pembangun masa depan, dan pembawa damai.” (Homily, Perayaan Wajib Santo Yoakim dan Santa Anna di Commonwealth Stadium di Edmonton, Kanada, 26 Juli 2022).

Oratio et Missio

Tuhan, ajarlah dan bimbinglah aku untuk membuka telinga agar setia mendengarkan sabda-Mu dan membuka mataku untuk mengenali karya-mu dalam hidup. Terangilah telinga hatiku agar tidak tuli untuk mendengarkan sabda-Mu. Amin.   

  • Apa yang perlu kulakukan untuk berjumpa dengan-Nya dalam diri “salah sorang saudara-Ku yang paling hina ini” (Mat. 25:40)?

Beati oculi quia vident et aures vestrae quia audiunt -Matthaeum 13:16

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo