Home BERITA Frater Richie Fernando SJ Jatuhkan Diri di Atas Granat Selamatkan Banyak Orang

Frater Richie Fernando SJ Jatuhkan Diri di Atas Granat Selamatkan Banyak Orang

0
103 views
Frater Richie Fernando SJ jatuhkan diri di atas granat untuk selamatkan banyak orang. (IG)

BEBERAPA pahlawan perang pergi membawa senjata. Yang lain, seperti seorang Frater Skolastik Jesuit ini, malah datang dengan membawa salib.

Frater Richie Fernando SJ baru berusia 26 tahun, skolastik Jesuit misionaris asal Filipina sekali waktu berani membuat keputusan spontan. Namun, keputusan telak yang menjadikan dia meninggal dunia itu justru malah menyelamatkan banyak nyawa.

Frater Jesuit misionaris asal Filipina ini datang berpastoral dan melayani masyarakat lokal di Kamboja. Di negara yang pernah tercabik-cabik oleh perang saudara yang brutal ini, Frater Richie SJ mendedikasikan hidupnya. Yang dia lakukan adalah membantu kaum muda lokal di Kamboja bisa membangun kembali masa depan mereka setelah bertahun-tahun kekerasan dan konflik.

Ia dikenal karena kebaikan hatinya, kerendahan hati, dan kasih yang mendalam kepada mereka yang dipercayakan kepadanya.

Jatuhkan diri di atas granat

Lalu datanglah hari yang mengubah segalanya.

Pada tahun 1996, seorang siswa Kamboja di mana dia berkarya sedang mengalami sebuah masalah pribadi. tiba-tiba saja ia berbuat iseng yang tidak lucu sama sekali. Ia menarik pin sebuah granat, saat sebuah pertemuan tengah berlangsung.

Menyadari bahaya tersebut, Frater Richie SJ segera bertindak. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, ia bergerak untuk melindungi orang-orang di sekitarnya.

Beberapa saat kemudian, granat itu meledak.

Tindakannya melindungi banyak muridnya dari ledakan, tetapi ia mengalami luka fatal.

Frater Richie SJ meninggal dunia. Justru karena berani melakukan persis seperti yang diajarkan Kristus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13)

Hampir tiga dekade kemudian, Gereja Katolik secara resmi telah memulai jalan menuju kanonisasinya. Prosesnya telah dibuka, dan umat Katolik di seluruh dunia kini memandang hidupnya sebagai teladan kasih Kristiani yang heroik.

  • Ia bukan seorang uskup.
  • Ia bukan pengkhotbah terkenal.
  • Ia bukan pendiri tarekat religius.
  • Ia adalah seorang frater Jesuit misionaris muda yang begitu mencintai Tuhan sehingga, ketika -saat itu tiba- ia memilih orang lain daripada dirinya sendiri.

Dan itulah jenis kekudusan yang tidak pernah dilupakan dunia.

Frater Richie Fernando SJ, doakanlah kami.

Frater Richie Fernando SJ, frater Jesuit misionaris di Kamboja yang berani jatuhkan diri di atas granat untuk selamat banyak orang. (Jesuit Kamboja)

Berikut ini keterangan lengkapnya

Frater Richard “Richie” Fernando SJ, seorang skolastik Jesuit asal Filipina, melayani sebagai frater skolastik yang menjalani Tahun Orientasi Karya (TOK) di Banteay Prieb, sebuah pusat pelatihan keterampilan Jesuit bagi para penyintas ranjau darat, polio, dan penyandang disabilitas intelektual di Kamboja.

Pada Oktober 1996, seorang siswa yang sangat tertekan membawa sebuah granat ke sekolah. Saat siswa tersebut mendekati ruang kelas yang penuh dengan murid sambil memegang granat, Frater Richie SJ bertindak cepat dengan memegangnya dari belakang.

Siswa itu menjatuhkan granat tersebut, dan ledakan yang terjadi secara tragis merenggut nyawa Frater Richie. Tubuhnya melindungi siswa tersebut dan orang-orang lain dari ledakan, sehingga menyelamatkan hidup mereka.

Surat terakhir Frater Richie SJ

Empat hari sebelum wafatnya, Richie menulis sepucuk surat kepada Romo Totet Banaynal SJ, sahabat terdekatnya, yang kemudian menjadi misionaris di Kamboja.

Romo Banaynal menerima surat itu sepekan setelah pemakaman Richie. Dalam surat tersebut, Frater Richie membagikan pergumulan dan harapannya bagi para siswa di Banteay Prieb, memberikan gambaran tentang kedalaman komitmen dan cintanya kepada orang-orang yang ia layani.

“Kamu tahu, Tet, sejujurnya aku tidak merasa ingin berhenti. Aku sungguh merasa terdorong untuk menghadapi masalah, orang-orang, dan kebenaran—meskipun sulit dan menyakitkan…

Dengan kata lain, Tet… aku tahu di mana hatiku berada… Hatiku ada bersama Yesus Kristus… Yesus yang memberikan segalanya bagi orang miskin, orang sakit, yatim piatu, dan lain-lain…

Aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah melupakan umat-Nya… saudara-saudari kita yang difabel. Dan aku bersyukur bahwa Tuhan telah memakai aku untuk memastikan bahwa saudara-saudari kita mengetahui kebenaran ini…

Aku sungguh percaya bahwa mati bagi sahabat-sahabat kita yang miskin di sini akan menjadi anugerah terbesar yang dapat Tuhan berikan kepada kita. Dan aku terus memohon rahmat ini setiap hari.”

Pada Agustus 2017, dalam sebuah surat kepada pimpinan Ordo Jesuit Provinsi Filipina tertanggal 31 Juli -persis di hari Pesta Ignatius de Loyola- Provinsial Provinsi Jesuit Filipina Pater Antonio Moreno SJ mengumumkan keputusan Generalat Jesuit di Roma.

Ia mengabarkan, Pemimpin Umum Ordo Jesuit Internasional Pater Jenderal Arturo Sosa SJ telah menyetujui usulannya untuk secara resmi memulai proses beatifikasi Richie Fernando.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Richie, buletin misi Jesuit di Kamboja dinamai menurut namanya, sebagai penghargaan atas warisan hidupnya dan dampak mendalam dari pengurbanannya.

Sumber: IG, Jesuit Misi Kamboja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo