Luk 1:39-56
MAGNIFICAT adalah kidung cinta Maria yang lahir bukan dari situasi hidup yang ideal.
Maria sedang menghadapi ketidakpastian. Masa depannya belum jelas. Ia bahkan berhadapan dengan risiko penolakan dan berbagai pertanyaan yang mungkin muncul dalam hidupnya. Namun, Maria memilih untuk percaya kepada Allah. Ia tidak membiarkan kesulitan mengubah hatinya menjadi pahit.
Justru di tengah situasi yang tidak mudah itulah Maria berkata, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku.”
Kidung Maria mengajarkan kepada kita bahwa sukacita sejati tidak selalu lahir karena hidup berjalan sesuai dengan keinginan kita. Sukacita dapat tumbuh ketika kita percaya bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita belum memahami seluruh jalan yang sedang kita lalui.
Semangat inilah yang sangat penting dalam kehidupan persaudaraan.
Persoalannya bukan bagaimana menghilangkan semua perbedaan, melainkan bagaimana mengolah perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan.
Ada dua saudara yang pernah mengalami keretakan hubungan. Keduanya merasa dirinya benar. Keduanya menyimpan luka. Masing-masing mempunyai alasan untuk mempertahankan pendiriannya.
Namun, setelah sekian lama mereka menyadari satu hal: mempertahankan ego mungkin membuat seseorang menang dalam perdebatan, tetapi bisa membuat keduanya kalah dalam persaudaraan.
Mereka akhirnya memilih untuk berdamai. Bukan karena semua persoalan telah selesai. Bukan pula karena luka itu tiba-tiba hilang. Mereka berdamai karena menyadari bahwa persaudaraan jauh lebih berharga daripada kemenangan ego masing-masing.
Bukankah sering kali yang membuat hubungan menjadi rusak bukan karena persoalannya terlalu besar, tetapi karena kita terlalu lama memelihara sakit hati?
Maria mengajarkan jalan yang berbeda. Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh ketakutan, kekecewaan, atau kepentingan dirinya sendiri. Ia membuka hati kepada Allah dan membiarkan kehendak Allah bekerja dalam hidupnya.
Karena itu, Magnificat bukan hanya sebuah kidung yang indah untuk didengarkan. Magnificat adalah cara hidup.
Ketika kita memilih mengampuni daripada membalas, kita sedang menyanyikan Magnificat.
Ketika kita tetap membangun persaudaraan meskipun pernah terluka, kita sedang mempersembahkan kidung cinta kepada Allah.
Sebab iman tidak cukup hanya diucapkan dengan bibir. Iman harus menjelma menjadi sikap hidup.
Kidung yang paling indah bukanlah yang hanya terdengar dari bibir, melainkan yang terbaca dalam kehidupan kita.
Bagaimana dengan diriku?
Apakah Tuhan sungguh menjadi sumber sukacitaku, atau aku lebih mudah bergembira karena keberhasilan, harta, kedudukan, dan pujian manusia?









































