Home BERITA Aku Berserah: Kisah Keteguhan Menghadapi Kematian

Aku Berserah: Kisah Keteguhan Menghadapi Kematian

0
103 views
Ilustrasi - Sakit.

DI tengah sunyi ruang perawatan, senyum itu tetap hadir – tipis, namun penuh makna. Senyum seorang perempuan yang telah delapan tahun bergulat dengan penyakit dan pada akhirnya, tidak ada opsi lain kecuali harus mau memilih untuk berserah.

Tidak ada seorang pun yang menginginkan kematian dalam penderitaan. Setiap orang mendambakan akhir yang tenang, tanpa rasa sakit, tanpa menjadi beban bagi orang lain.

Harapan itu manusiawi. Bahkan dalam kisah iman Kristiani, Yesus sendiri di Taman Getsemani pernah berdoa agar penderitaan itu berlalu, namun tetap menyerahkan diri pada kehendak Bapa.

Di situlah kisah ini menemukan gema yang dalam.

Bernadet S. Sari Ratna Santati -seorang adik, perempuan, pribadi yang sederhana- harus menjalani perjuangan panjang melawan kanker serviks selama delapan tahun. Perjalanan itu bukan hanya tentang sakit, tetapi tentang iman, harapan, dan keberanian untuk menerima yang tak terelakkan.

Beberapa bulan sebelum kondisinya memburuk, ia pernah mengungkapkan harapan sederhana, namun penuh luka, “Jangan sampai ada saudara-saudaraku, keponakan-keponakanku, atau orang lain yang mengalami sakit seperti aku ini lagi.”

Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan doa yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi penderitaan.

Namun, di balik itu semua, ada sikap yang terus ia pegang teguh: kepasrahan.

Ilustrasi: Pasrah by Metanoiac.

Kepasrahan yang dimaksud bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ia tetap menjalani berbagai tindakan medis, menghadapi rasa sakit yang berulang, dan bertahan dalam kelelahan yang tak jarang menghampiri. Tetapi di tengah semua itu, ia memilih untuk mempercayakan hidupnya kepada Tuhan – melalui tangan para dokter, melalui keluarga yang merawatnya, dan melalui proses yang harus dijalaninya.

“Aku pasrah, Ka. Aku serahkan semua pada Tuhan,” katanya suatu hari kepada kakaknya. “Aku percayakan semuanya pada Tuhan melalui tangan-tangan dokter.”

Kalimat sederhana itu menjadi kunci dari kekuatan yang ia miliki.

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Ada masa-masa putus asa, lelah, bahkan jenuh menjalani rutinitas pengobatan yang melelahkan. Namun, selalu ada titik di mana semangat itu kembali menyala—ditopang oleh iman yang perlahan menguat di tengah penderitaan.

Menjelang akhir hidupnya, sesuatu berubah. Rasa takut yang dahulu mungkin hadir, perlahan sirna. Dua hari sebelum berpulang, ia justru lebih banyak tersenyum. Bahkan, dengan suara yang mulai melemah dan parau, ia masih sempat bercanda, membuat kakak-kakaknya tertawa di tengah suasana haru.

Seolah-olah, ia telah berdamai.

Kisah hidupnya menjadi pelajaran yang tak ternilai bagi keluarga yang ditinggalkan. Tentang kesabaran, tentang keteguhan, dan terutama tentang arti berserah dalam iman. Ia mengajarkan bahwa hidup, betapa pun singkat atau penuh penderitaan, tetap layak disyukuri sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

“Terimakasih, adikku,” tulis Anastasia dalam refleksinya.

“Kamu mengajarkan kami untuk sabar, untuk berserah pada kehendak Allah Bapa, dan untuk semakin mencintai kehidupan.”

Kini, Bernadet telah berpulang. Namun kenangan tentang dirinya tetap hidup -dalam tawa kecil di ujung sakit, dalam doa-doa yang dipanjatkan, dan dalam iman yang tak tergoyahkan.

Sebuah perpisahan yang tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga warisan iman.

Selamat jalan, Bernadet. Dalam keyakinan keluarga, engkau kini telah menemukan kedamaian—mungkin seperti kebun mawar merah yang selalu kau sukai, mekar abadi dalam keheningan kekal.

In memoriam: 40 hari meninggalnya Bernadet S. Sari Ratna Santati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo