Aku Bertemu Malaikat (5)

0
3,843 views

Sepi membekap erat saat kami memasuki kawasan Pegunungan Seribu. Pegunungan kapur ini membentang dari Pacitan sampai Kebumen. Jalanan lengang. Hanya kami berdua. Kanan kiri menyembul ribuan gundukan bukit. Di atas, mega-mega putih berarak seperti sekumpulan domba sedang merumput di padang biru terbentang.

Angin sesekali melesat cepat menghalau panas yang menghunjam ke tanah. Sebuah wahana yang menakjubkan! Sayang, tak ada kamera untuk mengabadikannya. Di bawah bayangan, dua gundukan bukit ada sebuah sungai mengalir lirih. Pelan. Seperti napas tersengal dari dada orang yang sedang sakratul maut. Sebentar lagi kerontang menghajar. Di sungai kecil itu, kami pun mencuci pakaian kami. Termasuk celana dalam. Maklum kami hanya bawa dua stel. Usai mencuci tanpa sabun, kami pun menjemur pakaian kami di atas caping kami.

Kami harap matahari akan memanggangnya sampai gosong. Sambil menjemur, kami pun melanjutkan perjalanan. Selepas kawasan pegunungan Seribu, kami pun istirahat. Tapi, aku terkejut bukan main. Celana dalamku hilang! Pasti jatuh di perjalanan. Mau menyisir ulang jelas tidak mungkin. Yah, akhirnya aku hanya mengandalkan satu celana dalam di perjalanan selanjutnya. Bayangkan sendiri!

Dibawa ke koramil
Lain lagi di Pracimantoro. Di sini, kami berniat minta penginapan di rumah pengurus RW. Tapi, demi keamanan, kami pun dibawa ke kantor koramil terdekat. Di sana, interogasi pun dimulai. Seorang tentara dengan pakaian hijau loreng-loreng mencecar kami dengan puluhan pertanyaan. Kumis tebalnya naik turun seperti sikat kamar mandi menggosok-gosok lubang kakus.

Untungnya, kami bisa menyembunyikan identitas kami. Meski hati terlanjur keder. Aku mendadak seperti berada di bangku peradilan militer. Puas dengan serangan pertanyaan, lelaki berotot dengan pistol di pinggang itu mengizinkan kami tidur di kamar posko militer itu.

Angin berhembus melewati lobang jendela koramil membawa hangat. Si bola raksasa mulai merangkak di langit timur. Televisi di pos koramil itu masih berceloteh dengan siaran berita pagi. Kami pun bergegas dan minta pamit pada tentara berkumis seperti sikat kamar mandi itu. Lega rasanya meninggalkan rumah warna hijau itu. Plong! Seperti baru saja bebas dari rumah tahanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here