Ateng (2)

0
822 views
Suasana Perayaan Natal di sebuah stasi di kawasan pedalaman Paroki Botong, Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Romo Dr FX Baskarta T. Wardaya SJ)

SELAMA kami berada di kawasan pedalaman di wilayah pastoral Paroki Botong, Keuskupan Ketapang, Kalbar, pelayanan Natal dan Tahun Baru berjalan dengan baik. Misa Natal di Stasi Teluk Sandong, misalnya, berjalan dengan meriah. Dilanjutkan dengan acara makan bersama secara potluck.

Umat menyumbang aneka makanan sudah matang dari rumah masing-masing. Bahkan dalam misa itu disertai dengan tradisi lokal. Yakni, mengundang perwakilan dari saudara-saudari Protestan untuk ikut. Di akhir acara, mereka mempersembahkan lagu-lagu Natal yang bagus sekali.  

Pada acara gawai ucapan syukur atau perayaan malam tahun baru, semuanya tampak gembira, meriah dan akrab. Singkat kata, semuanya baik-baik. Setidaknya, itulah yang tampak di atas permukaan.

Masalah lokal di bawah permukaan

Kalau kita bersedia untuk sedikit menyelam ke bawah permukaan, segera akan tampak bahwa ada situasi yang berbeda. Akan tampak, misalnya, bahwa di sini ada sejumlah masalah. Termasuk di antaranya adalah masalah sosial, ekonomi dan politik.

Terkait masalah sosial, bisa dilihat adanya masalah konsumsi minuman tradisional beralkohol seperti tuak dan arak. Dan ini sering dilakukan secara belebihan sehingga tanggungjawab keluarga cenderung diabaikan.

Ilustrasi — Minum tuak sepuasnya di Kalbar. (Mathias Hariyadi)

Dalam kasus-kasus tertentu, seringnya kepala keluarga untuk poyon alias mabuk alkohol membuat mudah retaknya relasi sosial. Lalu mendorong sejumlah anak puteri mereka untuk menikah dengan siapa pun agar memiliki alasan untuk keluar dari rumah.

Ada juga masalah narkoba yang diam-diam dibawa oleh para pendatang dan mulai melanda sejumlah kaum mudanya. Belum lagi masalah tingkat pendidikan yang rendah yang tak jarang disusul dengan masalah pengangguran atau pernikahan dini.

Semua ini membuat rendahnya daya saing orang-orang lokal etnis Dayak di hadapan suku-suku lain yang tampaknya semakin banyak jumlahnya tinggal Pulau Kalimantan.

Ilustasi: Menoreh karet di Sekadau, Kalbar. (Sr. Ludovika OSA)

Harga karet anjlok

Menyangkut masalah ekonomi. Sebelum merebaknya pandemi Covid-19, banyak keluarga bisa mendapatkan penghasilan yang cukup dari menanam pohon karet. Apa boleh buat. Sejak Covid-19 berakhir, dan entah mengapa, harga karet langsung merosot tajam. Bersamaan dengan itu, kualitas karet yang dihasilkan juga amat menurun.

Banyak warga yang kemudian mencari nafkah dengan cara apa pun; termasuk secara ilegal menambang emas di sungai-sungai. Namun demikian, kini jumlah lokasi sungai yang bisa ditambang emasnya sudah semakin habis. Sementara itu sungai-sungai terlanjur menjadi keruh dan airnya tidak lagi bisa dikonsumsi.

Janji-janji kampanye mudah terabaikan

Di bidang politik, biasanya para wakil rakyat sangat bagus dalam menyampaikan janji-janji saat kampanye. Sayangnya, setelah terpilih dan secara resmi ditetapkan sebagai wakil rakyat, mereka sering lupa pada janji-janji tersebut.

Akibatnya pembangunan infrastruktur menjadi terabaikan. Jalan tetap becek. Jembatan-jembatan tetap mengkhawatirkan untuk bisa dilalui. Sementara itu, pembangunan menara-menara komunikasi juga sangat tersendat.

Ilustrasi: Kondisi jalan utama di pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalbar. (Sr. Elisa Petra OSA)

Menara komunikasi yang sering disambar petir tak kunjung diperbaiki. Dampaknya penduduk sulit mengakses informasi dari luar.

Buruknya kondisi infrastuktur

Buruknya infrastruktur jalan dan jembatan maupun sarana-sarana komunikasi membuat terbatasnya kemampuan awak Gereja (khususnya awak Gereja Katolik) untuk melayani dan menemani umat yang ada.

Tak jarang, terbatasnya kunjungan dan sapaan awak Gereja Katolik membuat banyak warga Katolik menjadi lebih tertarik untuk bergabung ke Gereja lain yang dirasa lebih “hadir” dan lebih terjangkau.

Umat Katolik pindah haluan

Di Dusun Simbal dan sekitarnya, contohnya, dari 200 kepala keluarga, kini tinggal 57 kepala keluarga yang Katolik. Sementara, di Stasi Teluk Sandong, umat Katoliknya sempat hampir habis.

Untunglah ada seorang pemuda yang memiliki komitmen tinggi bagi umat di stasi tersebut. Pemuda itu bernama Ateng.

Meskipun sempat mendapat beasiswa untuk menempuh studi di SMA Kolese de Britto di Yogyakarta, Ateng memilih untuk melepaskan beasiswa itu supaya bisa lebih fokus mendampingi umat di dusunnya. Kini, umat Katolik di Teluk Sandong sudah mulai bangkit kembali. (Berlanjut)

Baca juga: Siang Bolong di Dusun Botong (1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here