Banyak Cobaan dan Fitnah, Doa “Bapa Kami” Jadi Penguat Langkah Guru

1
318 views
Menjadi guru di kelas (Ilustrasi/Ist)

Guru orang yang tanpa tanda jasa. Peran sehebat apa pun tetap berada di posisi yang tersembunyi. Tidak viral. Tetap di sekolah, berhadapan tumpukan buku, perangkat mengajar dan administrasi kelas dan sekolah.

Pembelajaran hidup kerendahan hati yang luar biasa.

Bu Ar, sebut saja demikian, adalah seorang guru di Kabupaten Semarang. Ia memulai dari awal jenjang status kepegawaian hingga saat ini menjadi kepala sekolah di salah satu SD swasta.

Kecintaannya pada profesi guru membawanya pada perjumpaan yang indah. Meski ia juga mengalami berbagai macam situasi yang kadang membuatnya putus asa, bahkan merasa sendirian.

Perjumpaan indah dengan berbagai karakter dan situasi proses pendidikan membawanya dalam pengalaman iman yang tak tergantikan.

Awal kisah seorang guru

Saya adalah seorang guru, profesi yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi bagi saya menjadi guru adalah panggilan hidup. Kebetulan saya dibesarkan oleh ibu yang juga seorang guru, pakdhe, budhe, tante juga ada yang menjadi guru.

Begitu Bu Ar memulai kisah hidupnya. Pernak-pernik pengalamannya diterjang berbagai cobaan dan fitnah,

Dulu, saya tertarik menjadi guru hanya karena melihat dan merasakan bagaimana senangnya menjadi guru.

Ketika pergi ke suatu tempat dan disapa oleh murid atau mantan murid berasa seperti orang penting. Yang jelas aura “ayem” dan “berwibawa” saya lihat dari mereka yang berprofesi guru.

Kebahagiaan yang selalu ada

Awal menjadi guru saya ditempatkan di kota Semarang dengan gaji waktu itu Rp. 560.000,00. Jika dihitung secara matematika uang dengan jumlah segitu tidak akan cukup untuk mencukupi kebutuhan saya.

Tetapi saya selalu yakin Tuhan Yesus selalu mencukupi, saya percaya mukjizat itu nyata.

Bersama teman- teman senasib, kami lalui hari- hari kami di kota Semarang yang panas. Tetapi kami menjalani hari-hari kami dengan gembira, karena beberapa dari kami gadis desa kami sempat “dipaksa” mengikuti beauty class.

Sering kami menghindar dan tertawa karena kami bukanlah wanita yang suka dengan hal- hal yang menurut kami “buang- buang waktu”.

Beberapa bulan kemudian saya menikah dan puji Tuhan diberi karunia kehamilan. Mukjizat berikutnya saya mendapat berkah luar biasa. Dimutasi ke sekolah yang lumayan dekat dengan tempat tinggal saya.

Tempat baru

Tempat baru tentu memerlukan waktu adaptasi. Saya mulai bisa mengikuti alur yang ada di sekolah baru.  

Tahun-tahun berganti, saya lalui dengan baik.

Kepercayaan adalah anugerah

Kepala sekolah berganti dua kali dan saya dipercaya menjadi bendahara BOS. Itu merupakan suatu amanah yang harus saya jalankan dan saya jaga.

Delapan tahun menjadi bendahara BOS dan semua berjalan baik-baik saja. Itu karena kepala sekolah dan saya berusaha menjalani tugas kami sebaik mungkin.

Karena masa jabatan kepala sekolah waktu itu sudah habis, maka saya juga minta diganti dari posisi bendahara BOS.

Saat pergantian kepala sekolah, saya tetap diminta menjadi bendahara BOS. Tetapi saya memilih mundur supaya bergantian dengan teman lain agar mereka juga punya kesempatan yang sama.

Mungkin hal ini kurang berkenan untuk kepala sekolah baru dan teman-teman yang sudah berganti. Karena beberapa rekan kerja sudah purna tugas. Sedikit banyak aku sudah terkondisi dengan kerja disiplin dan apa adanya.

Dianggap sok suci

Cibiran, tatapan sinis hampir jadi pemandangan setiap hari. Dianggap sok suci, sok disiplin, sok jujur, dan sok-sok yang lain seperti yang saya terima. Bila ada saya, tiba- tiba pembicaraan mereka jadi terhenti.

Kadang terasa menjadi orang asing, sering kali didiamkan tanpa sebab. Saya berpikir positif saja, mungkin mereka belum memerlukan kehadiranku saat itu.

Memilih untuk tetap baik

Saya lebih memilih menghabiskan banyak waktu dengan murid-murid di kelas. Bahkan saat istirahat, karena rasanya hal itu lebih penting.

Berbagi bekal dengan mereka. Mereka juga senang bercerita tentang keluarga mereka, cita-cita mereka, keadaan rumah, mainan favorit, dan lain-lain.

Mereka sungguh-sungguh adalah penghibur bagi saya. Saya berusaha melayani mereka dengan tulus. Saya yakin dengan ketulusan dan kasih anak-anak akan merasakan aura kasihNya. Karena pada dasarnya kita adalah perpanjangan tangan-Nya.

Pengajuan diri untuk mundur

Perlakuan- perlakuan kurang baik terus-menerus saya terima. Meski sudah berusaha sabar, tetap saja rasa kemanusiaan tetap menang.

Akhirnya saya menghadap pimpinan untuk minta mundur dari pekerjaan.

Yayasan bersedia mendengarkan keluh kesah saya. Saya luluh mendengar nasihatnya.

Saya bertahan dan menyerahkan semua pada-Nya. Kepala sekolah yang selalu menyudutkan saya dimutasi. Awalnya saya mendengar kabar dia diangkat jadi pengawas. Tetapi baru beberapa hari ada kabar kalau dimutasi ke sebuah sekolah di kota Semarang.

Kebenaran yang berbicara

Teman- teman mulai melihat mana yang benar. Tetapi yang masih belum bisa move on dari kepala sekolah tadi juga ada dan tentunya perlakuannya masih sama.

Suatu ketika saya mendapat kesempatan mengikuti PPG Daljab yang biayanya gratis dari pemerintah. Ini adalah anugerah yang sangat indah. Ini adalah jawaban dari doa saya.

Saya pernah berdoa, jika jalan saya tetap di yayasan ini pasti Tuhan kirimkan petunjuk.

Anugerah PPG, jawaban atas doaku

Saat menjalani PPG, ada masa PPL. Entah kebetulan atau bagaimana, saya mendapat kelompok yang semuanya perempuan. Sesuai hasil musyawarah, saya dipilih menjadi komting.

Tidak mudah mengatur 11 orang yang asalnya dari berbagai daerah. Ada teman dari Riau, Yugyakarta, Magelang, Salatiga, Pati, dan dari Kabupaten Semarang. Karena sudah sering mendapat perlakuan yang aneh-aneh, maka aku menjadi kebal.

Akhirnya saya lulus PPG dengan baik.

Rahmat Tuhan yang tak pernah selesai

Saya sering senyum- senyum sendiri bila teringat hal itu. Ternyata Tuhan sudah mempersiapkan saya untuk situasi ini. Menghadapi pribadi-pribadi unik dan butuh tenaga ekstra untuk berpikir.

Tidak membuat saya putus asa karena saya punya Gusti Yesus dan Bunda Maria.

Saat lelah lahir batin, saya hanya bisa mendoakan Bapa Kami. Doa favorit yang saya percaya punya kekuatan sangat luar biasa.

Tak berhenti sampai di situ, saat ini saya diberi amanah menjadi kepala sekolah dan dipercaya mengkoordinir teman- teman yang sudah terbiasa memperlakukan saya dengan kurang baik.

Tetap mohon dukungan doa dan dukungan supaya bisa bijak dalam menjalankan tugas dan bisa membawa sekolah ke arah yang lebih baik.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here