Berbekal Pensil dan Spidol, Siswa SMK Kanisius Surakarta Lakukan Refleksi untuk Makna Hidup

0
448 views
Ilustrasi: Malaikat saja perlu refleksi by Royani Lim

REFLEKSI dalam pendidikan dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar dalam bentuk penilaian secara tertulis maupun lisan.

Umumnya tertulis dan dilakukan oleh guru untuk siswa. Guna mengeskpresikan kesan konstruktif, harapan, pesan, dan kritik atas pembelajaran yang sudah diterima.

Refleksi juga dimaknai sebagai proses merenungkan dan mengingat kembali pengalaman yang telah terjadi atau pengetahuan yang telah diterima.

Romo Jost Drost SJ (alm) -salah satu tokoh pendidik dan pembelajar di Indonesia- menjelaskan tujuan refleksi secara teologis bertujuan mengantar orang menuju kedalaman hidup beriman; menyadari campur tangan Tuhan di dalam hidup dan peristiwa sehari hari.

Refleksi step by step  dilakukan dengan cara mengingat dan merenungkan, mengolah dan menimbang-nimbang kembali suatu pengalaman  tertentu.

Dilakukan dengan tujuan menemukan nilai hakiki; apakah itu berupa pengetahuan, afeksi, kehendak, dan akhirnya pembaharuan batin atau semangat hidup.

Dalam konteks hidup beriman, refleksi merupakan proses mendalami dan merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan iman.

Refleksi diri

Refleksi diri merupakan bagian dari proses introspeksi diri. Dilakukan dengan cara melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang telah terjadi di dalam hidup. Apakah itu pengalaman, kebiasaan, dan keputusan yang pernah diambil.

Refleksi menjadi ‘umpan balik’ dan cerminan pengalaman hidup.

Pentingnya refleksi dalam hidup oleh filosof Socrates diungkapan dengan kalimat: “Hidup yang tidak direfleksi tidak layak dihidupi.”

Refleksi dalam konteks pendidikan Kurikulum Merdeka saat ini menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Para siswa tidak hanya belajar, menemukan pengetahuan, mengembangkan afeksi, meningkatkan keterampilan atau mencapai kompetensi belajar. Tapi juga melakukan evaluasi dan refleksi.

Kegiatan refleksi yang dulu menjadi pembiasaan di sekolah-sekolah Katolik kini mulai dikenal. Juga semakin diperdalam dan diterapkan di dunia pendidikan Indonesia.

Menggunakan media tulis-menulis untuk mengekpresikan butir-butir penting hasil refleksi diri oleh murid SMK Kanisius Surakarta. (FXJuli Pramana)

Pensil pulpen, spidol, dan kertas

Dalam hal memaknai arti suatu pengalaman belajar dan pengalaman hidup, siswa dapat membuat refleksi pribadi.

Refleksi pribadi  dilakukan dengan mengungkapkan perasaan, menggambarkan profik diri, menulis kesan, membangun niat dan merumuskan harapan diri setelah merenungkan dan membatinkan peristiwa yang telah dialami.

Refleksi dilakukan dengan harapan nantinya akan muncul rangkaian aksi nyata. Ini adalah buah refleksi menuju pertumbuhan diri.

Sesuai dengan tingkat usia, cara, dan media refleksi yang digunakan, siswa dapat membagikan pengalaman refleksinya kepada orang lain.

Pensil, pulpen, spidol dan kertas di zaman ini lambat laun sudah dinomorduakan. Terjadi demikian, karena era digitalisasi.

Namun, sarana tulis-menulis itu tetap bisa dipakai saat melakukan refleksi pribadi. Dipakai untuk mengekspresikan gerak hati.

Berikut ini refleksi pengalaman Natal dan Tahun baru yang direflskiskan beberapa siswa dari SMK Kanisius Surakarta.

Refleksi Natal dibuat oleh murid SMK Kanisius Surakarta. (FX Juli Pramana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here