Biara St. Clara Kapusines Sarikan Rayakan Pesta Kaul Kekal, Pesta Perak, dan Panca Windu

0
39 views
Para suster St. Clara Kapusines OSC.Cap dan para imam di hari penuh berkah dan syukur di bulan April 2024. (Br. Dinus Kasta MTB)

HARI Senin, 8 April 2024 dan bersamaan Hari Raya Kabar Sukacita, tiga suster biarawati Ordo Santa Clara Kapusines (OSC.Cap atau Ordo Sancta Clarae Capuccinarum) di Sarikan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalbar, menggelar pesta. Para suster yang berbahagia itu adalah:

  • Sr. M. Chiara Stella OSC.Cap berkaul kekal.
  • Sr. M. Martha OSC.Cap merayakan pesta hidup membiara selama 25 tahun.
  • Sr. M. Coleta OSC.Cap merayakan 40 tahun pesta hidup membiara.

Pesta merayakan kebahahagiaan menjalani hidup bakti ini dikemas dalam Perayaan Ekaristi meriah. Ekaristi dipimpin oleh Minister Propinsial Ordo Kapusin Provinsi Pontianak: Pastor Faustus Bagara Darmawan OFMCap yang menjadi imam selebran utama dengan kurang lebih 20 imam konselebran.

Perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan para yubilaris, misdinar, dan para imam dari sakristi ke kapel utama biara. Tarian pembuka oleh OMK Sarikan mengantar para suster pestawati, pimpinan ordo dan para imam sampai di depan kapel. Kemudian dilanjutkan dengan lantunan lagu Aku Abdi Tuhan oleh kelompok koor Gregorius Agung Pontianak yang mengantar perarakan sampai altar.

Jalan panggilan

Cara hidup itu pilihan. Setiap orang bebas menentukan pilihan, sesuai keinginan pribadi dan juga karena panggilan Tuhan. Hal ini dapat dirasakan dalam perjalanan hidupnya. Hidup berkeluarga atau hidup wadat -baik sebagai imam atau biarawan-biarawati.

Ada yang merasa bahwa sejak kanak-kanak tertarik pada model hidup seorang imam, misalnya. Atau sebagai seorang biarawan atau biarawati, baik sebagai suster, frater atau bruder. Sebuah pilihan membawa konsekuensi bagi dirinya, tidak luput dari tantangan, perlu perjuangan.

Orang lain dapat menjadi sarana Tuhan untuk memantapkan atau melepaskan jalan panggilan yang dipilihnya. Namun dengan kepercayaan Tuhan akan selalu mendampingi dalam perjalanan pilihan hidupnya, maka ketiga suster pestawati OSC.Cap itu sampai pada jenjang yang sekarang ini sedang mereka  rayakan.

Demikian hal-hal yang dirasakan oleh ketiga suster tersebut.

Empat kali jubah biara berbeda

Seperti diungkapkan oleh Sr. M. Chiara Stella OSC.Cap dalam sambutan singkatnya. ”Saya sudah empat kali mengenakan jubah biara yang berlainan. Semoga Tuhan tetap akan mendampingi dalam hidup panggilan saya yang sekarang saya ikrarkan.”

Atau syering Sr. M. Martha OSC.Cap dalam sebuah pembicaraan: ”Ayah pada awalnya tidak merestui aku menjadi suster. Ibu menyerahkan pilihan hidup kepadaku dan beliau mendoakan.”

Sr. M. Coleta OSC.Cap mengungkapkan bahwa meskipun ayahnya keberatan, ia tetap berangkat ke Singkawang. Ingin menjadi suster seperti bibinya: Sr. M. Oliva OSC.Cap yang suatu ketika pulang libur di kampungnya. “Saya tertarik pada warna pakaian bibiku yang suster itu,” tuturnya.  

Berkat bantuan dua orang imam yakni Pastor Lazarus OFMCap -pastor Paroki Balai Sebut waktu itu- dan Pastor Anton OFMCap, maka Sophia -demikian nama kecil suster ini- tiba di Singkawang. Dengan motor air, Pastor Lazarus mengantar dari Balaisebut sampai Sanggau. Dan kemudian Pastor Anton OFMCap lalu mengantarnya sampai Singkawang.

Ketiga suster yang merayakan pesta syukur ini sepakat, meskipun mereka masing-masing penuh dengan kelemahan dan kekurangan, namun karena kesetiaan Tuhan  mendampingi perjalanan hidup panggilannya, mereka sampai tahap sekarang ini.

Sejarah panggilan ketiga suster yubilaris

Sr. M. Stella OSC.Cap, Abdis Biara Providentia Singkawang yang menjadi komentator pada pesta ini membacakan riwayat singkat dari para suster yubilaris.

Sr M. Chiara Stella OSC.Cap dengan nama asli Monika Tuto adalah anak kedua dari enam bersaudara dari pasangan alm. Bpk. Petrus Purek Pureklolong dan Ibu Margaretha Maga Hada Langauran. Lahir di Tokojaeng, Lembata, Flores Timur tanggal 15 April 1968.  

Sejak masih SD, ia sudah tertarik ingin menjadi suster. Panggilan bertumbuh subur sejak menjadi  karyawati di Biara Susteran SSpS Hokeng. Oleh karena itu masuklah Monika Tuto ke Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) bulan September 1993. Selama 12 tahun, ia menjalani hidup sebagai biarawati SSpS.

Namun melalui suatu permenungan yang mendalam, ia menemukan bahwa di Konggregasi SSpS bukan tempat ia mengabdi Tuhan seumur hidup. Maka tanggal 28 Oktober 2005, ia meninggalkan Biara SSpS.

Pastor Frans Pora SVD yang menjadi pendamping rohaninya lalu memperkenalkan cara hidup para suster kontemplatif kepadanya. Setelah melalui permenungan lama, ia memutuskan masuk biara kontemplatif di Sarikan.

Pada tanggal 24 Juni 2013, ia tiba di Rumah Retret Lembah Rivotorto Sarikan, satu bulan tinggal bersama Alm. Sr. Gratia OSC.Cap dan akhirnya ia masuk ke Biara Santa Klara Sarikan untuk memulai masa pendidikan sampai pada hari yang berbahagia ini. Motto Sr. Chiara: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.” (Luk 1:38).

Ketiga suster biarawati Biara St. Clara Kapusines di Sarikan yang berpesta di bulan April 2024: Sr. Chiara, Sr. Martha, dan Sr. Coleta. (Br. Dinus Kasta MTB)

Sr. M. Martha OSC.Cap dengan nama kecil Sophia Angelis lahir di Pelanjau, Tebas, Kalbar, tanggal 10 Mei 1970. Sr.  Martha, demikian panggilan sehari-harinya, adalah anak ke-3 dari 12 bersaudara dari pasangan  alm. Bp Laurentius Abu Iyen dan Almh. Ny. Albina Simon.

Masuk Biara Providentia Singkawang pada 1 September 1995. Dengan penuh keyakinan dan penyerahan pada kehendak Tuhan, ia mengikrarkan Kaul Sementara tanggal 31 Mei 1999 dan Kaul Kekal tanggal 31 Mei 2003. Berpegang pada motto panggilannya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.” (Luk: 1:38). Ia tetap bertekun dalam kesetiaan menjalani panggilannya hingga saat ini.

Sr M. Coleta OSC.Cap dengan nama aslinya Niloy Marselina lahir di Lalang, Sanggau Kapuas, Kalbar, tanggal 2 April 1960. Ia merupakan anak dari pasangan alm. Bpk. Johan dan Almh. Ny. Mamai. Sr. Coleta adalah anak pertama dari 10 bersaudara.

Masuk Biara Providentia Singkawang tanggal 7 Desember 1980. Dengan hati teguh menjalani panggilannya, ia mengambil langkah pasti untuk mengucapkan Kaul Sementara tanggal 8 Desember 1983 dan Kaul Kekal 1 Februari 1987.

Pada tahun 1998, ia diutus menjadi salah satu anggota Biara St. Klara Sarikan hingga saat ini. Motto panggilannya: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataaanmu.” (Luk 1:38).

Janji setia

Secara garis besar, beginilah urutan  acara pengucapan kaul kekal Sr M.  Chiara Stella OSC.Cap dan pembaharuan janji setia Sr. M.  Martha OSC.Cap dan Sr M. Coleta OSC.Cap.

Sebelum ritual ucapan profesi, Sr. Chiara menghadap  ibunya di tempat duduk umat untuk  mohon doa restu. Dilanjutkan dengan Doa Litani Para Kudus. Semua yang hadir berlutut, sedangkan Sr. Chiara menelungkupkan diri menghadap altar. Dengan meletakkan tangannya ke dalam tangan Ibu Abdis, para suster yang berpesta mengucapkan profesi Kaul Kekal dilanjutkan dengan Pembaharuan Janji Setia untuk dua suster lainnya.

Berkat meriah dari imam selebran utama. Acara berikutnya adalah penyerahan cincin, buku brevir, lilin menyala, dan bunga kepada tiga suster pestawati.

  • Cincin merupakan lambang penyerahan diri total kepada Allah.
  • Brevir diberikan untuk menegaskan  kembali  bahwa tugas utama para Puteri Santa Clara adalah berdoa bagi Gereja dan dunia.
  • Sedangkan lilin menyala merupakan lambang pengutusan agar para suster menjadi saksi Kristus yang telah bangkit.
  • Yang terakhir bunga.
Kelompok koor meriahkan pesta syukur perayaan hidup bakti tiga suster biarawati OSC.Cap di Biara St. Clara Kapusines Sarikan, Mempawah, Kalbar. (Br. Dinus Kasta MTB)

Janji setia

Rangkaian upacara profesi Kaul Kekal dan Pembaharuan Janji Setia ditutup dengan lagu Janji Setia Romo B. Hudiono Pr oleh koor.

Kini aku hamba-Mu, dalam kehinaanku

Betapa baik Engkau Tuhan, berkenan memilihku

Inilah aku, utuslah aku, ke segala penjuru

Inilah aku, utuslah aku, seturut kehendak-Mu

Kuingat janji setia, yang terikrar menggema

Sampai kelak aku setia, sampai menutup mata.

Bersyukur dan mohon doa

Biara Santa Clara Sarikan terletak kurang lebih 70 km dari Pontianak. Pontianak  ke  arah Toho berjarak kurang lebih 65 km. Dari simpang Pakadu sekitar 3 km, masuk ke kiri dengan jalan lebih sempit. Tidak ada kendaraan umum dari Simpang Pakadu menuju rumah biara.

Hadir pada perayaan Ekaristi Syukur Kaul Kekal Meriah, Pesta Perak dan Pancawindu di Biara St. Clara Serikan ini umat dari Anjungan, Toho, Pakadu, dan Sarikan. Juga hadir sejumlah kelompok kategorial, biarawan dan biarawati  dari Pontianak dan Singkawang, serta sanak famili dari ketiga suster yang berpesta.

Dalam kata sambutannya, Ibu Abdis Biara St. Clara Sarikan Sr. M. Yoanitha Hildegardis OSC.Cap menyampaikan syukur dan terimakasih. Syukur atas kesetiaan dan rahmat Allah mendampingi para puteri Santa Clara di Biara Sarikan. “Allah setia mendampingi kami para suster,” tutur Sr. Hilde seraya mengucapkan ribuan terima kasih atas kehadiran para pastor, para suster, bruder dan frater serta umat semua.

“Ini menguatkan dan merupakan bentuk dukungan nyata kepada kami para suster. Mohon tetap mendoakan kami,” ujarnya. “Kami berjanji akan membawa dalam doa harian kami para saudara saudari semua,” pungkasnya.

Sedangkan Pastor Faustus Bagara Darmawan OFMCap mengingatkan bahwa para suster dan kaum biarawan biarawati pada umumnya merupakan tanda kehadiran Tuhan. Doa menjadi kekuatan. Tetap tekun dalam hidup panggilan. Dan mohon doa seluruh umat.

“Yang kita imani adalah  Allah Yang Maha Besar, kita menjadi tanda kehadiran Tuhan,” jelasnya.

Pontianak, 10 April 2024

Br. B. Sukasta MTB

Baca juga: Mari kenal Biara OSC.Cap di Sarikan, Kec. Toho, Kab. Mempawah, Kalbar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here