Bukan Orang Asing

0
479 views

“Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan sewarga dengan orang kudus dan anggota keluarga Allah.” (Ef 2,19)

BEBERAPA hari yang lalu, sekelompok warga yang menamakan diri “Komunitas Anak Bangsa” menggelar demo di depan Balai Kota DKI Jakarta. Mereka memprotes pidato perdana Gubernur DKI yang menggunakan kata pribumi. “Beliau menyinggung tentang ras, perbedaan antara pribumi dan non pribumi. Hal ini tidak bijak dan dapat menimbulkan perpecahan”, kata seorang koordinator aksi.

Protes sekelompok orang ini merupakan salah satu reaksi, dari sekian banyak reaksi yang muncul, setelah Gubernur DKI menyampaikan pidato politiknya yang pertama. Reaksi lain muncul dalam bentuk laporan kepada pihak berwajib, polemik dan diskusi dalam berbagai macam media, munculnya banyak meme yang lucu dan kocak. Diskusi tetang istilah pribumi cukup meluas, bahkan sampai di luar negeri.

Terlepas dari berbagai macam reaksi dan diskusi, istilah pribumi memang ada di dalam kamus bahasa. Pribumi artinya penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Mereka adalah orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli, tulen. Mereka sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa dan bukan pendatang dari negeri lain. Istilah ini dilarang digunakan di dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan, perencanaan program atau pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan sejak jaman Presiden BJ. Habibie.

Pembedaan antara pribumi dengan pendatang nampaknya tidak hanya muncul di Jakarta atau wilayah lain di Indonesia atau di negara lainnya. Pembedaan itu juga muncul dalam kalangan orang beriman. Santo Paulus menyinggung status atau kewargaan umat beriman. Umat beriman mempunyai martabat yang begitu mulia, yakni merupakan warga dari orang kudus atau merupakan anggota keluarga Allah. Sekalipun mereka berasal dari berbagai macam suku, ras, etnis dan bangsa, mereka bukanlah orang asing atau pendatang; mereka merupakan satu warga. Mereka disatukan oleh iman dan pembaptisan yang sama; mempunyai Allah yang sama.

Maka terasa aneh, kalau ada orang yang merasa asing dengan warga kring atau tidak pernah terlibat di lingkungan; menyendiri dari kehidupan komunitas; bersikap diskriminatif dan membeda-bedakan dalam relasi dan pergaulan dengan sesama umat beriman; menutup diri dan tidak bisa menerima sesama umat beriman dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dalam peristiwa dan pengalaman apa saja, saya sering bersikap, berperilaku dan bertindak seperti orang asing atau pendatang di dalam kehidupanku sebagai orang beriman? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here