Bunda Segala Bangsa Bukit Pena, Indahnya Kawasan Dataran Tinggi di Mamasa, Sulbar (3)

0
182 views
Peziarahan Gua Maria di Bukit Pena Mamasa di dataran tinggi Sulawesi Barat

MAMASA itu lokasinya sangat jauh dari Makassar. Jaraknya sekitar 300-an kilometer. Butuh waku tempuh dengan perjalanan darat sedikitnya delapan jam.

  • Perjalanan selama lima jam melalui kawasan pesisir pantai.
  • Berikutnya, perjalanan lanjutan selama  tiga jam mendaki gunung.
  • Rutenya adalah Makassar – Parepare- Polewali – Mamasa.
  • Ini sudah beda provinsi. Makassar di Provinsil Sulawesi Selatan, sedangkan Mamasa ada di Provinsi Sulawesi Barat.

Tersedia juga sekarang ini rute perjalanan udara dengan pesawat dari Makassar menuju Mamuju.

Bahkan dari Mamuju sekarang sudah ada rute penerbangan langsung ke Jakarta dan berangkat pagi hari sebagai first flight.

Prosesi pemberkatan Gua Maria Bukit Pena di Mamasa, Sulawesi Barat.

Maria Bunda Segala Bangsa

Maria Bunda Segala Bangsa cukup populer di dalam Gereja. Sejak tanggal 25 Maret 1945 di Amsterdam Belanda, Bunda Maria menampakkan diri kepada Ida Peedeman (1905-1996) sebanyak 56 kali penampakan. Ida mengalami penampakan Bunda Maria di rumah tinggalnya. Ia mendapatkan banyak pesan dari Bunda Maria.

Yesus pun berbicara kepadanya ketika ia menyambut Komuni Kudus yang berubah menjadi daging di lidahnya.

Pesan-pesan bunda Maria kepadanya adalah:

  • Mengajarkan doa untuk kedatangan Roh Kudus;
  • Minta dibuatkan lukisan Bunda Maria berdiri di atas bola dunia, di depan salib dikelilingi domba-domba;
  • Minta dikukuhkan dogma Maria sebagai penebus serta (co-Redemtrix), Perantara (Mediatrix), dan pembicara (Advocata).

Bukit Ziarah Pena

Keputusan Bapak Uskup Keuskupan Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’ bahwa gelar “Maria Bunda Segala Bangsa” akan menjadi  nama tempat ziarah ini melewati proses panjang.

Sejak dari pembangunan awal, yang mengusung Maria Ratu Pencinta Damai, hingga pembuatan patung Bunda Maria raksasa, akhirnya ditetapkanlah Maria Bunda Segala Bangsa sebagai nama dan spiritualitas Bukit Ziarah Pena.

Keputusan ini merupakan sebuah refleksi zaman, sebagaimana yang terjadi di Amsterdam. Tempat ziarah ini yang menghadirkan Maria Segala Bangsa sangat dibutuhkan kini dan di sini (hic et nunc). Butir-butir refleksi itu pun sudah muncul perlahan dalam sejarah perjalanan tempat ziarah ini hingga kini.

Bunda Pecinta Damai tahun 1987.

Konteks Perang Dunia II

Dalam kotbahnya pada perayaan ziarah tahun 2017, Bapak Uskup menjelaskan bahwa penggunaan Maria Bunda Segala Bangsa konteksnya adalah setelah Perang Dunia II. Situasi pasca perang bukannya membuat situasi dunia semakin damai, tetapi melahirkan Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, serta ancaman mengerikan dari perang nuklir.

Dalam situasi ini, Maria hadir sebagai Bunda Segala Bangsa, tempat umat memohon doa Bunda bagi persatuan. Doa sang Bunda akhirnya sungguh telah memberikan persatuan bagi bangsa-bangsa. 

Dampak Perang Dunia II by World War 2 Museum.

Konteks masa kini

Situasi bangsa kita saat ini penuh dengan persoalan. Salah satu persoalan itu adalah perpecahan bangsa dalam konteks politik. Dasar atau falsafah bangsa ini adalah Pancasila.

Pancasila mengumandangkan semangat  persatuan nasional dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun, masih ada kelompok-kelompok tertentu yang ingin menggantinya dengan paham ideologi lain.

Dalam situasi ini, kita memohon doa Maria yang adalah Ibu dari Segala Suku Bangsa bagi persatuan bangsa kita ini.

Inilah ibumu

Spiritualitas Kitab Suci yang senantiasa menjadi semboyan Bukit Ziarah Pena sejak awal adalah Itari iamo te Indomu” yang artinya, “Lihatlah, inilah ibumu”.

Tulisan ini terukir di dinding gua di bawah patung Bunda. Semboyan ini sejalan dengan spiritualitas Maria Bunda Segala Bangsa.

Di bawah kayu salib, ketika Yesus melihat Bunda-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di samping-Nya, berkatalah Ia kepada Bunda-Nya, “Perempuan, inilah anakmu.” (Yoh 19:26).

Dengan kata-kata Ilahi melalui kurban salib ini, Maria dikukuhkan menjadi Bunda segala bangsa.

Setelah renovasi tahun 1994.

Bagi Penginjil Yohanes, salib adalah pentahtaan Raja, meskipun dengan fakta yang tak terelakkan bahwa Yesus benar-benar meninggal. Tidak ada gambaran yang menakutkan dari eksekusi seperti yang dimuat dalam Injil Sinoptik misalnya seruan ditinggalkan (Mrk 15:34). Kematian Yesus merupakan fakta hakiki bagi pemahkotaan.

Demikian juga dengan kata-kata Yesus kepada ibu-Nya  dan murid yang dikasihi-Nya. Di satu tingkat ini adalah ungkapan perhatian Yesus kepada ibu-Nya.

Namun para penafsir cenderung menemukan beberapa makna simbolik dalam hubungan baru antara ibu Yesus dan murid yang terkasih. Misalnya bahwa ibu Yesus adalah orang Kristen-Yahudi dan murid terkasih adalah Kristen-non Yahudi.

Tetapi ini terlalu jauh. Lebih dapat diterima pendapat bahwa bersama-sama mereka merupakan inti dari keluarga baru iman; semua kaum beriman adalah anak-anak Allah. Keselamatan tidak hanya milik satu bangsa saja, melainkan seluruh bangsa.

Yesus adalah Raja segala bangsa dan ibunya adalah bunda segala bangsa.

“Inilah ibumu” adalah simbol penyerahan Gereja ke dalam penyertaan Bunda Maria. Menarik bahwa setelah peristiwa penyerahan itu, Maria tetap berdoa menemani para rasul sampai kedatangan Roh Kudus (Kis 1:12-14).

Yang setia menemani

Peristiwa Pentakosta adalah kelahiran Gereja. Yesus tidak mau para murid sendiri sampai kehadiran Roh Kudus. Yesus yakin bahwa ibunya bisa menemani para murid.

Dalam teks tersebut, hanya nama Maria yang disebut: ”Mereka semua (para Rasul) bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama dengan beberapa perempuan serta Maria, Ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (ay.14).

Ini mau menonjolkan Maria yang setia menyertai para rasul.

Dengan demikian,  Maria adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Gereja. Peran Maria diberi penekanan yang khas oleh Penginjil Yohanes.

Yohanes dalam Injilnya menempatkan Maria pada bagian penting dan sangat menentukan dalam hidup Yesus dan implikasinya bagi kehidupan dan perkembangan Gereja. 

Kisah perjamuan di Kana yang khas hanya ada di Injil Yohanes (Yoh 2:1-11) mengungkapkan bahwa Maria-lah yang menjadi penentu inisiatif karya Yesus bagi Manusia.

Para peziarah

Devosi kepada Maria

Yesus belum mau membuat mukjizat, tetapi karena Maria memintanya maka Ia membuat mukjizat itu. Ini juga dapat diartikan bahwa Maria sungguh melihat apa kebutuhan kita dan memohonkannya kepada Yesus.

Inilah dasardevosi kepada bunda Maria.

Kemudian oleh Penginji Yohanes Maria juga ditonjolkan pada akhir dan puncak karya Yesus. Maria setia dalam jalan salib puteranya, hingga akhir hayat-Nya, yang menurut tradisi Gereja, Maria menerima jenazah Yesus yang diturunkan dari salib dan menaruhnya pada pangkuannya.

Dan pada saat akhir itu juga Yesus menyerahkan ibunya dari atas salib kepada Gereja sebelum Ia wafat. (Berlanjut)

PS: Artikel ini dikerjakan oleh tiga imam diosesan Keuskupan Agung Makassar yang pernah berkarya di Gereja St. Petrus, Paroko Mamasa di Provinsi Sulawesi Barat yakni:

  • Romo Oktovianus Tandilolo Pr
  • Romo Antonius Pabendon Pr
  • Romo Faranskuo Edynto Midun Pr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here