Cara Allah Menjumpai Anda

0
1,505 views

Ketika memulai pendidikan awal di novisiat Serikat Yesus, aku bertanya-tanya mengenai arti menjalin hubungan dengan Allah. Kami, para novis, seringkali mendengarkan para Yesuit yang lebih senior berbicara tentangnya. Apa yang harus kulakukan sehingga aku dapat menjalin relasi dengan Allah?

Awalnya kukira aku harus mengubah diriku terlebih dahulu sebelum mendekati Allah. Sebagaimana kebanyakan pemula dalam hidup rohani, aku merasa jauh dari pantas untuk menjumpai-Nya. Aku kemudian menjadi serba salah ketika berdoa kepada-Nya. Pada sebuah kesempatan aku bertanya kepada pendamping rohani, “Apa yang harus kulakukan sehingga aku dapat menjalin relasi dengan Allah?”

“Tak sesuatupun perlu kaulakukan,” katanya. “Allah menjumpai engkau di tempat engkau berada saat ini,” tuturnya lebih lanjut.

Jawabannya membebaskanku dari penjara kesalahpahaman. Allah memang selalu memanggil aku dan engkau untuk bertobat dan bertumbuh terus-menerus. Meskipun kita jauh dari sempurna dan suci, Allah mengasihi kita sebagaimana adanya sekarang. Anthony de Mello (†1931-1987), seorang guru rohani Yesuit India, pernah bertutur, “Engkau tidak harus mengubah diri terlebih dahulu agar kemudian Allah mengasihimu.”

Dalam Kitab Suci Kristiani, Yesus seringkali memanggil pribadi-pribadi untuk berpaling dari kedosaannya dan mengubah orientasi hidup mereka kepada Allah. Namun pertobatan mereka bukan syarat awal Ia berkenan menjumpai mereka. Ia menjumpai mereka di tempat mereka berada dan sebagaimana mereka adanya.

Allah sungguh-sungguh memperhatikan keadaanku saat ini. Jika aku menemukan kebahagiaan melalui perjumpaan dengan sesama, relasi barangkali menjadi lokasi Allah menjumpaiku. Jika aku orangtua, Allah mungkin menjumpaiku melalui anak-anak dan cucu-cucuku. Jika alam memberiku suka cita, aku hendaknya mencari Allah dalam laut, langit, hutan, perkebunan, dan sungai. Jika terlibat aktif di dunia, aku perlu mencari Allah dalam profesi yang kugeluti. Jika menyukai seni, aku hendaknya mencari Allah di museum, konser, dan teater.

George, sahabat dan pendamping narapidana di Boston, berkisah kepadaku mengenai seorang narapidana yang emosinya sudah mencapai ubun-ubun untuk memukul narapidana lain. Sahabat saya mencari tahu alasan narapidana binaannya itu mengurungkan niat. Allah menyapa narapidana itu dan memintanya untuk memikirkan kembali jalan kekerasan yang hendak ditempuhnya. Bilik penjara juga menjadi tempat perjumpaan Allah dengan para narapidana.

Petrus Faber (†1580-1650), yang masuk dalam bilangan para Yesuit pertama dalam sejarah Serikat Yesus, pernah bertutur, “Carilah rahmat dalam perkara-perkara kecil, dan engkau juga akan menemukan rahmat untuk menyelesaikannya, mempercayainya, dan mengharapkannya dalam perkara-perkara besar.”

Cara Allah menjumpai kita

Allah juga menjumpai kita dalam cara-cara yang kita dapat memahaminya. Dalam masa Tahun Orientasi Kerasulan, pembesar Serikat Yesus mengutusku untuk melayani pengungsi di Nairobi, Kenya. Aku membantu para pengungsi dari Afrika timur itu membuka lembaran baru kehidupan mereka dengan bisnis kecil-kecilan. Awalnya aku hanya merasakan kesepian bekerja di antara mereka. Bahkan, aku kemudian menderita sakit yang pemulihannya memakan waktu hingga dua bulan.

Perkenalan dan pelayanan bersama relawan-relawati kemanusiaan yang murah hati, seperti Uta, membahagianku. Uta seorang awam perempuan berdarah Jerman dengan pengalaman melayani para pengungsi di Asia Tenggara. Kami membuka dua puluh bisnis baru, seperti usaha jahit, restoran, pabrik roti, dan peternakan ayam, untuk para pengungsi.  Kami juga membuka toko yang menjual kerajinan tangan para pengungsi. Suatu sore, sepulang kerja, suka cita menaungiku. Allah menyapaku lewat pohon pisang, jeruk, rumput, ladang jagung, burung dan mereka yang bekerja di ladang dalam perjalanan sepulang kerja. Kesepian, bahkan sakit panjang pada saat-saat pelayanan kepada pengungsi di Naiorbi berganti menjadi kobaran cinta.

Allah berbicara kepada kita dalam cara-cara yang kita dapat memahaminya. Ia dapat berjumpa dengan kita setiap saat. Rumah kehidupan sehari-hari kita tidak harus tertata sempurna untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Rumah kerohanian kita tidak perlu rapi dahulu untuk kemudian Allah berkenan mengunjunginya.

Dalam Injil, Yesus seringkali menjumpai pribadi-pribadi di tengah-tengah kesibukan hidup mereka. Petrus sedang membersihkan jala di tepian danau. Mateus sedang duduk berjaga di tempat pemungutan pajak. Yesus juga menjumpai pribadi-pribadi dalam situasi-situasi hidup darurat. Ia menyapa perempuan yang hampir dirajam batu oleh massa karena perzinahan, perempuan menderita penyakit selama bertahun-tahun, dan seorang yang dirasuki roh  jahat sehingga kehilangan akal sehatnya. Allah berbicara dengan pribadi-pribadi di tengah kesibukan, kekhawatiran, ketakutan, dan bahkan stress mereka.

“Aku siap menjumpai engkau jika engkau siap menjumpai-Ku.”

Jika Allah menemui kita di tempat kita berada, kita menjadi lokasi perjumpaan dengan Allah. Jangan kita menunggu kehidupan kita mapan, atau anak-anak kita telah beranjak dewasa, atau memiliki rumah mewah, atau sembuh dari penyakit yang menahun. Jangan kita menunggu sampai kita menahlukkan kedosaan, atau lebih rohani atau lebih dapat berdoa.

Jangan pernah engkau menunggu sampai semuanya itu terjadi.

Karena Allah siap menjumpai engkau sekarang.

Terjemahan dari tulisan God Meets You Where You Are dalam The Jesuit Guide to (Almost) Everything: A Spirituality for Real Life oleh James Martin, S.J., (New York, NY: Harper Collins, 2010), 67-70.

Rev. Fr. James Martin, SJ, is a Jesuit priest, culture editor of America magazine, and author of numerous books, including My Life with the Saints, which Publishers Weeklynamed one of the best books of 2006. Father Martin is a frequent commentator in the national and international media, having appeared in such diverse outlets as The Colbert Report, Fresh Air, The O’Reilly Factor, News Hour with Jim Lehrer, the New York Times, The Wall Street Journal, and The Boston Globe, and on the History Channel, BBC, and Vatican Radio. Before entering the Jesuits in 1988 he graduated from the Wharton School of Business.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here