Deddy Paham Gilirannya

2
439 views
Ilustrasi: Saatnya harus turun panggung (Flickr)

SAYA bukan fans Deddy Corbuzier. Entah bagaimana, ada videonya yang mampir di gadget saya. Kali itu dia bertindak sebagai tamu, host– nya saya tak kenal.

Begini cuplikannya.

“Pada saat berhenti main sulap, saya adalah satu-satunya magician di Indonesia yang mendapat penghargaan world best. Jadi, gua juara dunia.

Di dunia, pada tahun 2010-2011, gua world best. Pada saat itu, saya memutuskan untuk berhenti. Karena gua tahu, ketika saya lagi di atas, apa pun itu, there is only one way you go down.

Lu mau kemana lagi larinya. Satu-satunya ya lu lari turun ke bawah. Suatu saat (akan) ada anak muda yang lebih keren (tiba-tiba menggantikan lu)”.

Sekali lagi, saya bukan penggemar Deddy Corbuzier. Tapi pernyataannya itu membuat saya tercenung sejenak.

Sadar akan perputaran hidup yang begitu cepat, Deddy memilih untuk “keluar” dari orbit “juara dunia mentalis” dan masuk ke pertarungan di ranah lain.

Saya memberikan dua jempol ke atas bagi Deddy.

Apa alasannya?

Pertama, Saat itu Deddy masih muda. Usianya baru 35 tahun. Dia berhasil merebut gelar “Merlin Award” sebagai “Mentalis terbaik dunia”, dua tahun berturut-turut. Bukan tak mungkin dia masih mampu merebut 1-2 kali lagi. Tapi Deddy memilih berbeda.

Tak banyak orang memiliki keberanian seperti itu.  Biasanya, mereka yang sedang duduk, lupa berdiri. Yang sedang menggenggam, lupa melepaskan. Yang sedang merangkul, lupa mencuraikan.

Kedua, ini soal area-nyaman. Saat memegang piala, popularitas atau kekuasaan, orang sering bingung sendiri. Biasanya memabokkan dan lupa lepas darinya.

Ini yang menghalangi seseorang untuk berubah, tumbuh atau, apalagi, bertransformasi.

It’s only after you’ve stepped out of your comfort zone that you begin to change, growth and transform.” (Roy T. Bennet)

Ketiga, Deddy tak mau jatuh dengan kesakitan. Alasannya,  “puncak”, apa pun itu, hanya mempunyai satu jalan keluar, yaitu turun. 

Sungguh brilian.

Kemudian, Deddy membayangkan ketika tiba-tiba muncul anak muda yang lebih keren dan merebut “juara dunia” darinya. Mungkin tanpa dia duga sebelumnya. Kejatuhannya terasa tak nyaman atau bahkan membuat linu yang bukan alang-kepalang.

Tak banyak kisah seperti Deddy dalam meniti kerier. Kebanyakan orang lebih memilih bertahan, bahkan sambil leyeh-leyeh.

Ada kisah serupa yang lebih heroik. Diukir oleh tokoh dan negarawan dunia, asal Afrika Selatan, Nelson Mandela.

Setelah di dalam penjara selama 27 tahun, Mandela didapuk menjadi presiden. Jabatan yang harus diemban selama lima tahun dan bisa diperpanjang sekali lagi.

Tetapi, baru menginjak tahun keempat, Mandela mengeluarkan pernyataan mengagetkan.

Mayoritas rakyat Afrika Selatan dan dunia masih menghendakinya, Mandela justru mengatakan: “Enough. Enough is enough.”

Mandela sadar bahwa Afrika Selatan membutuhkan kepemimpinannya untuk mengantar keluar dari Politik Apartheid yang memecah belah bangsa.

Berikutnya, seorang putera bangsa yang lain akan meneruskan estafet kepemimpinannya.

It is better to lead from behind and to put others in front, especially when you celebrate victory when nice things occur. You take the front line when there is danger. Then people will appreciate your leadership”. (Nelson Mandela) 

Mandela tak mau berlama-lama berkubang dalam euforia kejayaan yang penuh rasa manis dan indah. Dia sengaja keluar agar perubahan, pertumbuhan dan transformasi bagi bangsanya bergulir lebih cepat.

Meski dengan skala berbeda, ada benang merah yang tersambung antara mereka.  

Keduanya “tahu diri” kapan waktunya pindah dari “zaman keemasannya” menuju puncak lainnya yang masih harus diperjuangkan.

Mereka mempunyai keberanian untuk keluar dari hiruk-pikuk “rasa manis”, meski butuh level energi yang tinggi dan berlipat dua.

Level energi pertama untuk berhenti sebagai juara dunia atau presiden.

Yang kedua, untuk meniti ke puncak “hidup baru” yang masih gelap-gulita.

Mereka paham, giliran untuk tinggal di area-nyaman ada batasnya. Giliran tak berlaku selamanya dan tidak tak terbatas.

Ia harus diakhiri oleh dirinya. Bila tidak, pihak lain yang akan mengeksekusinya. Bila dipilih yang kedua, sang pelaku tak bisa mengontrolnya. Ini bisa menimbulkan ketidak-nyamanan yang lebih parah.

Deddy Corbuzier adalah contoh bagaimana mengatasi kedua kebutuhan energi tersebut.  Kini namanya bertengger sebagai YouTuber dengan belasan juta pengikut dan penghasilan milyaran rupiah setiap bulannya.

Harap dicatat, itu diawali dengan keberaniannya untuk berhenti jadi mentalis, saat juara dunia digenggamnya.

Itulah seni menyiasati hidup. Menentukan kapan harus berubah adalah teka-teki. Masing-masing individu berbeda-beda garisnya.

Seni loncat-meloncat tak bergantung pada usia, kompetensi, atau kesempatan.

Ini soal keberanian, kebijaksanaan, pengalaman dan kepekaan.

It’s not a competition of knowledge, it’s a competition of wisdom, experience and sensitivity.” (Jack Ma)

@pmsusbandono

25 Mei 2022

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here