Home BERITA Delkit Regio Sumatera 2026: Menemukan Wajah Kristus dalam Budaya Lokal Sumatera Utara

Delkit Regio Sumatera 2026: Menemukan Wajah Kristus dalam Budaya Lokal Sumatera Utara

0
127 views
Para peserta pertemuan Delegatus Kitab Suci Regio Sumatera. (Panitia)

BUDAYA lokal merupakan ladang subur bagi pewartaan Sabda Allah. Dari bahasa, simbol, hingga tradisi yang hidup di tengah masyarakat, Gereja menemukan jalan untuk menghadirkan pribadi Kristus secara semakin akrab dan mudah dikenali umat.

Gagasan inilah yang menjadi benang merah Pertemuan Delegatus Kitab Suci (Delkit) Regio Sumatera Tahun 2026 yang berlangsung di Catholic Center Christosophia Keuskupan Agung Medan pada 15–19 Juni 2026.

Delegatus Kitab Suci Keuskupan Regio Sumatera

Pertemuan yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini diikuti oleh para Delegatus Kitab Suci dari Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkal Pinang, dan Keuskupan Tanjungkarang.

Hadir juga sebagai peserta istimewa utusan khusus Komisi Kitab Suci Konferensi Waligereja Timor ‎Leste yang berniat mengamati dan mempelajari penerapan kerasulan Kitab Suci dalam konteks budaya lokal.

Turut hadir pula:

Ketua Lembaga Biblika Indonesia (LBI): Pastor Albertus Purnomo OFM, serta utusan dari Komisi Kitab Suci Timor Leste: Pastor Paulus Kerans, SVD dan Pastor Joaquim SarmentoSJ, yang turut berbagi pengalaman tentang penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokal Tetun Terik.

Mengusung tema ”Menemukan Wajah Yesus dalam Budaya Lokal”, pertemuan Delkit Regio Sumatera Tahun 2026 ‎menjadi ruang bersama untuk saling berbagi pengalaman, memperkaya pelayanan Kerasulan Kitab Suci, sekaligus memperkuat karya pewartaan Sabda Allah di berbagai keuskupan di wilayah Regio Sumatera.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Keuskupan Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap didampingi Ketua Lembaga Biblika Indonesia Pastor Albertus Purnomo OFM dan Ketua Delkit Regio Sumatera Pastor Yonas Manue Hunu SVD. Dan berlangsung di Kapel St. Faustina Catholic Center Cristosophia Keuskupan Agung Medan.

Dialog bersama dan refleksi

Dalam homilinya, Mgr. Kornelius mengajak seluruh peserta menjadikan pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk semakin bertumbuh dalam Sabda Tuhan melalui dialog dan refleksi bersama. ”Pertemuan ini hendaknya menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan bersama-sama merefleksikan Sabda Tuhan dalam kehidupan dan pelayanan kita,” ungkap Mgr. Kornelius.

Ajakan tersebut menjadi semangat dasar seluruh rangkaian kegiatan Delkit Regio Sumatera 2026.

Selesai perayaan ekaristi, Bapa Uskup bersama para peserta Delkit Regio Sumatera mengadakan acara ramah tamah di ruang makan Lt. 1 Catholic Center Cristosophia KAM. Dalam kegiatan ini, berlangsung acara perkenalan dari tiap keuskupan, kata sambutan dari Ketua LBI dan Ketua Regio Sumatera, kata sambutan dan perkenalan dari Ketua Komisi KKS KAM beserta BPH dan panitia, serta sambutan dari Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap yang sekaligus membuka secara resmi pertemuan ini.

Budaya Lokal menjadi jalan pewartaan

Seminar Kitab Suci yang menjadi agenda utama Delkit Regio Sumatera 2026 berangkat dari satu keyakinan bersama bahwa Injil tidak pernah diwartakan di ruang yang kosong.

Sejak zaman Kitab Suci hingga sekarang, Sabda Allah selalu hadir dalam sejarah, bahasa, dan budaya manusia. Karena itu, budaya lokal bukanlah penghalang pewartaan, melainkan ruang tempat Sabda Allah bertumbuh dan berbuah.

Dalam pengantar seminar, Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan, Pastor Paulus Halek Bere SS.CC menjelaskan bahwa Kitab Suci lahir dari pergulatan Allah dengan manusia dalam sejarah yang nyata. Oleh sebab itu, pewartaan Sabda Allah selalu perlu memperhatikan konteks budaya masyarakat yang menerimanya.

Menurutnya, kontekstualisasi tersebut harus dilakukan secara bijaksana agar Injil sungguh berakar dalam budaya tanpa jatuh ke dalam sinkretisme.

Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Ketua Lembaga Biblika Indonesia, Pastor Albertus Purnomo OFM. Ia menegaskan bahwa tujuan membaca Kitab Suci bukan sekadar memperkaya pengetahuan, melainkan membawa umat semakin mengenal dan menyerupai Yesus Kristus.

Kekristenan bukan agama kitab semata, melainkan agama yang berpusat pada pribadi Yesus ‎Kristus. ‎Karena itu, Kerasulan Kitab Suci tidak berhenti pada kegiatan membaca Alkitab, tetapi harus membangun kehidupan beriman, keluarga, dan semangat perutusan Gereja.

”Kitab Suci adalah Sabda Allah yang hidup. Agar tetap hidup, Sabda Allah harus hadir melalui budaya masyarakat setempat maupun perkembangan teknologi dan media komunikasi sehingga sungguh menjadi bagian dari identitas umat, ” tegas Pastor Albertus.

Merujuk Dokumen Konsili Vatikan II Dei Verbum 21-25, dosen Kitab Suci SFT Driyarkara Jakarta ini mengatakan Gereja terus berupaya menerjemahkan dan ‎mengontekstualisasikan Sabda Allah agar dapat dipahami oleh setiap bangsa dan budaya tanpa ‎kehilangan kemurnian iman.‎

Cinderamata untuk segenap peserta pertemuan Delegatus Kitab Suci Regio Sumatera dengan Keuskupan Agung Medan sebagai tuan rumah. (Panitia)

Interkulturasi

Dalam seminar terungkap bahwa iman Kristiani bukan hanya tidak bertentangan dengan budaya lokal, tetapi benihnya malah sudah bersemi di dalamnya.

Hal ini ditegaskan oleh antropolog Pastor Herman Yosef Nainggolan OFMCap. Ia menguraikan kekayaan budaya Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak sebagai Seminarium Verbi atau tempat Sabda Allah bersemai.

Sub-etnis di Sumatera Utara itu memiliki konsep ketuhanan tradisional seperti Ompu, Mula Jadi Nabolon, Dibata ‎Idah, Tuan Na Bolon, dan Raja Panusunan Bulung.‎

Demikian konsep kasih, penghormatan kepada sesama, dan solidaritas.

”Nilai-nilai luhur tersebut merupakan semina Verbi atau benih-benih Sabda yang telah lebih dahulu hadir dalam budaya lokal bahkan sebelum Injil diberitakan secara resmi,” katanya.

Oleh karena itu, Pastor Herman Yosef mengajak Gereja melihat pergeseran paradigma dari inkulturasi menuju ‎interkulturasi.

Interkulturasi dipahami sebagai hubungan timbal balik antara iman dan budaya, ‎sehingga keduanya saling memperkaya.

  • Iman tidak meniadakan kekayaan budaya lokal, melainkan memurnikannya.
  • Demikian pula sebaliknya, budaya lokal menghadirkan Sabda Tuhan lebih hidup sesuai dengan suasana kebatinan umat Allah.

Pandangan itu mendapat landasan biblis melalui pemaparan Pastor Yonas Manue Hunu SVD.

Ia menjelaskan bahwa Kitab Suci sendiri lahir dalam konteks budaya Yahudi, Yunani, dan Romawi. Bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana Allah menyatakan diri kepada manusia. ”Kitab Suci menjadi jendela untuk melihat dunia masa lalu sekaligus cermin untuk membaca kehidupan kita hari ini,” katanya.

Ketua Delkit Regio Sumatera tersebut menegaskan bahwa memahami budaya menjadi bagian penting dalam memahami Kitab Suci. Allah selalu berkarya dalam konteks kehidupan manusia. ”

Allah adalah Allah yang kontekstual karena selalu menyatakan diri dalam satu konteks. Karena itu kita perlu hidup dalam konteks Kitab Suci sekaligus konteks budaya kita sendiri agar tetap setia kepada iman tanpa tercerabut dari akar budaya”, lanjutnya.

Bukan mencampur-adukan sesuka hati

Meskipun Gereja menghargai budaya lokal, inkulturasi tidak berarti mencampuradukkan iman dengan seluruh unsur budaya.

Hal itu ditegaskan narasumber lain: Pastor Josep Parasian Gultom. Ketua Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Agung Medan ini menjelaskan bahwa inkulturasi merupakan proses penjelmaan Injil ke dalam suatu budaya sehingga iman dapat dihayati melalui kebudayaan setempat.

”Inkulturasi berbeda dengan asimilasi yang menghilangkan identitas budaya. Juga berbeda dengan sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran iman dengan kepercayaan lain. Inkulturasi memurnikan budaya melalui terang Injil. Dasar biblisnya ialah peristiwa Inkarnasi, ketika Sabda menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14),” tegasnya.

Seluruh refleksi mengenai Kitab Suci dan budaya akhirnya bermuara pada liturgi Gereja. Pastor Fransiskus Xaverius Marmidi SCJ, menjelaskan bahwa liturgi merupakan tempat Sabda Allah terus dihidupi oleh umat.

Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi membentuk satu kesatuan yang menghadirkan karya keselamatan Kristus. Gereja bukan hanya membaca Kitab Suci, tetapi juga menafsirkan, merayakan, dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan umat.

Karena itu, menurut Pastor Marmidi, penggunaan unsur-unsur budaya dalam liturgi perlu selalu disertai katekese yang baik agar umat memahami maknanya dalam terang iman. ”Liturgi menjadi sarana Gereja untuk membaca, merenungkan, dan menghidupi Kitab Suci secara utuh sehingga kita semakin menemukan Yesus Kristus,” tuturnya.

Sejak Gereja Perdana, Sabda Allah dan Ekaristi selalu menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Rangkaian seminar yang sarat akan bobot akademis ini diakhiri dengan momen apresiasi simbolis. Panitia memberikan cinderamata kepada para narasumber sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi intelektual dan spiritual mereka.

Sebagai wujud nyata dari semangat pelestarian budaya lokal, empat orang peserta perwakilan menerima Kitab Suci berbahasa daerah, yakni bahasa Pakpak dan Simalungun.

Selain itu, peserta yang aktif bertanya dalam setiap sesi juga menerima cenderamata berupa buku-buku penunjang, sebagai insentif bagi semangat dialog dan keterlibatan akademik

Komitmen dan arah bersama Delkit Regio Sumatera

Pertemuan internal para Delegatus Kitab Suci Regio Sumatera yang dipimpin Ketua Delkit Regio Sumatera, Pastor Yonas Hunu SVD, mengarah kepada komitmen dan langkah bersama bagaimana mengembangkan kerasulan Kitab Suci dalam konteks lokal masing-masing.

Pertemuan ini dibagi dalam tiga agenda utama, yaitu:

  • Pemaparan dari Ketua Lembaga Biblika Indonesia (LBI).
  • Berbagi pengalaman dari masing-masing keuskupan.
  • Penyusunan deklarasi bersama.

Dalam kesempatan itu, Pastor Albertus Purnomo OFM memperkenalkan perkembangan Lembaga Biblika Indonesia, termasuk arah pastoral Kitab Suci yang sedang dikembangkan.

Ia juga mengajak setiap keuskupan untuk menghadirkan kegiatan yang lebih kreatif dalam Bulan Kitab Suci Nasional. ”BKSN hendaknya tidak hanya diisi dengan pendalaman Kitab Suci, tetapi juga dapat dikembangkan melalui festival, lomba, atau berbagai kegiatan kreatif yang semakin menumbuhkan kecintaan umat kepada Sabda Allah”, pesannya.

Syering dari Timor Leste

Para peserta juga mendengarkan kesaksian dari utusan Timor Leste mengenai upaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokal yang merupakan tuntutan Vatikan untuk liturgi dan pengajaran iman.

Syering antar keuskupan menjadi ruang belajar bersama, memperkaya strategi kerasulan Kitab Suci di masing-masing wilayah. Para peserta delkit saling berbagi pengalaman dari tiap keuskupan.

Syering ini menjadi momen untuk belajar satu sama lain dalam mengadakan kerasulan kitab suci di keuskupan masing-masing. Kegiatan hari ini ditutup dengan perayaan Ekaristi di Gereja Inkulturasi Velankani, Medan.

Ziarah dan peneguhan komitmen

Pertemuan Delkit Regio Sumatera ditutup dengan kunjungan budaya ke beberapa tempat yang mempertemukan budaya dan iman di Kota Medan, Pulau Samosir, dan Tanah Karo.

Para peserta dapat melihat secara langsung bagaimana budaya iman Kristiani hidup dan dihayati umat lokal dalam budaya mereka masing-masing.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dalam perayaan Ekaristi di Paroki Santa Perawan Maria Kabanjahe, Tanah Karo.

Rangkaian pertemuan tidak hanya diisi dengan diskusi, tetapi juga ziarah rohani ke daerah Samosir pada 18 Juni 2026.

Para peserta mengunjungi Seminari Tinggi Santo Petrus (STSP), Kota Tua Sialagan, dan menikmati keindahan budaya Batak Toba, termasuk mengenal tortor batak sebagai sarana kontekstualisasi memurnikan nilai budaya dalam evangelisasi.

Pada hari terakhir, 19 Juni 2026, para peserta melakukan ziarah ke patung Yesus Sibeabea sebelum merayakan Ekaristi penutup di Paroki St. Perawan Maria, Kabanjahe, Tanah Karo, yang dipimpin oleh Pastor Albertus Purnomo OFM.

Momen yang luar biasa ini tim delegatus Delkit sungguh-sungguh menggali dari pengalaman budaya dengan konsep sinodalitas menemukan wajah Kristus dalam budaya lokal.

Deklarasi Bersama

Dalam perayaan Ekaristi penutup, Ketua Regio Sumatera, Pastor Yonas Hunu SVD, membacakan deklarasi komitmen bersama.

Para peserta menyatakan tekad untuk setia pada ajaran iman dalam terang Kitab Suci dan menjadikan budaya lokal sebagai sarana pewartaan. Mereka menyadari bahwa keberagaman budaya dan bahasa di Sumatera dan Kepulauan Riau adalah anugerah yang harus dirawat, bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai jembatan untuk menghadirkan Kristus secara lebih nyata dan akrab di tengah umat. Ada pun komitmen tersebut adalah menghargai simbol dan bahasa daerah, menemukan benih-benih Sabda Allah dalam budaya masyarakat, memperhatikan kaderisasi kaum muda, memanfaatkan media komunikasi digital, serta mengembangkan metode pewartaan yang semakin dekat dengan generasi muda.

Pertemuan Delkit Regio Sumatera 2026 ini diharapkan menjadi titik tolak bagi gerakan kerasulan Kitab Suci yang lebih kontekstual, kreatif, dan berdaya jangkau luas, sejalan dengan semangat Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan yang bertema “Gereja KAM Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo