Dessert Day

0
285 views
Charles de Foucauld. (Ist)

Puncta 04.02.23
Sabtu Biasa IV
Markus 6: 30-34

KOMUNITAS Jesus Caritas yang meniru teladan Charles de Foucauld mempunyai kebiasaan Retret “Padang Gurun”.

Metode dari retret ini adalah menyepi ke tempat sunyi seperti di padang gurun yang tidak ada apa-apa.

Retret Padang Gurun berarti meninggalkan segala kesibukan, pekerjaan, rutinitas, tugas dan tanggungjawab untuk bertemu dengan Allah saja.

Sepanjang hari menyendiri di tempat yang sepi. Untuk mendukung suasana, bisa dilakukan puasa. Tetapi jika tidak mampu bisa bawa sedikit makanan.

Boleh membawa Kitab Suci dan buku refleksi untuk menemukan inspirasi yang mencerahkan. Sepanjang hari itu hanya memberi waktu Tuhan untuk bercengkerama dengan kita.

Bagaimana aku mengalami dikasihi Allah dalam segala situasi hidup.

Seperti pengalaman Israel di padang gurun selama 40 tahun, kita menyepi untuk merenungkan Allah yang tetap setia dan mengasihi kita.

Dari tempat yang sepi seperti padang gurun, kita menimba kekuatan dari Allah.

Sesudah Yesus mengutus murid-murid-Nya mewartakan Injil, mereka kembali berkumpul bersama Yesus.

Lalu Yesus mengajak mereka untuk pergi mencari tempat yang sepi. Kata Yesus, “Marilah kita pergi ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!”

Retret atau rekoleksi itu penting bagi pola hidup rohani kita. Maka Bapak Uskup mewajibkan para imamnya untuk sekurang-kurangnya setahun sekali mengadakan retret baik pribadi maupun terbimbing.

Retret adalah kesempatan pribadi untuk mengkhususkan waktu bersama Tuhan. Mencari tempat sunyi untuk berwawanhati dengan Tuhan.

Retret bukan untuk kangen-kangenan ketemu teman ngobrol tentang pekerjaan, apalagi “nggosip ngalur ngidul ora ana juntrunge.

Yesus sendiri sering memberi contoh. Setelah melayani banyak orang, pada waktu malam atau pagi hari, Ia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa.

Yesus menimba relasi dengan Bapa-Nya dalam keheningan.

Retret itu seperti “nge-charge” batere yang sudah lemah untuk menimba kekuatan baru dari Tuhan, agar bisa segar kembali dalam pelayanan.

Seperti orang naik gunung, dia juga butuh istirahat sejenak, supaya tenaganya pulih kembali menuju puncak.

Setelah beristirahat sejenak, Yesus dan para murid siap melayani kembali orang-orang yang datang kepada-Nya.

Hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan. Ia mengajar, melayani dan menyembuhkan berbagai penyakit dari orang-orang yang datang silih berganti.

Doa dan relasi yang terus dijalin dengan Allah dalam keheningan adalah daya kekuatan untuk berkarya. Marilah kita masuk ke tempat yang sunyi supaya kita menimba kekuatan baru dari Tuhan.

Jangan pernah melupakan doa-doa. Sisihkan waktu sejenak untuk bertemu dengan Tuhan.

Siang hari diguyur derasnya hujan,
Pakai mantol agar berjalan aman.
Doa adalah api yang menghangatkan,
Sisihkan waktu sejenak untuk Tuhan.

Cawas, dalam kebersamaan dengan teman2 angkatan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here