Home BERITA Dialog Kebangsaan: Ikan Busuk dari Kepalanya, Bukan dari Ekor

Dialog Kebangsaan: Ikan Busuk dari Kepalanya, Bukan dari Ekor

0
62 views
Ilustrasi - Pemimpin lurus. (Ist)

DI ruang kerjanya, Kolonel Sudirman, memanggil Kapten Hartono dan Kapten Handiman.

Kolonel Sudirman, dengan suara teduh: Sini, Kapten. Kalian tahu kan: 上梁不正下梁歪
Shàng liáng bù zhèng, xià liáng wāi
-Kalau balok atas tidak lurus, balok bawah pasti miring. Ini sama dengan kepemimpinan. Kalau kepala busuk, tubuh pun rusak.

Kapten Hartono: Siap, Pak, benar. Pepatah Jawa pun bilang: “kacang ora ninggal lanjaran.” Artinya, bawahan tak akan jauh dari teladan atasannya.

Kapten Handiman: Betul sekali, bahkan Firman Tuhan menegaskan, “Jika pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi jahat.” (Amsal 29:12, TB).

Kapten Hartono menanggapi: Begitu pula Al-Qur’an memperingatkan kehancuran umat yang zalim.

Semua menunjuk ke satu titik: pemimpinlah kuncinya.

Kolonel Sudirman, menghela napas: Di masa modern ini, mari kita belajar dari teori kepemimpinan modern. Burns: “Pemimpin sejati itu transformasional – ia mengangkat moral, menyalakan semangat, dan memberi visi besar yang membuat orang rela berkorban. Bukan karena takut, tapi karena terinspirasi.” Kalau kita gagal memberi teladan, pasukan pun kehilangan arah.

Kapten Hartono mengangguk dalam: Jadi kepemimpinan bukan sekadar perintah, tapi mengubah hati dan pikiran prajurit.

Kapten Handiman menimpali: Ya, dan Greenleaf mengingatkan: “Pemimpin sejati adalah pelayan. Kalau kita menomorsatukan kesejahteraan prajurit, mereka akan menomorsatukan bangsa.” Kepemimpinan itu bukan soal pangkat, tapi soal keberanian melayani.

Kolonel Sudirman tersenyum, menatap kedua kaptennya, bangga: Tepat. Ingat: “Ikan busuk dari kepala.” Tak ada prajurit yang salah, bila pemimpinnya lurus. Jika kita sebagai kepala mampu memimpin dengan visi (Burns) dan melayani dengan hati (Greenleaf), bangsa ini akan selamat. Kepemimpinan adalah soal amanah, bukan soal kuasa.

Kerusakan organisasi bermula dari kepala, kebajikan juga berawal dari kepala. Pemimpin sejati bertanggungjawab penuh atas moral pasukan dan bangsa.

Referensi:

  1. Alkitab Terjemahan Baru. (2004). Amsal 29:12. Lembaga Alkitab Indonesia.
  2. Burns, J. M. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
  3. Departemen Agama RI. (2005). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surah Yunus (10):13. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
  4. Greenleaf, R. K. (1977). Servant leadership: A journey into the nature of legitimate power and greatness. Mahwah, NJ: Paulist Press.
  5. Pepatah Tiongkok. (n.d.). 上梁不正下梁歪 (Shàng liáng bù zhèng xià liáng wāi). Chinese Idiom Dictionary.
  6. Pepatah Jawa. (n.d.). Kacang ora ninggal lanjaran. Kamus Pepatah Jawa.

Footnote:
“Dikembangkan sebagian dengan bantuan AI (DeepSeek, ChatGPT, Meta AI); dimodifikasi oleh penulis; lisensi: CC BY-NC 4.0.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo