Disclub GSC: Harta Gereja Tiada Terkira itu Bernama Ajaran Sosial Gereja (1)

0
942 views

AJARAN Sosial Gereja yang dikenal secara populer melalui akronimnya ASG bolehlah disebut sebagai dokumen penting Gereja yang tiada terkira nilainya. Ini lantaran adanya nilai-nilai strategis yang diajarkan Gereja kepada umat katolik di seluruh dunia agar bisa menyikapi semua permasalahan sosial-politik yang ada di masyarakat.

Tentu, maksudnya bukan untuk mengajak umat katolik berpolitik praktis. Namun, lebih merupakan ajaran Gereja mengenai tatanan nilai-nilai fundamental kemanusiaan. ASG menjadi sangat berharga tiada terkira justru karena bisa menjadi acuan bagi setiap orang katolik dimana yang bersangkutan bisa mendapatkan landasan atau pondamen darimana dia diharapkan bisa bersikap merespon aneka persoalan sosial-politik-kemasyarakatan di lingkungannya masing-masing.

Sikap tepat dan benar

“Jadi, jangan dimengerti secara salah bahwa ASG itu mengajarkan orang katolik tentang cara berpolitik praktis. Bukan di situ fokusnya. Karena ASG lebih merupakan tatanan referensi nilai-nilai kemanusian fundamental yang mengajak orang katolik bisa mengambil sikap yang tepat dan benar dalam menyikapi persoalan sosial-politik-kemasyarakatan di daerahnya,” kata Romo YR Edy Purwanto Community (GSC) di Jakarta, sepanjang Sabtu (14/4).

Dengan hadirnya ASG, tandas Sekretaris Eksekutif dan Direktur Kantor KWI ini,  umat katolik bisa menemukan sumber-sumber sangat inspiratif tentang nilai-nilai dasar kemanusiaan dalam terang injili untuk menyikapi berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Kalau mempraktikkan cara pikir seperti itu, lanjut Romo Edy, rasanya lebih tepat kalau sebagai orang katolik tidak mengambil sikap cuek atau tak acuh terhadap berbagai persoalan penting kemasyarakatan. ASG, tandasnya, justru mengajak orang mengambil sikap dan bukan sebaliknya: tak acuh.

Mengambil sikap

Merespon pemikiran seperti itu, Ketua/CEO Gaudium et Spes Community (GSC) Paul Soetopo berpendapat, tidak bijak kalau dalam setiap peristiwa politik seperti pemilu dan pilkada orang-orang katolik mengambil sikap masa bodoh. “Saya justru berpikir sebaliknya. Kita harus menggunakan hak pilih politik untuk bisa memilih calon-calon pemimpin masyarakat yang cakap, berkualitas, dan punya integritas yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata Paul Soetopo.

Itu berarti, tandasnya, mengambil sikap berpartisipasi dalam sebuah peristiwa politik –katakanlah itu pemilu dan pillkada—sama artinya kita tidak ingin membuang peristiwa  penting dan sangat strategis berlalu begitu saja tanpa “campur tangan” politik umat katolik. Dengan demikian, sesuai semangat Ajaran Sosial Gereja (ASG),  kita memang sebaiknya menggunakan hak politik itu. “Dengan begitu, sama artinya  kita sudah menciptakan ruang dimana kita tidak ingin membiarkan diri kita (akan) dipimpin oleh orang yang tidak mau kita pilih,” jelas Paul Soetopo. (Bersambung)

Photo credit: Mathias Hariyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here