Drama Media Sosial Zaman Now

0
227 views
Ilustrasi - Hoaks dan konspirasi by Times of India

Puncta 05.08.21
Kamis Biasa XVIII
Matius 16: 13-23

SEBUAH adegan drama di medsos zaman now. Boleh disimak dan direnungkan.

Seorang wartawan bertanya kepada salah satu menteri. “Pak menteri, apakah bapak suka ayam goreng atau gulai kambing?”

Pak Menteri menjawab jujur. “Kalau saya suka ayam goreng, Dik.”

Wartawan tanya lagi. “Ayam goreng pakai tepung atau tidak, Pak?”

Menteri bilang, “Ya pakai tepung saya suka.”

“Seperti KFC atau MacD itu, Pak?” timpal wartawan.

“Ya, kira-kira seperti itu.”

Keesokan harinya muncul headline di media; “Menteri itu lebih suka ayam goreng KFC model Amerika dan tidak suka gulai kambing tradisional dari Indonesia.”

Kemudian wartawan media online menulis. “Terlalu. Gaya hidup menteri itu kebarat-baratan.”

Si Fakir membaca dan menulis status di FB-nya. “Hati-hati dengan menteri itu yang mendukung bisnis liberal-kapitalis daripada pertumbuhan ekonomi kerakyatan.”

Wartawan online abal-abal menulis.

“Menteri itu benci daging kambing yang dihalalkan.”

Ditanggapi oleh Dik Gendut menulis cuitannya. “Ya ampun, ada upaya penyesatan akidah. Kambing yang dihalalkan dianggap tidak baik oleh menteri itu. Kita sedang digiring kepada cara pandang kafir.”

Membaca drama di media online, menteri itu menjadi “bludreg” alias darah tinggi dan harus dirawat di rumah sakit.

Lalu si Botak menulis di WAG; “Mampus loe, nenteri kuwalat. Berani-beraninya membenci kambing kesayangan Bapa Abraham.”

Begitulah drama di Negeri Pecinta Sinetron Tukang Becak Naik Pesawat Ulang-Alik.

Yesus bertanya kepada para murid-Nya; “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”

Mereka menjawab menurut omongan banyak orang. Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia, atau salah seorang dari para nabi.”

Orang ngomong semaunya sendiri dan kadang ditambah dengan penilaian atau persepsi masing-masing dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Yesus tidak mau mendengarkan kata orang.

Maka Dia bertanya; “Tetapi, apa katamu, siapakah Aku ini?”

Yesus ingin mendengar langsung, bukan kata orang. Ia tidak ingin mendengar katanya-katanya-katanya.

Petrus langsung menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.”

Jawaban ini adalah pengalaman pribadi yang otentik.

Walaupun belum sempurna secara esensi, tetapi dihargai oleh Yesus karena jujur.

Dikatakan belum sempurna, karena maksud Mesianitas Petrus berbeda dengan Mesianitas Yesus.

Hal itu nampak ketika Petrus menolak Mesianitas Yesus yang menderita, dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Bukan Mesias macam itu yang dipikirkan Petrus.

Tetapi jawaban Petrus itu jujur dari dalam hatinya sendiri. Bukan karena omongan atau kata orang.

Kejujuran seperti Petrus itulah yang dihargai.

Jangan mudah percaya pada kata orang, apalagi berita di media sosial. Berita-berita di medsos itu sering menyesatkan.

Jangan mudah percaya dan terpancing membuat kesimpulan.

Bertindaklah jujur dan bersikaplah dewasa supaya tidak keliru mengambil kesimpulan yang bisa berakibat fatal dan menghancurkan.

Musim panas banyak daun-daun garing.
Pohon meranggas tinggal ranting-rantingnya.
Baca medsos harus dipilah dan disaring.
Carilah sumber yang baik dan dapat dipercaya.

Cawas, tetap waspada dan cerdas….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here