Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Di kala Tuhan Mencari Pekerja

0
120 views
Makna bekerja. (Romo Suhud SX)

Mat 9:27:3

Dari refleksi rohani banyak orang mengatakan, “Tuhan itu banyak sekali pekerjaan-Nya.

Sayangnya, yang berminat dan yang melamar ke sana tersandra oleh persyaratan dan seleksi yang ketat.”

Anehnya, di saat resesi ekonomi sedang bergejolak, banyak perusahan mem-PHK-kan karyawan. Pengganguran pun tumbuh di sana sini.

Belum lagi pendatang baru yang masih antri mencari lowongan pekerjaan dan masih menggangur berharap menunggu panggilan dari perusahan yang masih eksis. Apa tidak tambah menumpuk penggangurannya?

Namun, isu pengganguran di sini, terasa kontras dengan iklan di tempat Yesus berkarya. Kata-Nya, di sana, banyak sekali lowongan pekerjaan.

Kalau memang di sana, banyak lowongan pekerjaan, mengapa mereka yang membutuhkan pekerjaan di sini, tidak mencoba memasukan lamaran ke sana?

Apakah memang ada persyaratan berat, sehingga kebanyakan peminat canggung untuk melamar kesitu? M

ungkinkah itu soal upah minimum regional? Tuhan Yesus memang tidak menyajikan besaran ‘UMR’-nya berapa?

Sangat mungkin, karena tidak ada penyertaan UMR ini, yang menjadi canggung dan pertimbangan banyak peminat untuk melamar kesitu. Dengan kata lain, bekerja di tempat-Nya memang bekerja cuma-cuma tanpa upah.

Para murid Tuhan Yesus sempat menungu-nungu upah dari Yesus ketika sekian lama mereka ikut berkarya bersama dengan Yesus. Di belakang Yesus mereka masih berpikir dan menghitung upah. Mereka meyakini bahwa mereka sudah berkarya lama bersama dengan gurunya dan tabungan mereka sudah pasti menumpuk karena tidak pernah mereka ambil.

Karena sudah jenuh, lelah dan tak jelas upahnya Rasul Petrus mewakili teman-temannya bertanya, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27).

Apa jawaban Yesus ke mereka? Upahnya ada dua.

  • Pertama, pada hari kebangkitan tiba, mereka diikutsertakan bersama Yesus mengadili seluruh umat manusia.
  • Kedua, mereka akan memperoleh kehidupan kekal atau masuk surga.

Upah ini tentu melebihi materi bukan?

Sekarang, apabila Tuhan Yesus berkata, “banyak yang Dia panggil tetapi, sedikit yang Dia dipilih, itu karena adanya prosedur seleksi. Bisa jadi, yang banyak tidak diterima atau dipilih itu, semata-mata karena tersandra masalah UMR di tingkat duniawi”. Bahkan dari sedikit yang Dia pilih itu, toh belum bisa menjamin kualitas kerjanya. Yang sedikit ini, tetap masih butuh waktu dan proses guna untuk menguji kualitas kerjanya.

Slogan, “bekerja cuma-cuma atau tanpa upah ini” sangat tidak mudah.

Orang seperti Rasul Paulus yang dengan lantang berkata, “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor 9:18) adalah pilihan manusia langka yang tidak begitu mudah kita ditemukan di dunia nyata saat ini. Oleh karenanya, pilihan orang-orang yang rela bekerja tanpa upah di tempat Tuhan ini adalah pilihan orang langka. Dan Surga adalah tempat tinggal orang-orang langka.

Jadi, bila kita rela berminat bekerja tanpa upah di ladang Tuhan berarti kita sudah menjadi bagian dari sedikit orang yang akan dikenang oleh banyak orang sebagai “manusia langka” di antara sekian banyak manusia di dunia nyata.

Renungan: Apa upahku mengikuti Tuhan Yesus?

Tuhan memberkati.

Apau Kayan, 7.12.2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here