Gereja Perlu Dengarkan Wartawan, Upaya Sinergi Komisi Komsos KWI dan PWKI

0
340 views
Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI Romo Steven Lalu Pr memimpin pertemuan dengan sejumlah penggiat PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia) di Kantor KWI Cikini 2 Jakarta, Kamis (5/12/19) by Mathias Hariyadi

SELAMA ini, terkesan kental bahwa di mana-mana hirarki Gereja Katolik lebih banyak bicara dan para wartawan mendengarkan mereka dan kemudian mencatat omongan para anggota Hirarki Gereja (baca: Paus, Kardinal, Uskup, Pastor) dan kemudian merilisnya dalam bentuk berita.

Namun, jarang sekali – hampir tidak ada – forum atau kesempatan di mana terjadi model pembicaraan yang berbeda. Kini perlu dirancang suatu forum pertemuan di mana kini para wartawan yang bicara dan Hirarki mendengarkan.

Tahu dulu dari sumber berkompeten

Mengapa forum bicara dengan format komunikasi berbeda seperti ini penting?

Itu karena para pekerja media (baca: wartawan) adalah orang-orang “istimewa” di dalam masyarakat yang biasanya tahu lebih dahulu aneka isu yang menjadi bahan perbincangan di kalangan politisi, ilmuwan, pengamat politik, dan segenap masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Itu lantaran mereka sering mendapatkan informasi penting dari sumber-sumber pertama.

Membangun sinergi bersama PWKI

Melihat kenyataan ini, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI melalui Sekretaris Eksekutifnya Romo Antonio Steven Lalu Pr merasa penting bahwa perlu dirancang forum pertemuan khusus.

“Biarlah para wartawan sekali waktu silakan berbicara dan anggota Hirarki mendengarkannya,” ungkap imam diosesan Keuskupan Manado yang belajar Teologi Komunikasi di Roma, Italia.

Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI Romo Antonio Steven Lalu Pr, imam diosesan Keuskupan Manado. (Mathias Hariyadi)

Ketika gagasan ini digulirkan dalam sebuah pertemuan informal di Kantor KWI Jl. Cikini 2, Jakarta Pusat, Kamis (5/12/19), Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) langsung merespon ajakan ini dengan sangat antusias.

Ketua PWKI AM Putut Prabantoro menyatakan betapa strategisnya KWI sebagai lembaga “koordinatif” para uskup se-Indonesia memiliki perhatian besar akan masalah-masalah kenegaraan dan kebangsaan yang kini dihadapi bangsa Indonesia sebagai nation.

Putut lalu memberi ilustrasi betapa pentingnya Gereja Katolik Indonesia (baca: Hirarki dan KWI) ikut bersuara menyampaikan sikapnya dalam banyak urusan yang terjadi di masyarakat luas. 

“Bagaimana KWI, misalnya, merespon situasi di Papua dan kemudian menyampaikannya kepada masyarakat luas melalui media umum dengan bantuan para wartawan Katolik yang tergabung di forum PWKI,” ungkap alumnus Lemhannas ini bersemangat.

Selain Putut, para anggota PWKI yang ikut hadir dalam pertemuan dengan Komisi Komsos KWI ini adalah:

  • Bernardus Wijayaka (Suara Pembaruan);
  • Dimas Aditya (CNN Indonesia).
  • Mathias Hariyadi (Sesawi.Net, AsiaNews.It);
  • Rosemary Christina Sihombing (Media Indonesia);
  • Eko Ardianto (iNews);
  • Yustinus Hendro (Majalah Hidup);
  • Paulus S. Hutomo (Kosterku.com);
  • Gora Kunjana (Berita Satu).

Komisi Komsos KWI diwakili oleh Sekretaris Eksekutifnya Romo Steven Lalu Pr dan AM Margana, anggota Badan Pengurus.

Menjaring pelaku jurnalisme warga

Pada bagian sharing pengalaman dan gagasan membangun jaringan bersinergis, Mathias Hariyadi mengatakan salah satu keunggulan Sesawi.Net adalah mendapatkan para penulis kontributor itu dari segala penjuru Indonesia.

Para kontributor itu datang justru dari Hirarki (para pastor) plus para suster dan bruder yang merasa ingin bisa menulis dan belajar “jarak jauh” dari Sesawi.Net.

Harapan membuncah itu terjadi, ketika tulisan orisinal mereka bisa “diperbandingkan” dengan tulisan “baru” hasil suntingan Sesawi.Net, media online Katolik asuhan para mantan Jesuit ini.

“Mereka senang mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan di tempat lain, ketika hasil suntingan naskah asli mereka itu didiskusikan bersama. Di situ terciptalah relasi dan hubungan baik yang selalu harus di-maintain,” ungkapnya.

Endurance dan komitmen tinggi akhirnya menghasilkan kepercayaan publik yang besar pula.

Dari mana para kontributor itu didapatkan?

Tidak lain dari rangkaian lokakarya jurnalistik yang selama ini digelar di banyak lokasi dengan sistem pendampingan serius dan kontinyu.

Lokakarya jurnalistik itu biasanya digelar secara intens selama dua hari maraton dari pagi sampai malam. Para suster yang biasa tidur siang diajak sejenak ‘kerja keras’ menekuni sesi-sesi latihan menulis, kiat menemukan ‘esensi’ peristiwa dan kemudian menyajikannya dalam bentuk tulisan, foto, dan video.

Kini telah lahir banyak penulis baru dari kalangan para suster biarawati seperti dari Kongregasi Suster SFIC, SMFA, KFS, CP, AK, CB, OSF, SFS, SPC, SFD, SND, OSA, dan lainnya yakni Kongregasi Bruder MTB.

Dulu, ketika mau memulai mengajak para suster menulis, terjadi resitensi besar. Para pemimpin Kongregasi Suster takut, kalau para suster itu akan mengekspose kehidupan biara ‘keluar’ tanpa diskresi.

“Karena itu, pendampingan kontinyu dan serius perlu terus dibina sehingga semua produk jurnalistik mereka selalu melewati proses editing terlebih dulu sebelum dirilis ke ranah publik,” papar editor AsiaNews.it, media Katolik online multi bahasa yang berdiri sejak 2004 dan berbasis di Eropa itu.

Sharing pengalaman dan ujar gagasan antara Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI dan sejumlah anggota dan penggiat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kantor KWI Jl Cikini 2, Jakarta. (Mathias Hariyadi)

Yustinus Hendro dari Majalah Hidup juga menyatakan hal yang sama. Semangat menulis dan mempublikasikan hal-hal baik yang terjadi di masyarakat termasuk di dalam komunitas gerejani perlu semakin diintensifkan.

Dimas dari CNN Indonesia mengungkapan narasumber profesional di kalangan penggiat PWKI itu banyak. Tingggal bagaimana Komisi Komsos KWI bisa memanfaatkannya untuk keperluan yang lebih khusus sesuai kehendak Hirarki.

Menjaga iman dan spiritualiatas

Dalam pertemuan informal yang diwarnai dengan sharing pengalaman dan perhatian bersama akan perlunya Gereja Katolik Indonesia maju dan berkembang, Romo Steven Lalu Pr menyampaikan positioning Komisi Komsos KWI.

“Kami ini utamanya bertugas memotivasi Komisi-komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan agar semakin intensif memanfaatkan alat-alat media dan komunikasi modern untuk misi pewartaan iman,” paparnya.

Pada konteks inilah, Komisi Komsos KWI merasa perlu menjalin sinergi bersama dengan jaringan para wartawan Katolik yang bergabung dalam forum PWKI.

“PWKI itu punya sumber daya profesional untuk berbagai kebutuhan. Dan Komisi Komsos KWI bisa mendesain program-program pelatihan yang kiranya bisa menggandeng para anggota PWKI di mana saja –baik dari Jakarta dan daerah—untuk membantu mengeksekusi program-program tersebut,” ungkap AM Putut Prabantoro.

Para anggota PWKI yang hadir dalam pertemuan di Kantor KWI di Jl. Cikini 2, Jakarta Pusat, ini langsung mengamini gagasan tersebut.

Dalam konteks internal, Romo Steven Lalu mengatakan pihaknya kini tengah melakukan evaluasi internal atas Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN).

Selaman enam tahun terakhir ini, PKSN berlangsung secara bergiliran di wilayah Keuskupan berbeda.

“Apakah nantinya akan ada perubahan program PKSN atau lainnya, ini yang akan kami diskusikan secara internal,” kata Romo Steven.

Namun AM Margana menyitir pendapat umum bahwa output dari aneka program pelatihan di forum PKSN itu kurang optimal.

Rekomendasi umum

Pada tanggal 13-19 Agustus 2018 lalu telah berlangsung Rapat Pleno Komisi-komisi Komsos Seluruh Keuskupan di Indonesia di Sorong, Papua Barat.

Ada beberapa butir rekomendasi besutan forum rapat pleno para Ketua Komisi Komsos se-Keuskupan Indonesia dan penggiatnya.

Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI dan PWKI mencoba meretas sinergi bersama dalam beberapa program pendampingan ke depan. (Mathias Hariyadi)

“Ada beberapa butir yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman PWKI di sini yakni keinginan kami bisa membangun sinergi dengan para pelaku jurnalisme di kalangan kita –dalam hal ini para wartawan Katolik. Lalu, kepentingan kita bisa mempromosikan hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita melalui media yang saat ini kita kelola (online, cetak, video, siaran radio, dan lainnya). Berikutnya adalah perlunya kita membangun penguatan kapasitas para pelaku media dengan berbagai program,” terang Romo Steven Lalu Pr.

Bagaimana bisa merancang program-program itu, maka Romo Steven Pr merasa perlu mendapatkan masukan dari PWKI.

“Dalam pertemuan Badan Pengurus Komisi Komsos KWI di akhir Januari 2020 ini, kami jadwalkan semoga bisa bertemu dengan PWKI untuk mendiskusikan hal-hal yang lebih konkret untuk kepentingan membangun sinergi  bersama ini,” demikian harapnya di akhir pertemuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here