Puncta 06.12.19: Hindari Kata “Jangan” dan “Tidak”

0
76 views
Jangan takut

Matius 9: 27-31

MENURUT Psikolog Wikan Putri Larasati. M.Psi, orangtua diminta menghindari kata “jangan” atau “tidak”, jika harus melarang anaknya agar tidak melakukan sesuatu.

Sering secara spontan dan tidak sadar, orangtua melarang anak-anaknya dengan berkata, “jangan atau tidak boleh.”

Misalnya, “Jangan dolan terus, jangan sering main HP. jangan teriak-teriak, jangan bermain terus, jangan ini, jangan itu, dll.”

Pemakaian kata “jangan” justru memicu anak untuk melakukan apa yang dilarang. Rasa ingin tahu anak sangat tinggi.

Mereka justru ingin tahu mengapa hal itu dilarang. Anak-anak justru ingin meniru dengan berkata “tidak”, ketika diminta melakukan sesuatu oleh orangtua.

Selain itu, anak akan lebih fokus pada hal negatif karena dilarang, daripada yang lebih positif.

Wikan menyarankan kepada orangtua untuk mengganti kata “tidak” atau “jangan”, dengan kata lain yang lebih positif dan lembut.

  • Misalnya ketika orangtua melarang anak; “Jangan lari-lari”, sebaiknya diubah menjadi “Berjalan pelan saja ya nak.”
  • Ketika melarang anak yang corat-coret dinding, “Jangan coret-coret.” Ubahlah dengan; “Kalau mau gambar di kertas ini ya nak.”
  • Ketika mereka dilarang dengan kata jangan, mereka justru ingin melakukan apa yang dilarang itu.

Dalam Injil hari ini, Yesus melarang dua orang buta itu untuk tidak memberitahukan kesembuhan mereka kepada orang banyak. Tetapi kedua orang itu justru keluar dan memasyurkan Yesus ke seluruh daerah itu.

Yesus berkata, “Jagalah, jangan seseorang pun mengetahui hal ini.”

Kedua orang itu tidak menghiraukan apa yang dikatakan Yesus. Mereka dilarang agar merahasiakan peristiwa itu. Tetapi orang buta itu justru mewartakan Yesus ke seluruh daerah itu.

Bisa jadi Yesus justru menggunakan perintah negatif agar orang buta itu memberitakan karya agung Allah kepada semua orang. Kebaikan Allah tak mungkin dirahasiakan. Orang pasti akan bercerita kepada siapa pun karena mengalami kasih Allah yang begitu besar.

Tak mungkin orang membendung perasaan sukacita yang dialami. Mau tak mau harus diwartakan kepada semua orang. Orang buta itu tak bisa dilarang untuk diam saja.

Apakah anda punya pengalaman sukacita karena dikasihi Allah dan “kumudu-kudu” menceritakannya kepada banyak orang?

Malam-malam rambutku dicukur
Dan terpaksa harus keramas dan mandi
Hati tak kuasa untuk selalu bersyukur
Karena dikasihi dan dicintai

Cawas, saatnya puasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here