Home BERITA Hari Minggu Biasa XVI/A 19 Juli 2026: Menjadi Anugerah, Tanda Kerahiman Allah

Hari Minggu Biasa XVI/A 19 Juli 2026: Menjadi Anugerah, Tanda Kerahiman Allah

0
7 views
Berbuat baik
  • Keb. 12:13,16-19
  • Rom. 8:26-27
  • Mat. 13:24-30

DALAM perumpamaan tentang lalang di antara gandum, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni sikap tuan pemilik ladang. Ketika para hambanya hendak mencabut lalang, ia berkata:

“Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat. 13:29-30)

Sikap itu tampak mengherankan. Sang tuan lebih khawatir kalau gandum ikut tercabut daripada jika hasil panennya berkurang akibat persaingan dengan lalang. Padahal, secara logis, keberadaan lalang tentu menghambat pertumbuhan gandum karena berebut unsur hara dan ruang hidup.

Mengapa ia mengambil keputusan seperti itu?

Yesus sendiri menjelaskan makna perumpamaan tersebut. Penabur benih yang baik adalah Anak Manusia, ladang adalah dunia, benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan, sedangkan lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan lalang ialah Iblis, waktu menuai adalah akhir zaman, dan para penuai adalah para malaikat (bdk. Mat. 13:37-40).

Melalui penjelasan ini, Yesus hendak meneguhkan kita. Ia percaya kepada benih yang ditanam-Nya. Kita adalah anak-anak Kerajaan Allah. Karena itu, kita memiliki daya untuk bertumbuh dan menghasilkan buah, meskipun harus hidup di tengah berbagai tantangan. Lalang memang ada di sekitar kita, bahkan sering kali juga tumbuh di dalam hati kita sendiri. Namun, rahmat Allah jauh lebih kuat daripada kuasa kejahatan.

Lalu, apa yang perlu kita lakukan agar sungguh menjadi gandum yang tumbuh subur dan berbulir penuh? Ada sebuah kisah sederhana.

Suatu pagi, seorang pemuda berangkat bekerja dengan naik taksi. Begitu masuk ke mobil, ia menyapa sopir dengan ramah.

“Selamat pagi, Pak. Pagi yang cerah, ya?”

Ia tersenyum, bahkan bersenandung kecil sepanjang perjalanan. Keceriaannya menular kepada sang sopir.

Sesampainya di tempat tujuan, argo menunjukkan hampir Rp15.000. Pemuda itu membayar dengan uang Rp20.000.

“Kembaliannya buat Bapak saja. Selamat bekerja.”

Sopir itu tersenyum penuh syukur.

“Terimakasih. Wah, saya jadi bisa sarapan lebih enak pagi ini.”

Ia kemudian mampir ke warung langganannya.

“Seperti biasa, Pak?” tanya pemilik warung.

“Iya. Tapi hari ini tambah sepotong ayam.”

Sesudah makan, ketika membayar, ia memberikan tambahan Rp1.000.

“Ini buat jajan anaknya, Bu.”

Pagi itu anak si pemilik warung berangkat ke sekolah dengan wajah berseri. Ia membeli dua potong roti. Satu dimakannya sendiri, satu lagi diberikannya kepada teman yang tidak membawa bekal.

Kisah itu bisa terus berlanjut, bergulir seperti bola salju. Sebuah kebaikan kecil melahirkan kebaikan berikutnya. Satu senyum melahirkan senyum yang lain. Kebahagiaan, sama seperti kesedihan, dapat menular kepada banyak orang.

Pertanyaannya, kebahagiaan seperti apa yang kita tularkan hari ini?

Menerima adalah berkat. Namun memberi adalah anugerah.

Kita semua telah menerima begitu banyak berkat dari Allah. Kini kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama. Kita menjadi gandum yang berbuah ketika hidup kita menghadirkan sukacita, penghiburan, perhatian, dan kasih bagi orang lain. Kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.

Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan.

Jika kita dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, semuanya terjadi karena Allah lebih dahulu bersabar terhadap kita. Kita tetap memiliki kelemahan, dosa, dan berbagai “lalang” dalam hidup. Tidak selalu kita berhasil mengalahkan semuanya.

Syukurlah, Allah tidak pernah berhenti mengasihi orang berdosa. Ia tetap memberi kesempatan untuk bertobat dan bertumbuh.

Ada ungkapan yang sangat indah:

Hasrat Tuhan untuk mengampuni selalu lebih besar daripada hasrat manusia untuk berbuat dosa. Itulah kerahiman Allah.

Karena itu, jika hari ini kita dapat menjadi anugerah bagi sesama, sesungguhnya kita sedang membagikan kerahiman yang lebih dahulu kita terima dari Tuhan.

Semoga hidup kita menjadi tanda kesabaran, kasih, dan kerahiman Allah bagi siapa pun yang kita jumpai.

Amin.

Butir Permenungan

  • Biarkan kebaikan kecil mengalir. Mulailah dari senyum, sapaan, perhatian, atau bantuan sederhana yang dapat menular kepada banyak orang.
  • Belajarlah bersabar. Sebagaimana Allah sabar terhadap kita, demikian pula kita dipanggil untuk bersabar terhadap diri sendiri dan sesama.
  • Jadilah tanda kerahiman Allah. Hadirkan kasih yang memulihkan, bukan sikap yang menghakimi; menjadi penguat, bukan pelemah, bagi orang lain.

Hans JW
N2 – Bali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo