Hati Tahan Hempasan, Koronce yang Menjembatani

0
91 views
Memberi amal untuk para bikkhu di sebuah jalan di Kamboja by Mathias Hariyadi

KORONCE, korona cepat menyebar, memberi dampak positif. Seberapa besar atau kecil tidak tahu juga.

Yang penting ada pengaruh positifnya. Setelah beberapa kali sharing dengan saudara-saudara di jalan.

Semua pihak mengalami kerugian. Perekonomian mengalami krisis. Pihak yang menjadi perhatian khusus adalah mereka yang bekerja dengan modal kecil dan yang kehilangan pekerjaan.

Pemerintah sebagai pengayom masyarakat segera mengusahakan bantuan. Instansi-instansi swasta menjalin kerja sama menghimpun bantuan. Bahkan keluarga-keluarga saling berbagi.

Pihak kecil berhati besar

18.30 WIB, dadakan Bu Joni mencari bunga hidup untuk dirangkai guna doa keluarga. Sempat pesimis apakah masih ada toko bunga buka di daerahnya. Rasa pesimis tidak menghalangi Bu Joni mencari bunga.

Mencoba mungkin ada keajaiban dari Tuhan.

Berjajar toko bunga di sebelah kanan jalan raya. Beberapa sudah tutup dan beberapa sedang menyimpan dagangan mereka. Bu Joni memilih kios paling sudut karena pemilik masih mengerjakan bunga papan.

Pemilik kios melihat Bu Joni dan bergegas menyambut. Puji Tuhan, pemilik kios membantu mencarikan bunga dan tidak mau dibayar, setelah mengemas bunga potong dengan kertas koran.

Sempat terjadi cerita singkat antara pemilik kios dengan Bu Joni. Pemilik kios bunga menceritakan kalau malam lalu, dia diminta untuk membelikan 25 kepala ikan.

Pagi harinya dia mendapat pesanan bunga papan dalam jumlah banyak. “Alhamdullilah Bu… Allah memberi berlimpah-limpah.”

Usai mendapatkan bunga, Bu Joni ke toko roti. Juru parkir membantu Bu Joni mengemaskan bunga dan motor ke arah tujuan Bu Joni.

Bu Joni memberi uang jasa parkir lebih dari biasanya. Juru parkir terkejut dan mengucapkan terimakasih pada Bu Joni.

Sebagai bahan basa-basi, juru parkir bertanya harga bunga Bu Joni. Ia mengatakan, “Pak ini berkah. Kita saling berbagi berkah Pak.”

Juru parkir menundukkan kepala sambil kedua tangannya mengatup di depan dada.

Relasi antarmereka

Bu Joni, pemilik kios bunga dan juru parkir bukanlah pribadi-pribadi yang berada di jalur kemapanan. Mereka tetap bekerja setiap hari meski koronce semakin “melenggang” ada di tubuh orang.

Hasil yang semakin menurun membuat mereka tabah dan bersabar menjalani hidup. Sebaliknya keperluan keluarga semakin bertambah dan selalu saja ada yang harus dipenuhi.

“Hempasan” ekonomi yang membuat menderita tidak membuat kebaikan hati mereka kandas. Situasi yang menderita justru mendorong mereka semakin kuat berbagi kepada sesama.

Mereka tahu, penderitaan yang mereka alami dialami juga oleh orang lain. Tidak menutup kemungkinan ada yang mengalami lebih buruk dari mereka.

Rasa syukur yang mereka miliki sungguh terwujud dalam kenyataan hidup bukan sekedar status di media social atau dalam bahasa-bahasa yang tinggi.

Mereka yang sudah membuka hatinya bagi cinta Allah, mendengar suara-Nya dan menerima cahaya-Nya, tidak mampu menyimpan rahmat ini bagi dirinya sendiri (Ensiklik Lumen Fidei, III.37).

Inilah mereka, Bu Joni, pemilik kios dan juru parkir.

Apakah Anda tertarik juga memiliki hal serupa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here