Hidup di dunia Maya

0
338 views
Ilustrasi (Ist).

Sabtu, 20 Agustus 2022

  • Yeh. 43:1-7a.
  • Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14.
  • Mat. 23:1-12.

SETIAP orang punya banyak sisi. sebagian dari sisi diri kita tak mudah diwujudkan dalam dunia nyata.

Internet, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memberi kita cara untuk mewujudkan banyak hasrat yang selama ini hanya berupa potensi.

Melalui facebook, twitter, myspace, instagram, kita bisa menampilkan diri yang jauh berbeda dengan kenyataan kita sehari-hari.

Kita punya saluran untuk mengoceh apa saja tanpa perlu merasa malu, dan yang kita butuhkan adalah pribadi-cyber yang benar-benar berbeda dari pribadi kita di dunia nyata.

Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak dalam kemunafikan yang parah.

Di wall, kita tampilkan wajah kebijaksanaan, dan kata-kata penuh motivasi serta bermoral namun di inbox kita jejali dengan jerat rayu dan relasi yang kacau penuh nafsu.

“Saya tidak habis pikir bagaimana isteri saya yang begitu pendiam, dan rajin, bisa punya teman-teman pria yang tidak benar,” kata seorang bapak.

“Saya sangat kaget melihat isi percakapan di inbox isteri yang vulgar dan sangat manja serta mesra dengan pria lain,” paparnya.

“Dia mengaku tidak pernah bertemu dengan pria itu, namun bagiku sungguh menyakitkan,” lanjutnya.

“Isteriku tidak bisa membedakan lagi mana relasi yang sehat dan baik serta perselingkuhan imajiner,” ujarnya.

“Dia telah menikmati kehangatan dengan pria lain, dan bahkan sudah sangat tergantung dengan pria itu,” imbuhnya.

“Dia sengaja memasang foto diri 15 tahun yang lalu, atau foto hasil olahan photoshop yang membuat tampang menjadi lebih glowing, demi kepentingan menyenangkan pacar dunia mayanya,”urainya.

“Isteriku di ruang sosial nyata menjadi pribadi yang berbeda dengan jika ada di ruang sosial media,” ujarnya.

“Dia menjadi semacam-amfibi, hidup di dua dunia, dengan pribadi yang jauh berbeda,” keluhnya,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Yesus memperingatkan para murid dan kita juga agar ada kesatuan antara perkataan dan perbuatan.

Orang Farisi mengetahui hukum-hukum dengan benar tetapi tidak mempraktekannya.

Mereka juga tidak menggunakan pengetahuan mereka untuk mengurangi beban yang dibebankan pada orang-orang.

Mereka melakukan segala sesuatu hanya untuk mendapatkan pujian.

Mereka seperti memakai topeng untuk menutupi keburukan mereka sendiri.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku menjadi salah satu pribadi yang memakai topeng hidup ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here