Home BERITA Injil Minggu Paskah III/A 19 April 2026: Antara Yerusalem dan Emaus

Injil Minggu Paskah III/A 19 April 2026: Antara Yerusalem dan Emaus

0
215 views

ANTARA YERUSALEM DAN EMAUS


(Luk 24:13–35; Kis 2:14.22–33)

Rekan-rekan yang baik,

Injil Hari Minggu Paskah III/A ini (Luk 24:13–35) mengisahkan perjalanan dua orang murid ke Emaus, meninggalkan kota Yerusalem beserta peristiwa-peristiwa yang membuat harapan mereka tentang Yesus pudar. Namun, dalam perjalanan itu mereka juga memperoleh penjernihan dari seorang yang tak dikenal, yang tiba-tiba menyertai mereka.

Baru pada akhir perjalanan itu mereka mengenali siapa sesungguhnya Dia. Tetapi pada saat itu juga Ia lenyap dari pandangan mereka. Pengalaman berjumpa dengan-Nya memperkaya mereka. Karena itu, mereka pun segera kembali ke Yerusalem untuk mengabarkan pengalaman tersebut kepada para murid yang masih berkumpul di sana.

Pentingkah lokasi di mana itu Emaus?

Emaus disebut sebagai “dusun” yang letaknya kira-kira 11 km dari Yerusalem.

Lokasi ini kerap disamakan dengan Emaus yang disebut dalam 1 Mak 3:40–57; 4:3; 9:50. Di tempat itu, pada tahun 166 SM, terjadi kemenangan perlawanan Yudas Makabe terhadap kekuasaan asing.

Peristiwa ini menyuburkan harapan akan seorang Mesias yang akan membangun kembali kejayaan masa lampau—suatu bentuk mesianisme politik.

Harapan ini bahkan semakin kuat ketika gerakan keluarga Makabe dan para penerusnya mulai mundur dan akhirnya tertumpas. Angan-angan seperti ini masih tetap hidup pada zaman Yesus.

Banyak orang mengira Yesus adalah Mesias dalam arti tersebut. Bahkan beberapa murid terdekat-Nya pun berpandangan demikian.

Memang, secara resmi Yesus dihukum mati sebagai pemimpin gerakan politik.

Namun demikian, Emaus yang disebut dalam Kitab Makabe itu terletak sekitar 30 km di sebelah barat laut Yerusalem—terlalu jauh untuk perjalanan pulang-pergi dalam satu sore dan malam.

Lukas sendiri menyebut jaraknya hanya sekitar 11 km dari Yerusalem.

Karena itu, jelas yang dimaksud bukan Emaus tempat kemenangan Yudas Makabe dua abad sebelumnya. Beberapa lokasi lain pernah diusulkan, tetapi tidak ada yang dapat dipastikan.

Kemungkinan besar Lukas memang tidak bermaksud menunjuk lokasi geografis tertentu.

Nama Emaus dipakai untuk membangkitkan asosiasi antara harapan mesianisme politik yang dahulu berkembang dan kenyataan kini: harapan itu runtuh karena Yesus telah dihukum mati dan disalibkan (ay. 19–21).

Perbedaan jarak (11 km vs. 30 km) tampaknya disengaja, agar pembaca tidak memahami Emaus secara geografis, melainkan sebagai perjalanan batin.

Perjalanan ini adalah proses menyadari distorsi dalam pemahaman tentang siapa Yesus.

Yesus yang bangkit menjumpai murid-murid-Nya dan meluruskan gagasan mereka. Sebab angan-angan keliru tentang-Nya hanya membawa kemuraman.

Dua orang murid

Hanya satu dari kedua murid disebutkan namanya, yaitu Kleopas (Luk 24:18).

Mengapa?

Ini adalah cara Lukas mengajak pembaca masuk ke dalam kisah. Pembaca seakan menjadi murid yang tidak disebutkan namanya itu.

Dengan demikian, pembaca ikut disapa oleh musafir yang tiba-tiba menyertai perjalanan mereka ke Emaus (ay. 17): “Apa yang sedang kalian percakapkan?”

Pertanyaan ini membuat kedua murid terhenyak. Mereka menyadari bahwa mereka sedang berjalan menuju harapan yang berakhir dengan kekecewaan. Wajah mereka pun muram.

Kleopas kemudian bertanya (ay. 18) apakah orang itu satu-satunya peziarah di Yerusalem yang tidak tahu apa yang terjadi.

Pembaca yang mengidentifikasi diri dengan murid yang tidak disebutkan namanya itu dapat ikut terlibat dalam percakapan tersebut.

Mungkin reaksinya berbeda—bisa diam, bisa bertanya dalam hati: siapakah orang ini?

Musafir itu justru bertanya lebih jauh. Maka mereka pun mulai bercerita tentang Yesus dari Nazaret. Dengan cara ini, Lukas mengajak pembaca masuk dalam refleksi tentang siapa Yesus itu.

Injil mempertemukan pembaca dengan Sang Musafir itu sendiri.

Karena itu, pembaca diajak mengikuti kisah ini sampai tuntas, tanpa tergesa-gesa menarik moral.

Ini adalah kesempatan langka untuk mengalami kisah dari dalam.

Bagaimana penerapannya?

Kita masing-masing diajak menceritakan pengalaman kita tentang Yesus kepada-Nya sendiri. Ia menyertai perjalanan hidup kita—termasuk dalam kekecewaan yang sering berasal dari gambaran keliru tentang harapan kita.

Ia juga mendengarkan keraguan kita, seperti Ia mendengarkan kedua murid yang meragukan kesaksian para perempuan (ay. 22–24).

Dikawani Dia yang telah bangkit

Musafir itu menanggapi kisah mereka dengan berkata (Luk 24:25):
“Hai kamu orang bodoh dan lamban pikiran.”

Dalam bahasa kita, ini terdengar sebagai celaan. Namun, dalam tradisi diskusi para cendekia zaman itu, ungkapan seperti ini merupakan ajakan untuk berpikir ulang secara lebih mendalam.

Ia kemudian merujuk pada nubuat tentang penderitaan Mesias sebagai jalan menuju kemuliaan. Ini mengingatkan pada tiga kali pemberitaan sengsara oleh Yesus (Luk 9:22; 9:43–45; 18:31–34).

Para murid memang tidak memahami—mengapa Mesias harus menderita dan mati untuk mencapai kemuliaan?

Perjalanan ke Emaus menjadi proses penjernihan pemahaman. Kedua murid diajak mengingat kembali semua yang pernah mereka dengar, tetapi kini dengan pikiran yang bebas dari agenda tersembunyi.

Mereka diajak kembali kepada sumber iman sejati: Kitab Suci (ay. 27). Demikian pula kita diajak berdialog dengan Sabda Tuhan dan membiarkan diri diperkaya oleh-Nya.

Dalam ayat 32 dikatakan: “Hati kita berkobar-kobar.”

“Kobar-kobar” melambangkan terang yang menerangi dan api yang memurnikan. Pikiran mereka yang gelap menjadi terang; yang kacau menjadi murni.

Mata mereka pun terbuka (Luk 24:31), dan mereka menyadari bahwa Yesus menyertai mereka. Mereka segera kembali ke Yerusalem untuk membagikan pengalaman itu.

Mengenali-Nya

Di Emaus, “ketika Ia memecah-mecahkan roti”, kedua murid akhirnya mengenali-Nya. Mereka menyadari bahwa Ia adalah pribadi yang sama yang dalam Perjamuan Malam (Luk 22:16, 18) berkata bahwa Ia tidak akan makan dan minum lagi sampai Kerajaan Allah datang.

Kini mereka mengalami bahwa Yang Ilahi sungguh hadir di tengah manusia.

Artinya, mereka yang percaya pada kebangkitan Yesus juga percaya akan kehadiran-Nya dalam hidup mereka. Kehadiran ini memberi harapan dan wajah baru bagi kemanusiaan.

Yang diminta dari kita adalah membiarkan kehadiran-Nya makin nyata—membawa harapan bagi banyak orang.

Ketika kedua murid itu menyadari siapa Dia, Yesus justru lenyap. Kehadiran-Nya tidak dapat dimiliki secara eksklusif. Namun yang tinggal adalah kebijaksanaan dan kekuatan baru.

Mereka kembali ke Yerusalem dengan hati yang menyala dan membawa kabar gembira kepada sesama.

Perjumpaan dengan Dia yang bangkit bukanlah pengalaman yang tertutup, melainkan daya yang mengalir keluar dan menyentuh banyak orang.

Bacaan Pertama (Kis 2:14.22–33) menyampaikan khotbah Petrus pada Hari Pentakosta. Ia menegaskan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari Nazaret dan menjadikan-Nya Kristus. Maut tidak berkuasa atas-Nya.

Petrus juga menunjukkan bahwa hal ini telah dinubuatkan oleh Daud. Maka kebangkitan Kristus bukanlah gagasan para murid semata.

Kristus kini membagikan Roh Kudus kepada para pengikut-Nya—itulah sumber kekuatan mereka.

Apa relevansinya bagi kita sekarang?

Kebangkitan Kristus mengubah kehidupan manusia: dari dikuasai maut menjadi hidup yang merdeka.

Orang-orang beriman dipanggil untuk menjadi saksi:

  • melalui kata-kata yang menguatkan.
  • melalui tindakan yang mengangkat martabat manusia.

Inilah karya Roh Kudus.

Salam hangat,
A. Gianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo